-
Kemlu RI memastikan tidak ada WNI menjadi korban banjir bandang di perbatasan China-Nepal.
-
KBRI Dhaka dan Beijing terus memantau keberadaan 45 WNI serta para pendaki Indonesia.
-
Banjir bandang dahsyat akibat luapan Sungai Bhotekoshi menewaskan ratusan orang serta merusak fasilitas.
Suara.com - Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memastikan seluruh warga negara Indonesia WNI di Nepal dan Tibet selamat dari banjir bandang dahsyat. Pemerintah memverifikasi tidak ada WNI yang menjadi korban jiwa maupun dinyatakan hilang dalam musibah tersebut.
Penelusuran ketat langsung berjalan melalui koordinasi intensif antara KBRI Dhaka, KBRI Beijing, serta Konsul Kehormatan RI di Kathmandu. Jalur komunikasi cepat ini memastikan keselamatan puluhan WNI yang menetap maupun wisatawan pendaki di sana.
Strategi proaktif pemerintah berfokus pada pelacakan real-time agen perjalanan untuk memastikan pergerakan turis Indonesia di area risiko tinggi. Langkah pencegahan ini meminimalisasi ancaman bahaya bagi pendaki yang sedang melintasi jalur pegunungan terisolasi.
“Hingga saat ini, berdasarkan pemantauan dan komunikasi dengan pihak terkait, belum terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak,” ucap Heni merespons pertanyaan ANTARA secara tertulis di Jakarta, Kamis.
Diplomat RI menaruh perhatian paling intensif pada aktivitas turis Indonesia yang sedang melakoni agenda pendakian ekstrem. Medan pegunungan yang rawan longsor susulan menjadi alasan utama pengetatan pengawasan ke jalur pendakian.
Bagaimana Langkah KBRI Melindungi WNI di Area Bencana?
KBRI Dhaka mendesak seluruh penyedia jasa tur agar memberikan data detail posisi rombongan pendaki asal Indonesia secara berkala. Transparansi rute pergerakan wisatawan mempercepat proses evakuasi jika situasi darurat memburuk sewaktu-waktu.
“KBRI Beijing dan KBRI Dhaka akan terus memantau perkembangan situasi dan menjaga komunikasi dengan komunitas WNI,” ucap Direktur PWNI Kemlu RI.
Catatan resmi pemerintah menunjukkan 45 WNI menetap di Nepal dan mayoritas bekerja pada industri perhotelan Kathmandu. Pemukiman mereka berada jauh dari titik pusat luapan air sungai yang menghancurkan infrastruktur utama.
Perwakilan RI merilis imbauan resmi agar seluruh WNI menjauhi kawasan rawan serta mematuhi instruksi evakuasi otoritas setempat. Warga diminta tidak memantau kabar simpang siur dan selalu merujuk pada saluran informasi resmi pemerintah.
Bagi WNI yang membutuhkan bantuan darurat di Nepal, KBRI Dhaka menyediakan layanan hotline khusus pada nomor +880 161-4444-552. Sementara itu, WNI di wilayah China dapat segera menghubungi hotline KBRI Beijing melalui nomor +8618610455488.
Apa Penyebab Utama Kerusakan Parah di Perbatasan China-Nepal?
Bencana alam ini berawal dari luapan Sungai Bhotekoshi di Rasuwa yang mendadak berubah menjadi banjir bandang mematikan. Gelombang air deras merubuhkan puluhan rumah warga, merusak fasilitas umum, hingga melumpuhkan pembangkit listrik tenaga air.
Dampak banjir meluas hingga ke Shigatse, wilayah otonom Tibet, akibat tingginya intensitas aliran sungai dari arah China. Tanah longsor berlumpur menerjang permukiman di Shigatse dan menyebabkan kehancuran material yang cukup parah.
Laporan Kyodo mencatat angka kematian akibat bencana meluapnya sungai perbatasan ini telah melonjak hingga 160 jiwa. Petugas penyelamat masih terus menyisir lokasi untuk menemukan ratusan korban lain yang dilaporkan hilang.
Data Otoritas Nepal mengungkap 290 dari total 384 korban hilang merupakan wisatawan mancanegara dari berbagai negara. Para turis asing tersebut mayoritas berasal dari India, Malaysia, Jepang, Inggris, hingga Amerika Serikat.
Kantor berita Xinhua mengonfirmasi tiga orang tewas dan 265 warga hilang akibat terjangan lumpur di wilayah Shigatse. Tim SAR gabungan terus bergerak menembus material longsor untuk mencari penyintas banjir bandang tersebut.