-
Banjir bandang akibat runtuhnya gletser di Himalaya menewaskan lebih dari 470 orang.
-
Ancaman jebolnya danau buatan memicu penghentian sementara operasi evakuasi di wilayah perbatasan.
-
Nepal mengoptimalkan personel keamanan domestik dan memprioritaskan bantuan finansial untuk pemulihan pascabencana.
Suara.com - Jumlah kematian akibat banjir bandang di perbatasan Nepal dan kawasan Tibet meroket melewati 470 jiwa di tengah ancaman bencana susulan. Krisis kemanusiaan ini kian mengkhawatirkan setelah material banjir membendung aliran sungai dan membentuk danau buatan berpotensi jebol.
Kantor Perdana Menteri Nepal mengonfirmasi sebanyak 469 warganya tewas dan 977 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Sementara itu, otoritas China mencatat sedikitnya tiga warga tewas serta 558 orang belum ditemukan di wilayah Tibet.
Pemerintah Nepal mengidentifikasi 644 warga asing masuk dalam daftar korban hilang di lokasi terdampak. Hingga saat ini, tim gabungan baru berhasil menyelamatkan sekitar 1.550 penyintas dari berbagai titik bahaya.

Tragedi bermula dari runtuhnya gletser raksasa yang menerjang lembah sungai Himalaya dengan endapan es, batu, serta lumpur tebal. Lupan material tersebut seketika mengubur pemukiman warga dan memutus infrastruktur transportasi hingga pembangkit listrik.
Akses darat menuju kawasan bencana lumpuh total akibat kerusakan parah di jalur utama transportasi. Presiden Nepal Centre for Disaster Management, Bishal Nath Upreti, menegaskan bahwa kondisi korban yang terisolasi berada dalam tingkat darurat tinggi.
“Hampir 42 km [26 mil] jalan hancur total, dan selain helikopter, tim penyelamat tidak bisa pergi ke sana,” ujar Bishal Nath Upreti.
Petugas memanfaatkan transportasi udara serta jalur darat darurat untuk mengevakuasi ratusan warga yang terjebak. Bishal menjelaskan bahwa pengiriman bantuan logistik terus diupayakan lewat udara agar mencapai wilayah yang terisolasi.
“Mereka sangat putus asa sekarang. Ini sudah lebih dari 72 jam sekarang dan orang-orang sangat membutuhkan … tempat berlindung dan makanan,” kata Bishal Nath Upreti.
Bagaimana Kondisi Operasi Penyelamatan di Area Bencana?
Nepal menerjunkan 30.000 personel keamanan untuk menyisir lembah-lembah terpencil yang belum terjangkau. Jumlah korban hilang diproyeksikan terus meningkat seiring meluasnya area pencarian.
Pemerintah China mengutus Perdana Menteri Li Qiang beserta 500 personel militer dan paramiliter ke area terdampak. Jurnalis Al Jazeera di Beijing, Katrina Yu, menggarisbawahi langkah tak biasa dari pemerintah China tersebut.
“Hal itu sangat, sangat langka dan benar-benar memberi kita gambaran betapa mendesak dan betapa prioritanya operasi ini,” kata Katrina Yu.
Fokus penyelamatan kini terpecah oleh bahaya sekunder dari danau bendungan alami di perbatasan kedua negara. Kedua pemerintah mengeluarkan peringatan dini terkait struktur bendungan debris yang sangat labil.
Otoritas China memperkirakan danau tersebut memuat 2 juta meter kubik air dan berpotensi bertambah 3 juta meter kubik lagi. Kondisi ini meningkatkan risiko bahaya bagi tim SAR yang sedang bertugas di lapangan.
Operasi evakuasi di Pelabuhan Gyirong terpaksa dihentikan sementara demi keselamatan para petugas. Wilayah perbatasan tersebut saat ini tertimbun lumpur pekat dengan kedalaman mencapai 1,5 meter.
“Ini juga menimbulkan semacam jam detik yang mengkhawatirkan,” ujar Katrina Yu.
Mengapa Nepal Belum Menerima Bantuan Penyelamatan Internasional?
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Nepal, Lok Bahadur Chhetri, menegaskan kapasitas internal negara dalam menangani evakuasi awal. Pihaknya memutuskan untuk mengoptimalkan potensi aparat keamanan nasional yang ada.
“Tawaran bantuan itu wajar. Lembaga keamanan kami sedang melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. Untuk saat ini kami belum memerlukan bantuan seperti itu,” kata Lok Bahadur Chhetri.
Jurnalis Al Jazeera di Kathmandu, Minelle Fernandez, menyebut Nepal lebih mengarahkan skema dukungan pada pemulihan ekonomi pascabencana. Pemerintah lokal membuka ruang untuk bantuan finansial guna menopang proses rekonstruksi.
Kerumunan warga mulai memadati kawasan Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tribhuvan untuk mencari keberadaan kerabat mereka. Keluarga korban terus menunggu kepastian informasi mengenai nasib anggota keluarga yang hilang.
“Semua orang berjuang untuk mendapatkan jawaban, menunggu secercah harapan, dan saat ini hal itu sulit didapatkan,” kata Minelle Fernandez.
Bencana luapan air ini menjadi salah satu krisis lingkungan terparah di kawasan Himalaya dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan struktur geologis akibat peleburan gletser meningkatkan kerentanan wilayah perbatasan Nepal dan China terhadap risiko banjir susulan.