- Orang utan jantan bernama Sampurna mati di Ketapang pada 1 September 2026 akibat gangguan pernapasan dan karhutla.
- Pakar UGM menyatakan angka kematian satwa liar di Kalimantan jauh lebih besar daripada data resmi pemerintah.
- Karhutla merusak habitat alami dan memicu paparan asap beracun yang mengancam keselamatan hidup satwa liar.
Suara.com - Angka kematian satwa liar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan diyakini jauh lebih besar dibandingkan data resmi yang selama ini berhasil dicatat oleh pemerintah maupun lembaga terkait.
Terbaru ada orang utan jantan bernama Sampurna yang sempat ditemukan lemas dan mengalami gangguan pernapasan di kawasan perkebunan kelapa sawit, Ketapang, Kalimantan Barat, beberapa waktu lalu akhirnya mati pada Selasa (1/9/2026).
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada, Raden Wisnu Nurcahyo menilai bahwa evakuasi dan pencatatan korban selama ini memiliki keterbatasan akses yang nyata di lapangan.
"Pencatatan korban orang utan karena kebakaran ini kan hanya mencakup individu yang kebetulan ditemukan atau berhasil dievakuasi, bisa jadi jumlahnya mungkin lebih banyak lagi," kata Wisnu, Jumat (4/9/2026).
Fenomena ini terbukti dari temuan-temuan di lapangan yang hanya mengandalkan faktor kebetulan. Sebagian besar satwa yang terdata umumnya merupakan individu yang terdesak keluar hingga ke pinggir jalan, area perkebunan kelapa sawit, atau dekat permukiman warga sehingga mudah terdeteksi oleh tim penyelamat.
Sementara itu, satwa yang terjebak di zona inti hutan yang terbakar mustahil bisa terpantau apalagi dievakuasi tepat waktu.
Kematian Sampurna hanyalah segelintir contoh dari ancaman mematikan yang diakibatkan oleh karhutla terhadap satwa liar di habitat aslinya.
Amukan api tidak hanya menghancurkan vegetasi yang menjadi sumber pangan dan tempat berlindung. Lebih dari itu secara langsung mengancam kesehatan hingga merenggut nyawa satwa secara perlahan dan menyiksa.
"Kebakaran itu kan mengacaukan pohon, tanaman, sementara tanaman itu sumber pakan, dan pohon-pohon itu tempat bersarangnya mereka (orangutan)," ujarnya.
Kerusakan habitat yang masif tersebut memaksa orang utan mengubah jalur pergerakan alami atau home range mereka. Pohon-pohon tempat bergelantungan yang hangus terbakar mendorong satwa primata ini turun ke permukaan tanah.
Mereka lantas mendekati area aktivitas manusia demi mencari pakan, yang pada akhirnya memicu risiko kelaparan, dehidrasi, luka bakar, hingga konflik mematikan.
"Karhutla ini memaksa orang utan turun ke tanah karena tempat mereka bergelantungan (pohon-pohon) habis terbakar. Kadang-kadang karena sumber pakan tidak ada, ya dia mencari makanan di dekat pemukiman atau kebun warga," ungkapnya.
Tidak hanya bahaya fisik dari kobaran api, paparan asap hasil pembakaran hutan dan gambut yang sarat akan karbon monoksida serta senyawa toksik menjadi pembunuh senyap bagi satwa liar.
Hirupan udara beracun tersebut merusak organ pernapasan, menyebabkan bronkitis, hingga memicu hipoksia atau kondisi kritis kekurangan oksigen dalam tubuh.
"Kalau kita menghirup udara yang kualitasnya buruk, ya ini bisa berdampak pada gangguan pernapasan. Gangguan pernapasan inilah yang kemudian dapat membuat kita lemas, muntah, kesadaran terganggu hingga akhirnya pingsan. Pingsan kalau dibiarkan terus, ya bisa mati," tandasnya.