- Sebanyak 14 wilayah di Malaysia mencatat kualitas udara tidak sehat akibat kabut asap karhutla Kalimantan pada Jumat (11/9/2026).
- Sarawak menjadi wilayah paling terdampak dengan 11 daerah, di mana Serian mencatat indeks pencemaran udara tertinggi mencapai 197.
- Pemerintah Malaysia menyatakan belum menerima konfirmasi dari Indonesia terkait penawaran bantuan aset pemadaman kebakaran hutan lintas batas.
Suara.com - Kabut asap akibat karhutla Kalimantan masih mengganggu kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia.
Sebanyak 14 wilayah Malaysia mencatat Indeks Pencemaran Udara (API) pada kategori tidak sehat hingga pukul 09.00 waktu setempat, Jumat (11/9/2026).
Sarawak menjadi wilayah dengan kondisi paling terdampak.
Dari total 14 wilayah yang mencatat kualitas udara tidak sehat, 11 di antaranya berada di negara bagian tersebut.
Berdasarkan data Sistem Pengelolaan Indeks Pencemaran Udara Malaysia dikutip dari Malaymail, IPD Serian mencatat API tertinggi di negara itu, yakni 197.
Angka tersebut tercatat pada pukul 09.00 dan nyaris menyentuh batas atas kategori tidak sehat.
![Relawan pemadam kebakaran berupaya memadamkan api yang membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/10/13445-karhutla-di-palangka-raya-ilustrasi-karhutla-kebakaran-hutan-dan-lahan.jpg)
Sejumlah wilayah lain di Sarawak juga mencatat angka tinggi. Kuching berada di angka 181, Samarahan 179, Sri Aman 172, sedangkan Sarikei mencapai 163.
Berikutnya, Samalaju mencatat API 161, Sibu 157, Mukah 155, Bintulu 153, serta Miri dan ILP Miri masing-masing berada di angka 147.
Di luar Sarawak, kualitas udara tidak sehat juga terdeteksi di sejumlah wilayah lain.
Politeknik Kota Kinabalu, Sabah, mencatat API 150, disusul Pasir Gudang, Johor, dengan angka 109 dan Wilayah Persekutuan Labuan sebesar 103.
Secara nasional, 49 wilayah lainnya berada dalam kategori kualitas udara sedang.
Sementara itu, hanya lima wilayah yang mencatat kualitas udara dalam kategori baik.
Dalam sistem API Malaysia, angka 0–50 dikategorikan baik, 51–100 sedang, dan 101–200 tidak sehat.
Level 201–300 masuk kategori sangat tidak sehat, sedangkan angka 301 ke atas dikategorikan berbahaya.
Dengan API 197, Serian menjadi wilayah yang paling mendekati batas kategori sangat tidak sehat pada Jumat pagi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kabut asap masih menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah Malaysia, khususnya Sarawak.
Sebelumnya, Malaysia masih menunggu konfirmasi dari pemerintah Indonesia terkait penggunaan aset Malaysia untuk membantu menangani kebakaran hutan yang memicu kabut asap lintas batas.
Menteri Komunikasi sekaligus juru bicara pemerintah Malaysia, Fahmi Fadzil, mengatakan daftar aset yang dapat dikerahkan untuk membantu Indonesia telah disampaikan kepada pihak terkait.
“Badan Nasional Pengelolaan Bencana (Nadma) dan Kementerian Luar Negeri (Wisma Putra) telah menyampaikan kepada Kabinet bahwa daftar aset yang mampu kita sediakan untuk membantu negara tetangga telah disampaikan,” kata Fahmi dalam konferensi pers setelah rapat Kabinet dinukil dari Free Malaysia Today.
“Namun hingga sekarang, belum ada konfirmasi mengenai bentuk kerja sama apa pun untuk menggunakan aset dari Malaysia guna membantu memadamkan kebakaran dan sebagainya,” lanjutnya.