- Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni memotivasi mahasiswa UI saat RDPU RUU Perampasan Aset di Senayan, Jakarta, Senin (26/10/2026).
- Sahroni mengapresiasi mahasiswa yang bercita-cita menjadi presiden serta menekankan pentingnya memiliki pola pikir kritis dan cerdas.
- Ia menegaskan bahwa ijazah asli tetap diperlukan, tetapi kecerdasan dalam berpikir adalah faktor utama penentu kesuksesan seseorang.
Suara.com - Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni berkelakar ketika menyampaikan motivasi kepada sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia (UI) untuk tetap optimis dan terus berpikir positif dalam kondisi apa pun, meskipun nilai yang tertera di dalam ijazah kurang memuaskan.
Namun kelakar lalu disampaikan saat dirinya mengingatkan agar tidak ada yang menggunakan ijazah palsu.
Hal tersebut disampaikan Sahroni saat memimpin Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang membahas Rencana Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Awalnya momen ini bermula kala Sahroni melemparkan pertanyaan kepada para mahasiswa mengenai cita-cita atau mimpi mereka.
Salah seorang mahasiswa menjawab dengan tegas, bahwa dirinya berkeinginan untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia atau menjadi seorang Presiden.
"Saya mau jadi presiden, pimpinan," kata salah satu mahasiswa.
Merespons hal tersebut, Sahroni mengapresiasi keberanian mahasiswa tersebut.
Namun, ia menekankan pentingnya mengasah kecerdasan dan pola pikir kritis di segala situasi.
"Tapi prinsip smart kita berpikir kapanpun dan di manapun, kalian harus punya itu," kata Sahroni.
Lebih lanjut, politikus Partai NasDem ini mengungkapkan bahwa lembar ijazah bukanlah penentu utama kesuksesan seseorang, meski keabsahannya tetap mutlak diperlukan.
"Ijazah tidak jadi level utama, tapi ijazah perlu, jangan sampai ada ijazah palsu," pungkas Sahroni.
Ditemui awak media usai RDPU tersebut, Sahroni mengaku jika dirinya hanya ingin memotivasi para mahasiswa saja.
"Tadi saya memberikan motivasi kepada teman-teman, bukan hanya sebatas pintar dalam ijazah, tapi smart dalam berpikir. Jangan sampai hanya pintar di ijazah, tapi tidak smart, dan jangan sampai ada ijazah palsu. Itu aja tadi yang disampaikan, ya," katanya.