Pengadaan Fregat Fincantieri yang Terencana Menjamin Kesiapan Operasional Kapal Perang RI

Beni Sukadis | Konsultan senior di Marapi Consulting & Advisory, Jakarta.

Pengadaan Fregat Fincantieri yang Terencana Menjamin Kesiapan Operasional Kapal Perang RI
Konsultan senior di Marapi Consulting & Advisory, Jakarta, Beni Sukadis. (Suara.com/dok. pribadi)
  • Indonesia mengerahkan tiga kapal perang, termasuk dua unit fregat PPA buatan Italia, dalam ASEAN Summit di Filipina pertengahan Mei.
  • Pengerahan armada modern tersebut bertujuan memproyeksikan kekuatan maritim Indonesia di tengah ketegangan geopolitik dan konflik Laut Cina Selatan.
  • Pemerintah perlu segera melengkapi sistem persenjataan dan amunisi pada kedua kapal fregat tersebut untuk menjamin kesiapan operasional pertahanan negara.

Suara.com - Pengerahan tiga kapal perang RI ke Filipina dalam ASEAN Summit di Cebu, pertengahan Mei lalu, menjadi sinyal strategis yang cukup mengejutkan di Asia Tenggara.

Indonesia tidak hanya mengirim fregat andal KRI R.E. Martadinata-331, tetapi juga mengirimkan dua kapal perang baru asal Italia, yakni multipurpose combat ship KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, yang baru saja memperkuat armada TNI AL.

Langkah ini menunjukkan bahwa Jakarta mulai memproyeksikan kekuatan maritim moderennya secara lebih terbuka di Asia Tenggara, terutama di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik dan kontestasi Laut Cina Selatan.

Seperti diketahui kondisi geopolitik dunia makin tidak menentu terlihat di wilayah Asia Pasifik terutama di Laut Cina Selatan, Selat Taiwan dan semenanjung Korea, sedangkan di Eropa Timur perang antara Rusia-Ukrainia belum mereda, serta saat inipun di Timur-Tengah terjadi perang AS/Israel-Iran sejak Februari 2026 walaupun sedang gencatan senjata.

Saat ini Indonesia memiliki kurang lebih 170 kapal perang (KRI) yang termasuk dalam armada TNI AL dan sebagian besar sudah memasuki usia tua.

Semenjak Prabowo Subianto menjadi Menteri Pertahanan saat periode ke dua pemerintahan Joko WIdodo, dia memiliki ambisi yang besar dalam melakukan akuisisi senjata dalam menambah kekuatan armada TNI AL dan memperkuat pesawat TNI AU.

Saat Prabowo Subianto menjadi Presiden RI 2024-2029, maka program modernisasi militer tersebut terus berlanjut hingga kini.
Sejak September 2025, Indonesia kedatangan Fregat tipe offshore patrol vessel dan dikenal sebagai Pattugliatore Polivante d’Altura (PPA) yakni KRI Brawijaya-320 buatan Fincantieri.

Kemudian, sejak akhir Maret 2026 TNI AL telah mendatangkan kapal fregat kedua KRI Prabu Siliwangi-321 yang diserahkan Fincantieri, pada Desember 2025. Pembelian 2 kapal fregat terbesar tipe PPA yang dimiliki Indonesia ini diproyeksikan dapat memperkuat Armada 2 (Tengah) TNI AL dalam meningkatkan modernisasi militer, karena kapal ini termasuk tercanggih dikelasnya.

Bahkan diketahui Italia baru memproduksi 6 kapal tipe yang sama untuk Angkatan Laut nya.

Spesifikasi kapal Frigat KRI Prabu Siliwangi-321 dan KRI Brawijaya-320 yaitu kedua kapal memiliki panjang 143 meter, lebar 16,5 meter, dan dapat berlayar dengan kecepatan maksimum 32 knots dengan pendorongan kombinasi diesel, listrik, dan gas turbin.

Selain itu, kapal buatan Italia ini nantinya akan dilengkapi dengan senjata, yaitu Surface to air missile (SAM) 16 VL Sistem, SSM: 8 Teseo Mk-2E, Meriam 127 mm, Meriam 76 mm, dan torpedo anti kapal selam. Untuk kapal di kelas ini dapat dikatakan sistem senjata cukup mumpuni.

Upaya pembelian kapal fregat Italia ini patut diapresiasi untuk menggantikan armada TNI AL yang telah tua atau sebagian besar berumur lebih dari 30 tahun.

Maka setiap rencana pembelian untuk perlengkapan kapal fregat dikelasnya perlu dipikirkan secara lebih matang dan kontinuitas termasuk sistem persenjataan dan amunisi atau dikenal Integrated Logistic Support (ILS).

(dari kiri ke kanan) KRI Ahmad Yani (351), KRI Yos Sudarso (353), KRI Oswald Siahaan (354) dan KRI Abdul Halim Perdanakusuma (355) mengikuti Sailing Pass di perairaan Teluk Jakarta, Kamis (2/10/2025). [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/agr]
(dari kiri ke kanan) KRI Ahmad Yani (351), KRI Yos Sudarso (353), KRI Oswald Siahaan (354) dan KRI Abdul Halim Perdanakusuma (355) mengikuti Sailing Pass di perairaan Teluk Jakarta, Kamis (2/10/2025). [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A]

Terutama ketika warranty period alutsista ini (fregat) yang dalam 2 tahun akan habis, seharusnya Indonesia mengalokasikan anggaran untuk sistem persenjataan, munisi dan suku cadang secara utuh. Hal ini untuk menjamin kesiapan operasional bagi kapal-kapal fregat dalam menghadapi lingkungan strategis yang tidak menentu ini.

Karena melalui pembelian yang konsisten dan terencana dalam memperkuat fregat tersebut menjadi esensial dalam peningkatan deterrent bagi ancaman nasional dari eksternal yaitu aktor negara dan non-negara.

Seperti diketahui belakangan ini ketegangan di Laut Cina Selatan antara Philipina dan Cina dan di Selat Taiwan menjadi semakin mengkuatirkan. Walaupun Indonesia bukan Negara yang berkonflik di LCS, namun untuk melindungi kepentingan nasional maka kesiapan operasional kapal fregat PPA menjadi tidak bisa ditawar lagi.

Saat ini kedua kapal tersebut belum dilengkapi dengan senjata rudal (misil) dan amunisi lengkap, sehingga pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan dan TNI AL seharusnya segera mempersiapkan rencana dan anggaran pembelian rudal dan amunisi meriam fregat tersebut.

Tanpa rudal dan munisi yang lengkap, kapal fregat ini seperti harimau tanpa taringnya atau mengurangi kapabilitas operasional dalam mengatasi ancaman dari berbagai aktor negara dan non-negara.

Perencanaan alat sistem persenjataan yang sistematik, dan berkelanjutan dalam hal pemeliharaan kapal perang, ketersediaan suku cadang, maupun munisi menjadi sesuatu yang tidak terelakkan dalam menghadapi kegentingan situasi apakah di kawasan Laut Cina selatan, Selat Malaka atau wilayah lainnya di masa depan.

Oleh karena itu, kalangan parlemen (DPR), masyarakat sipil dan pemerintah harus saling mengingatkan soal kesiapan operasional kapal fregat PPA khususnya kesiapan sistem persenjataan dan amunisinya.

Terutama saat ini belum bisa digunakan secara optimal dalam aspek operasional maupun detterent, apalagi jika terjadi konflik (insiden) yang memerlukan kehadiran kapal jenis frigat secara cepat dalam mengantisipasi situasi geopolitik yang tidak menentu

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bombardir Bandar Abbas, AS Klaim Serangan ke 2 Kapal Iran Tak Langgar Gencatan Senjata

Bombardir Bandar Abbas, AS Klaim Serangan ke 2 Kapal Iran Tak Langgar Gencatan Senjata

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 11:55 WIB

Ini Dia KRI Canopus-936, Kapal Canggih Pemetaan Laut dari Jerman

Ini Dia KRI Canopus-936, Kapal Canggih Pemetaan Laut dari Jerman

Foto | Senin, 11 Mei 2026 | 18:07 WIB

Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran

Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran

News | Senin, 04 Mei 2026 | 18:30 WIB

Kapal Perang Siluman AS Senilai Rp392 Triliun Terbakar, 3 Pelaut Jadi Korban

Kapal Perang Siluman AS Senilai Rp392 Triliun Terbakar, 3 Pelaut Jadi Korban

News | Kamis, 23 April 2026 | 13:42 WIB

Terkini

Persib, Ekstase Kecil di Zaman yang Tak Mudah

Persib, Ekstase Kecil di Zaman yang Tak Mudah

Opini | Minggu, 24 Mei 2026 | 12:25 WIB

Bola Ada di Tangan BPOM: Saatnya Wajibkan Label Peringatan Gula

Bola Ada di Tangan BPOM: Saatnya Wajibkan Label Peringatan Gula

Opini | Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:44 WIB

Prabowo Sedang Gali Kubur Kapitalisme, Tapi Dihalangi 'Musuh dalam Selimut'

Prabowo Sedang Gali Kubur Kapitalisme, Tapi Dihalangi 'Musuh dalam Selimut'

Opini | Jum'at, 22 Mei 2026 | 16:30 WIB

Kemlu RI Perlu Belajar dari Penculikan Relawan WNI oleh Israel

Kemlu RI Perlu Belajar dari Penculikan Relawan WNI oleh Israel

Opini | Jum'at, 22 Mei 2026 | 14:00 WIB

Membaca Ketakutan The Economist terhadap Prabowo

Membaca Ketakutan The Economist terhadap Prabowo

Opini | Senin, 18 Mei 2026 | 11:27 WIB

Tak Ada Cara Lain Pemulihan Ekonomi: Tumbuhkan Trust dan Reschedule Utang

Tak Ada Cara Lain Pemulihan Ekonomi: Tumbuhkan Trust dan Reschedule Utang

Opini | Rabu, 13 Mei 2026 | 13:11 WIB

Komcad dalam Paradigma Baru SDM: dari Meja Kantor ke Garis Pertahanan

Komcad dalam Paradigma Baru SDM: dari Meja Kantor ke Garis Pertahanan

Opini | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:25 WIB

Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma

Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma

Opini | Rabu, 29 April 2026 | 07:36 WIB

Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI

Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI

Opini | Sabtu, 18 April 2026 | 08:05 WIB

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Opini | Rabu, 15 April 2026 | 12:29 WIB