'Perang Senyap' Terhadap Rupiah, Operasi Destabilisasi Ekonomi di Balik Narasi '1998 Redux'

Haris Rusly Moti | Pemrakarsa 98 Resolution Network dan mantan Komandan Relawan TKN Prabowo-Gibran

'Perang Senyap' Terhadap Rupiah, Operasi Destabilisasi Ekonomi di Balik Narasi '1998 Redux'
Haris Rusly Moti. Pemrakarsa 98 Resolution Network.
  • Pemerintah Indonesia saat ini menghadapi serangan destabilisasi ekonomi yang dilakukan pihak tertentu untuk merusak kepercayaan publik terhadap Presiden Prabowo.
  • Serangan tersebut dipicu kebijakan strategis pemerintah, seperti pembentukan Danantara, regulasi devisa ekspor, swasembada pangan, serta efisiensi anggaran negara demi kedaulatan.
  • Para pelaku destabilisasi mencoba menyebarkan narasi negatif dan memicu kepanikan pasar demi kepentingan oligarki serta korporasi yang merasa dirugikan.

Suara.com - Indonesia hari ini tidak sedang sekadar menghadapi fluktuasi pasar biasa. Kita sedang berada di tengah medan pertempuran, warfare, yang dilancarkan secara senyap dan samar.

Gejolak indeks harga saham gabungan (IHSG) dan pelemahan nilai tukar Rupiah belakangan ini, bukanlah sekadar dinamika teknis fiskal-moneter, melainkan sebuah serangan destabilisasi yang terkoordinasi.

Jika kita jeli mengamati ruang siber dan diskursus publik, muncul tagline-tagline provokatif seperti “Sale Indonesia”, “1998 Redux”, “Buang Rupiah”, hingga narasi “Indonesia Gelap”.

Ini bukan kritik objektif. Ini adalah kampanye hitam yang dirancang untuk menggerus kepercayaan publik dan pasar terhadap kebijakan progresif Presiden Prabowo Subianto.

Mitos 1998 dan Obsesi Kaum Destabilidator

Para aktor di balik serangan ini tampaknya terobsesi mendaur ulang memori kelam Reformasi 1998. Mereka mencoba merekayasa guncangan ekonomi demi memicu gejolak politik. Namun, mereka lupa satu hal: dunia tahun 2026 berbeda jauh dengan 1998.

Tahun 1998 adalah era unipolar, di mana Amerika Serikat menjadi matahari tunggal dan lembaga multilateral seperti IMF serta World Bank berkuasa mendikte kedaulatan sebuah negara.

Hari ini, dunia telah multipolar. Multilateralisme ala 'Washington Consensus' telah runtuh. Mencoba menyamakan situasi saat ini dengan 1998 adalah bentuk gagal paham geopolitik yang akut.

Tiga Poros "Serakahnomic" yang Terusik

Mengapa serangan ini masif? Jawabannya sederhana: Kebijakan Presiden Prabowo telah menginjak kaki-kaki raksasa yang selama ini berpesta di atas kekayaan Indonesia.

Setidaknya ada tiga poros kekuatan yang merasa sangat dirugikan. Pertama, oligarki 'Serakahnomic' Nasional.

Ini adalah kelompok yang selama ini kenyang dengan rente ekonomi, dan tidak nyaman dengan penertiban aset negara.

Kedua, korporasi dan aktor multinasional. Ini adalah pihak yang kehilangan kontrol atas eksploitasi sumber daya alam Indonesia.

Ketiga, negara tetangga Penampung  'hot Money'. Bukan rahasia lagi, ada negara kecil di tetangga kita yang kaya raya karena menjadi bungker uang kotor hasil perampokan kekayaan alam Indonesia. Kebijakan Prabowo yang memperketat arus modal keluar membuat mereka gerah.

Bangsa kita sudah terlalu lama menjadi objek yang "dibodoh-bodohi" dan diadu domba oleh kepentingan korporasi serakah atau 'kompeni modern', yang bersembunyi di balik jubah pasar bebas.

Hantam Balik Lewat Kebijakan Berani

Aksi destabilisasi ini adalah respons atas keberanian pemerintah dalam melakukan transformasi radikal.

Saya mencatat, 'serangan-serangan' itu mulai terjadi saat negara, pertama, membentuk Danantara.

Menyatukan kekuatan BUMN hakikatnya adalah untuk kedaulatan ekonomi. Para penentangnya menyebut ini "kapitalisme negara," padahal ini adalah cara kita berdaulat.

Kedua, ketika pemerintah menerbitkan kebijakan devisa hasil ekspor (DHE), yang wewajibkan devisa sumber daya alam diparkir di dalam negeri selama satu tahun. Ini memukul telak para pemburu rente valas.

Ketiga, saat pemerintah mencetuskan swasembada pangan. Kebijakan yang meruntuhkan hegemoni kartel impor yang selama ini memanjakan perut mereka dengan menghisap darah petani.

Terakhir, keempat, tatkala pemerintah melakukan efisiensi APBN. Realokasi anggaran untuk makan bergizi gratis (MBG) dan pembangunan kampung nelayan dicibir sebagai "kebijakan bakar uang."

Padahal, bagi mereka, uang negara produktif hanya jika mengalir ke proyek-proyek yang bisa mereka "makan."

Pesan untuk Kaum Muda dan Mahasiswa

Situasi ini adalah ujian kejernihan berpikir bagi para pengkritik pemerintah dan gerakan mahasiswa.

Jangan terlalu lugu dan polos menilai keadaan. Jangan terjebak menganggap anjloknya pasar semata-mata respons alamiah kebijakan. Ada "tangan-tangan gelap" yang sedang memainkan orkestra kepanikan.

Tentu saja, pemerintah belum sempurna. Kita akui tata kelola sejumlah program strategis masih perlu diperkuat aspek teknokratisnya.

Kita juga masih melihat adanya mentalitas pejabat lama yang melihat jabatan sebagai alat mengeruk rente.

Namun, komitmen Presiden Prabowo untuk mencegah kebocoran kekayaan negara dan memburu koruptor melalui penguatan KPK, Kejaksaan, hingga BPKP adalah nyata.

Bahkan, Presiden mengajak rakyat menggunakan gawai di tangan sebagai senjata untuk mengawasi perilaku nakal pejabat.

Serangan terhadap Rupiah adalah serangan terhadap kedaulatan. Jika kita membiarkan narasi "1998 Redux" menang, maka kita membiarkan para spekulan dan oligarki kembali mendikte nasib 280 juta rakyat Indonesia.

Saatnya kita berdiri tegak, dukung kebijakan yang pro-rakyat, dan lawan setiap upaya destabilisasi yang ingin menjual murah harga diri bangsa.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rupiah Menguat ke Rp17.900, Efek Gerilya Akhir Pekan Dasco

Rupiah Menguat ke Rp17.900, Efek Gerilya Akhir Pekan Dasco

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 11:06 WIB

Rupiah Menguat ke Level Rp17.908 per Dolar AS Paling Perkasa di Asia

Rupiah Menguat ke Level Rp17.908 per Dolar AS Paling Perkasa di Asia

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 09:33 WIB

Sambut Prabowo di Lampung, 30 Mahasiswa Berencana Gelar Aksi Jahit Mulut

Sambut Prabowo di Lampung, 30 Mahasiswa Berencana Gelar Aksi Jahit Mulut

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 09:26 WIB

Chatib Basri Sorot Efisiensi Anggaran MBG: Harus Lebih Efisien Lagi

Chatib Basri Sorot Efisiensi Anggaran MBG: Harus Lebih Efisien Lagi

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 08:36 WIB

Budi Gunadi Sadikin Gelarnya Apa? Menkes yang Diisukan Jadi Menkeu

Budi Gunadi Sadikin Gelarnya Apa? Menkes yang Diisukan Jadi Menkeu

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 08:32 WIB

Gelombang Dubes Baru di Istana, Prabowo Terima Surat Kepercayaan 17 Negara Sahabat

Gelombang Dubes Baru di Istana, Prabowo Terima Surat Kepercayaan 17 Negara Sahabat

Foto | Rabu, 10 Juni 2026 | 07:00 WIB

Kejar Quick Wins! Prabowo Boyong Menkes ke Lampung Besok demi Resmikan RSUD Baru

Kejar Quick Wins! Prabowo Boyong Menkes ke Lampung Besok demi Resmikan RSUD Baru

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:50 WIB

Narrative Backlash! Pakar: Unggahan Lama Prabowo Soal Rupiah Kini Jadi Senjata Makan Tuan

Narrative Backlash! Pakar: Unggahan Lama Prabowo Soal Rupiah Kini Jadi Senjata Makan Tuan

News | Selasa, 09 Juni 2026 | 21:31 WIB

Terkini

Kampus Mengukur Masa Depan dengan Penggaris Lama

Kampus Mengukur Masa Depan dengan Penggaris Lama

Opini | Rabu, 03 Juni 2026 | 10:36 WIB

Do You Speak French? Mengenang Sumitro Djojohadikusumo

Do You Speak French? Mengenang Sumitro Djojohadikusumo

Opini | Selasa, 02 Juni 2026 | 17:22 WIB

Sapi Kurban Presiden Prabowo: Berisik di Elite Tapi Justru Untungkan Alit

Sapi Kurban Presiden Prabowo: Berisik di Elite Tapi Justru Untungkan Alit

Opini | Jum'at, 29 Mei 2026 | 11:12 WIB

Closed Loop Kurban, Menuju Ekosistem Halal Berkelanjutan dan Penggerak Ekonomi Lokal

Closed Loop Kurban, Menuju Ekosistem Halal Berkelanjutan dan Penggerak Ekonomi Lokal

Opini | Selasa, 26 Mei 2026 | 16:05 WIB

Pengadaan Fregat Fincantieri yang Terencana Menjamin Kesiapan Operasional Kapal Perang RI

Pengadaan Fregat Fincantieri yang Terencana Menjamin Kesiapan Operasional Kapal Perang RI

Opini | Selasa, 26 Mei 2026 | 12:40 WIB

Persib, Ekstase Kecil di Zaman yang Tak Mudah

Persib, Ekstase Kecil di Zaman yang Tak Mudah

Opini | Minggu, 24 Mei 2026 | 12:25 WIB

Bola Ada di Tangan BPOM: Saatnya Wajibkan Label Peringatan Gula

Bola Ada di Tangan BPOM: Saatnya Wajibkan Label Peringatan Gula

Opini | Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:44 WIB

Prabowo Sedang Gali Kubur Kapitalisme, Tapi Dihalangi 'Musuh dalam Selimut'

Prabowo Sedang Gali Kubur Kapitalisme, Tapi Dihalangi 'Musuh dalam Selimut'

Opini | Jum'at, 22 Mei 2026 | 16:30 WIB

Kemlu RI Perlu Belajar dari Penculikan Relawan WNI oleh Israel

Kemlu RI Perlu Belajar dari Penculikan Relawan WNI oleh Israel

Opini | Jum'at, 22 Mei 2026 | 14:00 WIB

Membaca Ketakutan The Economist terhadap Prabowo

Membaca Ketakutan The Economist terhadap Prabowo

Opini | Senin, 18 Mei 2026 | 11:27 WIB