Sowan ke Negeri Leluhur, Inilah Bingkisan dari Luis Leeds

RR Ukirsari Manggalani
Sowan ke Negeri Leluhur, Inilah Bingkisan dari Luis Leeds
Pebalap Formula 4 berdarah Indonesia-Australia, Luis Leeds saat berkunjung ke Jakarta, Sabtu (23/11). [Suara.com/Oke Atmaja]

Seringkali naik podium F4 bersanding bendera Australia, Luis Leeds ingin membawa Merah Putih.

Suara.com - Nama Luis Leeds menghangat di media otomotif Tanah Air sepekan terakhir. Ia seorang driver Formula Four (F4) dengan dwi kewarganegaraan Australia dan Indonesia. Anak muda berusia 19 tahun yang berniat berlaga di pentas FIA Formula Two (F2) serta mengikuti development programme tim Formula One (F1) Williams membawa bendera Merah Putih.

Suara.com mendapatkan kesempatan eksklusif untuk berbincang dengan sulung dari tiga bersaudara (Luis, Amelia, dan Jonathan) bernama lengkap Luis William Mahendra Leeds ini. Diseling minum teh dan adu cepat menyebutkan nama driver F1 yang pernah bergabung dengan tim Williams F1. Seperti Nigel Mansell (juara dunia 1992), Damon Hill (1996), Jacques Villeneuve (1997), hingga salah satu driver F1 kenamaan sepanjang masa, Ayrton Senna.

Ada hal mendasar, mengapa lajang yang pernah mengikuti akademi Red Bull Junior saat berusia 15 tahun (2016) itu ingin balap atas nama Indonesia. Prestasi keren terbarunya adalah juara CAMS Australian Formula 4 Championship 2019.

"Keputusan untuk turun balap atas nama Indonesia, ada banyak alasan. Namun, dibesarkan di Melbourne, Australia, saya menyadari ... setiap kali naik podium, selalu ada bendera Australia dikerek di balik punggung. Contohnya saat juara di Meksiko. Juga saat Australia Grand Prix," kata Luis Leeds mengawali kisahnya.

Lantas semakin dewasa, dengan cara pandang semakin luas, Luis Leeds yang lahir pada 6 Maret 2000 menyadari, alangkah sayangnya tidak pernah bertarung atas nama Indonesia.

"Kakek saya dari pihak ibu di Ngawi sedang sakit, dan kami berbincang-bincang. Beliau yang memberikan dukungan, "Kamu harus melakukannya sekarang. Bila ingin balap atas nama Indonesia". Mendengarnya, saya seperti diingatkan: apakah yang Indonesia bisa lakukan di pentas balap single seater?" lanjutnya.

Sulung tiga bersaudara itu menambahkan, hingga sekarang, Indonesia baru memiliki satu driver di pentas balap jet darat, Rio Haryanto.

"Meski waktunya singkat, siapapun yang bisa tembus ke F1 ya artinya bagus, bukan? Namun, penghargaan seperti apa diberikan padanya? Driver Indonesia belum dikenal luas dalam komunitas motorsport. Kadar disrespect atau tidak dihargainya kami sebagai driver Tanah Air kadarnya bermacam-macam, dan saya pikir: seseorang mesti meluruskannya: how to fix it. Saya ingin melakukan itu. Ini benar-benar kalimat yang datang dari dalam lubuk hati saya," tukas Luis Leeds.

Tentunya, ia tidak melenggang begitu saja. Selain bekal sebagai juara F4 Ausralia, Luis Leeds telah mengasah ilmu di akademi Red Bull Junior.

"Sejak usia 15 tahun, saya tidak tinggal bersama keluarga lagi di Australia. Tinggal di Milton Keynes, England, untuk berguru di program khusus mereka menuju jenjang F1," tukas pemuda yang saat dijumpai mengenakan kemeja batik kesayangannya. Bernuansa merah putih!

Laman berikutnya, Luis Leeds kisahkan pengalamannya tinggal jauh dari keluarga untuk program Red Bull Junior. Di mana tim F1 nya berprestasi mengawal Sebastian Vettel menjadi juara dunia empat kali.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS