facebook

Menparekraf: Integrasi Sistem Transportasi dan Destinasi Wisata bagi Layanan Berkelanjutan

RR Ukirsari Manggalani
Menparekraf: Integrasi Sistem Transportasi dan Destinasi Wisata bagi Layanan Berkelanjutan
Peresmian Toyota EV Smart Mobility Project di Nusa Dua, Bali, Rabu (31/3/2021). Program ini mempromosikan wisata ramah lingkungan di Indonesia dengan mengedepankan pemanfaatan mobil listrik. Sebagai ilustrasi [Antara/Toyota Astra Motor]

Travelling tanpa pusing memikirkan transportasi, termasuk kendaraan menuju dan dari destinasi bisa terjadi, bila semua bidang sudah terintegrasi.

Suara.com - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menyebutkan setidaknya ada tiga hal penting dalam membangun industri pariwisata berkelanjutan yang terintegrasi dengan sistem transportasi. Demikian dikutip dari kantor berita Antara.

"Pertama, transportasi dan wisata ini harus terkoneksi dengan green economy (ekonomi ramah lingkungan)," jelas Sandiaga Uno dalam webinar yang diselenggarakan komunitas Intelligent Transport System (ITS) Indonesia, Rabu (30/6/2021).

Bali ditampilkan sebagai contoh, sebagai destinasi wisata yang telah menyediakan fitur pengantaran makanan dan transportasi ramah lingkungan dengan kendaraan listrik. Khususnya di kawasan Nusa Dua.

Dengan menghadirkan ekonomi yang ramah lingkungan lewat layanan transportasi yang berkelanjutan juga dapat mendukung tidak hanya dari sisi bisnis namun kelestarian lingkungan dari pengurangan emisi gas karbon.

Baca Juga: Bos Hyundai: Mobil Terbang Akan Jadi Kenyataan di Masa Mendatang

Wisatawan menumpang kendaraan listrik ramah lingkungan di kawasan Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Magelang, Jawa Tengah (30/6/2020)[ANTARA FOTO/Anis Efizudin/hp]
Wisatawan menumpang kendaraan listrik ramah lingkungan di kawasan Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Magelang, Jawa Tengah (30/6/2020)[ANTARA FOTO/Anis Efizudin/hp]

Hal penting kedua adalah transportasi dan pariwisata harus bisa dijadikan bentuk digitalisasi. Artinya seluruh layanan hingga jasa harus berada dalam genggaman pengguna lewat perangkat elektronik mereka.

Pengadaan informasi dan fasilitas dalam bentuk mobile ini akan memudahkan proses, mulai pemesanan layanan hingga pembayaran tanpa harus bentuk fisik karena semua dilakukan lewat gawai. Termasuk di sektor transportasi.

Dan ketiga adalah longevity atau panjang usia. Yang menyangkut infrastrukur fisik hingga layanan bisa digunakan dalam jangka waktu lama.

Layanan yang diberikan pun harus mendukung faktor keamanan dan kebersihan seperti CHSE (Cleanliness, Health, Safety, dan Enviromental Sustainabilty) sehingga masyarakat pun bisa menjaga pola hidup sehat.

"Artinya layanan itu harus bisa mempromosikan pola hidup yang sehat, memberikan langkah preventif menghindari penyakit, dan tren terkait isu kesehatan ini tidak akan berakhir," ujar Menparekraf.

Baca Juga: Dimodifikasi, Mobil Dinas Dishub Jakarta Timur Bisa Angkut Jenazah Covid-19

Bila ketiga hal tadi bisa dipenuhi, maka bidang transportasi dan wisata bisa memberikan layanan yang berkelanjutan. Tiga hal itu dinilai membuat sektor pariwisata menghadirkan pengalaman baru yang menyenangkan dan belum pernah ada sebelumnya.

Dan terkait sistem pintar yang mengintegrasikan layanan transportasi dan wisata, President of ITS Indonesia, William Sabandar menyebutkan sistem itu harus mampu menjembatani kebutuhan wisatawan. Yaitu dalam menghitung biaya perjalanan tidak hanya dari akomadasi tempat tinggal, tapi bisa merinci biaya transportasi, mengenali jenis kendaraan yang digunakan, hingga mengetahui atraksi yang bisa dinikmati selama berwisata.

Oleh karena itu, ITS Indonesia menantikan kehadiran Intelligent Transport Tourism System bisa terintegrasi dengan mendorong penataan dan pemberian informasi seputar pariwisata dan transportasi secara komprehensif.

"Kita mendorong satu sistem terintegrasi yang memungkinkan adanya penataan dan pemberian informasi baik kepada penyedia layanan wisata hingga pengunjung wisata sehingga ada cara efisien untuk menunjukan bagaimana memanfaatkan transportasi saat berwisata mulai dari perencanaan hingga di saat kunjungan wisata dilakukan," tutur William Sabandar.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar