facebook

KNKT: 90 Persen Laka Lantas Truk dan Bus Terjadi di Jalan Menurun, Disebabkan Abai Soal Teknik Pengereman

RR Ukirsari Manggalani
KNKT: 90 Persen Laka Lantas Truk dan Bus Terjadi di Jalan Menurun, Disebabkan Abai Soal Teknik Pengereman
Ilustrasi sistem dan teknik pengereman. Tampak piringan rem tengah diperiksa mekanik [Envato Elements/serhiibobyk].

Hati-hati bila melahap turunan, karena ada potensi kecelakaan lalu lintas atau laka lantas.

Suara.com - Hampir 90 persen kecelakaan bus dan truk terjadi di jalan menurun dan sebagian besar pengemudi dalam kecelakaan lalu lintas atau laka lantas mengabaikan teknik pengereman yang benar. Demikian dikutip dari kantor berita Antara.

"Saya beritahu, hampir 90 persen lebih kecelakaan bus dan truk karena rem blong terjadi di jalanan menurun dan semuanya terjadi karena pengemudi mengabaikan teknik pengereman," ujar Achmad Wildan, investigator senior Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) di Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (27/1/2022).

Ia menegaskan betapa pentingnya para pengemudi untuk mengetahui teknik pengereman yang benar dan baik dalam segala kondisi jalan yang dilalui.

Insiden kecelakaan tergulingnya bus pariwisata di turunan Cicenang, Desa Ciater, Kabupaten Subang pada Sabtu (10/2/2018) sore.(Antara)
Bus pariwisata mengalami laka lantas  di Kabupaten Subang pada Sabtu (10/2/2018) sore.(Antara)

Terdapat beberapa perbedaan teknik mengerem pada permukaan datar dengan di jalan menurun. Yaitu:

Baca Juga: Penjelasan Ilmiah: Mengapa Pengemudi Mobil-Pengendara Motor Bisa Terlibat Laka Lantas Bersama

  • di jalan datar, gerakan kendaraan itu dipengaruhi oleh putaran mesin.
  • di alan menurun gerakan kendaraan dipengaruhi daya gravitasi.

"Ketika kita mengerem di jalan datar menggunakan service brake dengan rem pedal, maka putaran mesin menurun, berhenti, selesai. Tidak demikian halnya pada saat jalan menurun. Kita lakukan pengereman dengan pedal, kemudian roda berhenti, pedal diangkat. Lalu akan didorong lagi oleh daya gravitasi. Artinya tidak akan selesai," jelas Achmad Wildan tentang teknis berlangsungnya proses pengereman.

Sehingga saat melakukan pengereman di jalan datar gunakanlah service brake atau rem pedal, namun di jalan menurun gunakanlah auxiliary brake (rem tambahan yang digunakan dengan kombinasi rem biasa pada truk atau kendaraan berat).

"Bentuknya apa? Ada engine brake, ada exhaust brake, ada namanya retarder, yang terbaru," lanjut Achmad Wildan.

Ketika para pengemudi sudah mengabaikan hal itu, besar kemungkinan mereka akan mengalami kejadian yang tidak diinginkan.

Berikut tiga penyebab rem tidak berfungsi di turunan dan contoh kejadiannya:

Baca Juga: Bensa, Bensin Minyak Sawit untuk Bahan Bakar Kendaraan Bermotor

Brake fading

  • Kendaraan akan mengalami brake fading (daya cengkeram kampas rem berkurang karena panas atau pemakaian berulang atau dalam kondisi kecepatan tinggi), angin tekor dan juga vapor lock (minyak rem terlalu panas sehingga mengurangi kemampuan rem).
  • Ketika kendaraan yang digunakan mengalami brake fading atau kampasnya panas, maka kampas rem kendaraan itu akan menjadi licin dan kemungkinan roda akan tetap berputar.
  • "Ketika saya tanya pengemudinya: apa yang Bapak rasakan? Saya bisa ngerem, akan tetapi roda berputar," ujar Achmad Wildan menirukan pernyataan pengemudi.
  • "Saya bisa simpulkan bahwa mobil itu mengalami brake fading. Contohnya itu kecelakaan bus Padma di Sumedang," tukasnya.
  • Berbeda hal nya ketika kendaraan mengalami kejadian rem angin tekor, kejadian ini akan membuat rem terasa lebih berat ketika hendak akan diinjak untuk melakukan pengereman.

Angin tekor

  • "Yang kedua angin tekor, yang dirasakan pengemudi apa? Pedalnya keras, tidak bisa diinjak. Contohnya di mana? Di FO (Flyover) Kretek dan bus Purnamasari, karena tekanan anginnya di bawah 6 bar," demikian detailnya.

Vapor lock

  • "Yang ketiga vapor lock, yaitu minyak remnya mendidih karena kandungan airnya dalam minyak rem sangat tinggi. Contohnya kejadian di Cikidang," pungkasnya.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar