- Membeli mobil bekas harus dilakukan teliti dan waspada agar tidak menyesal di kemudian hari.
- Bagi pemula, perlu memahami ciri-ciri mobil second yang tidak layak beli.
- Lakukan inspeksi secara menyeluruh, jangan tergiur bodi mulus atau pun harga miring.
Suara.com - Di tengah gempuran produk otomotif modern, mobil bekas terus merajai pencarian karena lebih terjangkau. Selain itu, banyak yang kualitasnya tak kalah dengan unit baru sehingga dinilai menguntungkan.
Padahal, untuk membeli mobil bekas perlu jeli dan teliti agar terhindar dari risiko yang tidak diinginkan di kemudian hari. Harga yang murah sebaiknya bukan menjadi patokan.
Sebagai pembeli yang cerdas, semestinya tidak boleh hanya terpaku dengan harga miring, tampilan bodi yang mengkilap atau interior wangi.
Bagi pemula yang mau beli mobil bekas, ada beberapa tanda bahaya yang menunjukkan bahwa sebuah mobil bekas memiliki masalah mekanis yang serius.
Berikut adalah ciri-ciri mobil bekas yang sebaiknya dihindari meskipun harganya menggiurkan.
1. Bekas Terendam Banjir (Flood Damage)

Mobil yang pernah terendam banjir, terutama air asin atau air lumpur, akan mengalami kerusakan jangka panjang yang sulit diperbaiki secara total.
Air dapat merusak sistem kelistrikan dan modul elektronik (ECU). Sedangkan masalah kelistrikan akibat banjir seperti bom waktu, mobil mungkin menyala sekarang, tapi korsleting bisa terjadi kapan saja dan biaya perbaikannya sangat mahal.
Sebelum transaksi terjadi, pembeli perlu mengenali ciri-ciri mobil bekas banjir seperti bau apek yang menyengat di dalam kabin meski sudah diberi pengharum, adanya endapan lumpur halus di sela-sela kabel di bawah dasbor, atau munculnya karat di area yang tidak wajar seperti baut jok atau rel kursi.
Baca Juga: 4 Mobil Bekas Bandel Mulai Rp40 Jutaan untuk Angkut Barang, Cocok bagi Pengusaha Lokal
2. Bekas Tabrakan (Chassis Damage)
Mobil yang pernah mengalami kecelakaan besar dan diperbaiki kembali sering kali kehilangan struktur aslinya. Kondisi ini perlu diperhatikan sebelum membeli mobil second.
Perhatikan celah antar panel bodi yang tidak simetris, warna cat yang sedikit berbeda antar panel, atau adanya bekas las yang kasar pada bagian dudukan mesin hingga tulang sasis. Jika mobil terasa aneh saat dikendarai di jalan lurus, itu pertanda sasis sudah tidak presisi.
Sasis yang sudah pernah bengkok dan diluruskan tidak akan memiliki kekuatan yang sama saat terjadi benturan di masa depan. Ini berkaitan langsung dengan aspek keselamatan pengendara.
3. Odometer Hasil Manipulasi (Reset KM)

Angka odometer merupakan panduan utama untuk melakukan perawatan besar. Jika angka dimanipulasi, maka tidak tahu kapan harus mengganti timing belt, oli transmisi, atau komponen kritikal lainnya, yang bisa menyebabkan kerusakan mesin total secara mendadak.