Suara.com - Bahan bakar minyak (BBM) biodiesel B50 siap diberlakukan pada 1 Juli 2026, menandai babak baru dalam kebijakan energi nasional.
Program ini disebut sebagai langkah besar untuk mengurangi ketergantungan BBM impor dan mendorong energi berbasis sawit.
Dengan campuran 50 persen bahan bakar nabati, B50 diharapkan mampu menekan konsumsi solar sekaligus memperkuat industri dalam negeri.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut percepatan program ini sebagai bagian dari upaya menuju kemandirian energi.
"Pertamina telah siap untuk mengimplementasikan blending, dan ini berpotensi mengurangi penggunaan BBM berbasis fosil sebanyak 4 juta kiloliter," ujar Airlangga dikutip dari laman Sekretariat Kabinet Republik Indonesia (23/4/2026).
Seiring mendekati waktu peluncuran, banyak masyarakat yang bertanya, berapa harga bahan bakar B50? Berikut penjelasan lengkap terkait bahan bakar ini.
Mengenal Bahan Bakar B50

B50 adalah jenis bahan bakar campuran yang terdiri dari 50 persen solar (diesel) dan 50 persen bahan bakar nabati yang berasal dari minyak sawit atau CPO. Campuran nabati ini dikenal dengan istilah FAME (Fatty Acid Methyl Ester).
Program ini merupakan lanjutan dari kebijakan sebelumnya seperti B35 dan B40, dengan tingkat campuran nabati yang semakin tinggi.
Penerapan B50 nantinya akan berlaku untuk semua sektor tanpa pengecualian. Artinya, tidak hanya kendaraan pribadi, tapi juga transportasi umum, alat berat, sektor pertanian, pertambangan, hingga pembangkit listrik akan menggunakan bahan bakar ini.
Pemerintah sengaja menerapkan secara serentak agar distribusi dan sistemnya lebih sederhana serta tidak membingungkan di lapangan.
Sebelum resmi diluncurkan, B50 telah melalui berbagai tahap uji coba. Pengujian dilakukan pada kendaraan ringan hingga berat, bahkan hingga sektor maritim dan perkeretaapian.
Hasil sementara menunjukkan bahwa bahan bakar ini cukup stabil, aman digunakan, dan mampu menjaga performa mesin tetap optimal. Uji coba ini ditargetkan selesai sebelum Juli 2026 sebagai langkah akhir sebelum implementasi penuh.
Berapa Harga B50 Nanti?
Hingga saat ini, pemerintah belum mengumumkan harga resmi bahan bakar B50 per liter.
Hal ini karena perhitungan harga masih dalam tahap finalisasi dan melibatkan berbagai komponen, termasuk harga bahan baku nabati dan kondisi pasar energi global.
Namun, ada satu hal yang sudah pasti: harga B50 nantinya akan mengikuti formula harga indeks pasar biodiesel (HIP).
Artinya, harga akan disesuaikan secara berkala, kemungkinan setiap bulan, mengikuti perubahan harga bahan baku dan faktor ekonomi lainnya.
Meskipun belum ada angka pasti, pemerintah menegaskan bahwa tujuan utama program ini bukan untuk membebani masyarakat.
Justru sebaliknya, B50 diharapkan mampu menekan biaya impor BBM dan mengurangi subsidi energi dalam jangka panjang. Dengan begitu, stabilitas harga energi dalam negeri bisa lebih terjaga.
Dampak Program B50 terhadap Ekonomi dan Lingkungan
Penerapan bahan bakar B50 tidak hanya berfokus pada pengurangan penggunaan energi fosil, tetapi juga membawa dampak luas bagi berbagai sektor. Berikut beberapa dampak penting yang diharapkan dari penerapan program ini:
1. Penghematan devisa negara
Program B50 mengurangi impor BBM fosil sehingga berpotensi menghemat devisa hingga ratusan triliun rupiah, yang bisa dialihkan ke sektor produktif.
2. Penurunan beban subsidi energi
Karena sebagian energi berasal dari CPO dalam negeri, subsidi bisa ditekan dan berpotensi menghemat anggaran hingga puluhan triliun rupiah per tahun.
3. Mendorong pertumbuhan industri sawit
Naiknya kebutuhan biodiesel mendorong permintaan minyak sawit, sehingga menguntungkan industri dari petani hingga pengolahan dan memperkuat ekonomi domestik.
4. Membuka lapangan kerja baru
Program B50 berpotensi menyerap jutaan tenaga kerja di sektor perkebunan, distribusi, dan pengolahan, sehingga membantu menekan pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan.
5. Mengurangi konsumsi BBM fosil
Dengan 50% bahan nabati, penggunaan solar berkurang signifikan sehingga ketergantungan pada energi fosil ikut menurun.
6. Menekan emisi gas rumah kaca
B50 lebih ramah lingkungan karena mampu menekan emisi karbon hingga puluhan juta ton CO, sehingga mendukung penanganan perubahan iklim.
Demikianlah penjelasan tentang bahan bakar B50 yang akan mulai diberlakukan pada 1 Juli 2026 beserta potensi harga dan dampaknya bagi ekonomi serta lingkungan.
Kontributor : Dini Sukmaningtyas