- Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp17.658 per dolar AS pada Senin, 18 Mei 2026, level terendah sejak krisis 1997.
- Pelemahan rupiah memicu kenaikan biaya impor pangan dan bahan baku industri, sehingga mendorong inflasi harga barang di seluruh Indonesia.
- Produsen otomotif berupaya menahan kenaikan harga jual unit mobil di tengah pembengkakan biaya produksi akibat fluktuasi nilai tukar dolar.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini sedang tidak baik-baik saja. Per Senin, 18 Mei 2026, rupiah terpantau merosot hingga menyentuh level Rp17.658 per dolar AS.
Angka ini jelas bikin banyak pihak ketar-ketir, apalagi ini merupakan level terlemah sejak krisis moneter tahun 1997-1998 silam.
Di tengah situasi yang memanas ini, pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut bahwa masyarakat di desa tidak menggunakan dolar karena bertransaksi dengan rupiah memicu diskusi panjang di ruang publik.
Banyak pihak menilai pernyataan tersebut terlalu menyederhanakan masalah. Meski benar warga desa tidak membayar kopi atau pupuk dengan mata uang dolar, realitanya mereka tetap terkena dampak "getah" dari melemahnya rupiah.
Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk bahan pangan strategis seperti kedelai, gandum, hingga bahan baku pupuk. Ketika dolar naik, biaya impor bahan-bahan ini membengkak, yang ujung-ujungnya memicu inflasi dan kenaikan harga barang di pasar-pasar desa.
Dampak ini tidak berhenti di sektor pangan saja, tapi juga merembet kencang ke sektor industri, terutama otomotif. Di koridor pabrik-pabrik besar, para buruh dan manajemen mulai merasakan tekanan.
Meskipun banyak mobil saat ini memiliki Tingkat Kandungan Lokal (TKDN) yang tinggi, industri otomotif kita masih sangat bergantung pada komponen impor, teknologi, dan bahan baku dari luar negeri yang transaksinya menggunakan dolar.
Begitu dolar menguat "ugal-ugalan", biaya produksi otomatis membengkak.
Pabrikan mobil diprediksi terdampak
Toyota akan naik harga?
Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor (TAM), Bansar Maduma, mengakui pada awak media bahwa pelemahan rupiah ini berdampak besar bagi industri.
Saat ini, Toyota dan jaringannya tengah berupaya keras menjaga agar harga jual mobil tidak langsung melonjak tajam.
Mereka sedang "putar otak" berkoordinasi dengan seluruh ekosistem produksi, mulai dari supplier hingga prinsipal global, agar kenaikan biaya produksi tidak seluruhnya dibebankan ke kantong konsumen.
Strategi menahan harga ini dianggap realistis agar konsumen tidak kabur ke merek lain.
“Kita akan semaksimal mungkin, untuk bisa mengurangi impact yang terjadi di customer. Sehingga customer juga lebih trust kepada merek Toyota, dan tidak akan meninggalkan mereka,” kata Bansar.
![Ilustrasi alphard. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/10/05/39444-ilustrasi-alphard-istimewa.jpg)
Kia dan Hyundai mulai waspada
Hal serupa juga dilakukan oleh produsen asal Korea seperti Kia dan Hyundai. Head of Marketing Kia Sales Indonesia, Rendy Pratama, menjelaskan bahwa struktur biaya di industri otomotif tidak berubah secara instan mengikuti fluktuasi harian karena adanya strategi perencanaan jangka panjang dan hedging (lindung nilai).
Namun, mereka tetap memonitor dinamika rupiah secara berkala karena potensi dampak terhadap bisnis tetap ada.