- Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp17.658 per dolar AS pada Senin, 18 Mei 2026, level terendah sejak krisis 1997.
- Pelemahan rupiah memicu kenaikan biaya impor pangan dan bahan baku industri, sehingga mendorong inflasi harga barang di seluruh Indonesia.
- Produsen otomotif berupaya menahan kenaikan harga jual unit mobil di tengah pembengkakan biaya produksi akibat fluktuasi nilai tukar dolar.
Sementara itu, Chief Operating Officer HMID, Fransiscus Soerjopranoto, menambahkan faktor lain yang perlu diperhatikan: harga bahan bakar.
Jika kenaikan nilai tukar mata uang dibarengi dengan kenaikan harga bensin yang signifikan, maka kombinasi faktor ekonomi makro tersebut akan sangat menentukan harga jual kendaraan baru di masa depan.
Saat ini, para pemain otomotif masih berusaha memberikan stimulus dan model baru untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah persaingan yang ketat.
Meski produsen saat ini masih berjuang menstabilkan harga, peluang kenaikan harga di kemudian hari tetap terbuka lebar.

"Tergantung dari naiknya harga bensin tersebut atau harga bahan bakar tersebut. Nah kalau bahan bakarnya naik cukup signifikan, kemudian nilai tukar mata uang juga naik. Kita akan kombinasikan itu semua menjadi yang namanya harga mobil," ujar Fransiscus.
Jika kurs dolar terus betah di level tinggi dalam waktu lama, tekanan biaya produksi akan semakin berat untuk ditanggung sendiri oleh pabrikan.
Jika itu terjadi, penyesuaian harga biasanya akan dilakukan secara bertahap dan selektif, tergantung pada seberapa besar komponen impor yang ada di dalam setiap model mobil tersebut.
Jadi, meskipun orang desa merasa tidak pakai dolar, ekosistem ekonomi yang saling terhubung memastikan bahwa setiap kenaikan kurs akan dirasakan dampaknya, mulai dari harga pupuk di sawah hingga harga unit mobil di showroom perkotaan.