Membingkai Segudang Masalah Purbalingga Lewat "Gugat!", Pameran Lukisan Tunggal Karya Bowo Leksono

Purwokerto

Sabtu, 11 Maret 2023 | 18:03 WIB
Membingkai Segudang Masalah Purbalingga Lewat "Gugat!", Pameran Lukisan Tunggal Karya Bowo Leksono
Seorang pengunjung pameran lukisan tunggal Bowo Leksono memandang karya bertajuk "Embung Wurung" di Aula DPD Golkar PurbaIingga, Sabtu 11 Maret 2023. (Foto: Afgan)

PURBALINGGA.SUARA.COM, PURBALINGGA - Nama Purbalingga pernah sangat populer setelah kasus kanibalisme Sumanto, pria yang memakan mayat demi mendapat daya linuwih. Namun perangai manusia yang memangsa sesamanya bukan hal baru. Setidaknya Thomas Hobbes, filsuf Inggris, telah menyebut manusia adalah srigala bagi sesamanya (homo homini lupus)  berabad-abad silam.

Srigala menurut Thomas Hobbes memang tak bermakna harfiah bahwa manusia menjadi srigala dan memakan manusia lainnya. Namun manusia punya kecenderungan "memangsa" sesamanya. Yang berkuasa menindas yang lemah, yang kaya memperbudak yang miskin, dan yang pintar memperdaya yang awam.
Dalam setiap ketimpangan kuasa ada potensi penindasan. Maka tak heran Lord Acton juga berujar "Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan absolut sudah pasti korup."
Berangkat dari premis itu, maka kecurigaan terhadap penguasan selalu ada. Curiga jangan-jangan seorang penguasa tergoda untuk menyalahgunakan kekuasaannya untuk keuntungan pribadi.
Bowo Leksono, dalam konteks Purbalingga, menjadi semacam pengingat. Karya seninya sejak dahulu kala dikenal kritis terhadap penguasa. Begitulah buah skeptisisme dalam konteks berkesenian. Tentu, siapa saja bisa meminjam cara Bowo Leksono mengolah kecurigaan menjadi karya kritis, apapun bentuknya. 
Kekinian, Bowo mengolah keresahan masa lalunya tentang Purbalingga dalam bingkai karya lukis. Sebanyak 15 lukisan dipamerkan. Temanya pun tak kurang garang, "Gugat!". 
Dengan 15 karya lukis itu, Bowo seperti sedang mengguggat borok-borok penguasa dari masa silam hingga kini tentang mandat rakyat yang mereka salahgunakan. Lukisan-lukisan itu seperti bingkai memori tentang borok penguasa Purbalingga.
Sebut saja karya bertajuk "Embung Wurung. Lukisan akrilik di atas kanvas ini berkisah tentang Embung Puthuk Suruh yang dibangun pada era kepemimpinan Bupati Triono Budi Sasongko.

Embung Punthuk Suruh dibangun 2002, tahun kedua periode pertama era rezim Bupati Triyono. Proyek ini konon menghabiskan anggaran kisaran Rp 12 miliar. 

Penampung air ini terletak di Desa Panunggalan, Kecamatan Pengadegan, salah satu wilayah di Kabupaten Purbalingga yang kekurangan air bersih, terlebih di saat kemarau. 

Pengadegan dan sekitarnya merupakan perbukitan dengan warganya yang mayoritas berkebun. Sejak awal pembangunan, lokasi yang ditujukan sebagai daerah tangkapan air, Punthuk Suruh, mangkrak hingga hari ini lantaran debit air yang tak memenuhi kebutuhan sehingga tak mampu sebagai lokasi cadangan air. Saat itu, penyimpangan ini tak terekspos media mainstream.

Proyek pembangunan waduk mini buatan di Dukuh Punthuk Suruh, Desa Panunggalan, Kecamatan Pengadegan ini, dikenal dengan proyek Unit Pengelola Air Bersih (UPAB) Punthuk Suruh. Ini merupakan proyek penanggulangan bencana alam khususnya untuk mengatasi kekeringan di musim kemarau yang biasa melanda Kecamatan Pengadegan dan Kecamatan Kejobong. Proyek ini didanai dari bantuan APBN tahun anggaran 2001, sebesar Rp 10 miliar rupiah, ditambah dari APBD Kabupaten Purbalingga tak kurang dari Rp 2 miliar. 

Proyek waduk mini ‘Punthuk Suruh’ tersebut bukan hanya memakan biaya yang sangat besar pada waktu itu, namun juga dalam prosesnya telah memunculkan banyak masalah sejak dari perencanaan hingga pelaksanaan. Baik di tingkat elit birokrasi kabupaten dan para pelaksana (pemborong), juga dalam proses awal pencarian dana yang dikenal dengan “sondolan” ke pusat, serta permasalahan pembebasan tanah masyarakat yang tanahnya digunakan untuk proyek.

Pembangunan proyek ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Mardiyanto, pada 2002. Namun paska peresmian, UPAB yang digadang-gadang bisa menanggulangi kekeringan di wilayah Kecamatan Pengadegan dan Kecamatan Kejobong pada kenyataannya tidak berfungsi seperti yang diharapkan. 

Waduk mini Punthuk Suruh yang diharapkan bisa menyuplai air bersih ke UPAB untuk didistribusikan ke masyarakat ternyata tidak terisi air seperti yang diharapkan. Debit air tidak mencukupi, bahkan mata air yang ada yang semula diharapkan ditampung di waduk, ternyata berhenti mengalir. 

Untuk mengatasi hal tersebut Pemkab Purbalingga melalui Dinas Pekerjaan Umum kemudian melakukan pengeboran di sekitar waduk berulang kali untuk mencari titik mata air, namun tidak ditemukan. Tambahan anggaran untuk pengeboran pun menjadi sia-sia, air yang diharapkan tak pernah keluar, pelan-pelan nasib Waduk Punthuk Suruh pun mangkrak.

Ada pula lukisan bertema "Sepi Nyenyet" atau sunyi senyap dalam bahasa Indonesia. Lukisan ini berkisah tentang Bandara Jenderal Besar Soedirman Purbalingga.

Gagasan membangun bandara komersil di tanah Purbalingga sudah ada sejak Pemerintahan Bupati Triyono Budi Sasongko bersama Ganjar Pranowo (saat itu anggota DPR RI) sekitar tahun 2006. Rencana pembangunan bandara di Pangkalan Udara Wirasaba yang dibangun pada 1938 oleh Pemerintah Hindia Belanda. 

Setiap pergantian pemerintahan, rencana itu terus berulang hingga pada masa Bupati Tasdi menjadi awal pengembangan Bandara Jenderal Besar Soedirman (JBS) pada 2018. Peresmian beroperasinya Bandara JBS pada 1 Juni 2021 pada masa Bupati Dyah Hayuning Pratiwi. Maskapai yang beroperasi silih berganti, tak menentu, dan sepi. Tak ada alasan orang naik pesawat lewat Bandara JBS. Pun sebaliknya, tak ada alasan orang datang ke Purbalingga dan sekitarnya.

Di era Bupati Tasdi, konsep agar bandar udara ramai ialah dengan membangun Purbalingga Islamic Center (PIC) dengan harapan banyak orang datang ke Purbalingga untuk mempelajari agama Islam. Di samping itu, Bandara JBS juga dijadikan bandara embarkasi haji di Jawa Tengah bagian barat. 

Namun, karena proyek PIC itulah, Bupati Tasdi dicocok KPK. Sementara di era Bupati Tiwi, pariwisata Purbalingga dan turunannya menjadi andalan agar penerbangan JBS bisa langgeng. Sementara tak ada nilai pariwisata di Purbalingga yang bisa diandalkan. Bermacam strategi dilakukan, namun tak mampu menjadikan maskapai betah mendarat dan terbang di langit Purbalingga. Tetap "sepi nyenyet"

Masih ada 13 lukisan lain yang menyorot problematika di Purbalingga secara vulgar. Jika ingin melihat langsung sisi lain Purbalingga yang tampak baik-baik saja, maka datanglah ke pameran tunggal karya Bowo Leksono di Aula DPD Golkar Purbalingga. Pameran masih akan berlangsung hingga Minggu, 12 Maret 2023.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Sawah vs Pabrik, Lukisan Bowo Leksono Kritik Industrialisasi di Purbalingga yang Korbankan Sawah

Sawah vs Pabrik, Lukisan Bowo Leksono Kritik Industrialisasi di Purbalingga yang Korbankan Sawah

| Jum'at, 10 Maret 2023 | 06:30 WIB

Anak 6 Tahun Korban Rudapaksa di Purbalingga Trauma Berat, Takut Bertemu Orang

Anak 6 Tahun Korban Rudapaksa di Purbalingga Trauma Berat, Takut Bertemu Orang

| Selasa, 07 Maret 2023 | 11:57 WIB

Direktur CLC Purbalingga Bowo Leksono Gelar Pameran Tunggal Bertajuk "Gugat!"

Direktur CLC Purbalingga Bowo Leksono Gelar Pameran Tunggal Bertajuk "Gugat!"

| Selasa, 07 Maret 2023 | 06:10 WIB

Tersinggung, Warga Purbalingga yang Tengah Mabuk Pukul Seorang Pria Pakai Martil

Tersinggung, Warga Purbalingga yang Tengah Mabuk Pukul Seorang Pria Pakai Martil

| Senin, 06 Maret 2023 | 14:45 WIB

Terkini

Pemutihan Pajak Kendaraan Jakarta 2026, Denda Dihapus hingga 31 Agustus

Pemutihan Pajak Kendaraan Jakarta 2026, Denda Dihapus hingga 31 Agustus

Jakarta | Senin, 01 Juni 2026 | 00:00 WIB

Ritual Ganjil Suami di Kendari: Usai Injak Istri hingga Tewas, Jasad Korban Dimandikan dan Disisir

Ritual Ganjil Suami di Kendari: Usai Injak Istri hingga Tewas, Jasad Korban Dimandikan dan Disisir

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 23:48 WIB

Review Sepatu Lari Carbon Plate Lokal: Worth It Nggak Buat Pelari Pemula, Cuma Lari 5 KM?

Review Sepatu Lari Carbon Plate Lokal: Worth It Nggak Buat Pelari Pemula, Cuma Lari 5 KM?

Jakarta | Minggu, 31 Mei 2026 | 23:45 WIB

Gudang Limbah Membara di Cikarang, Api Sambar Pemukiman dan Truk

Gudang Limbah Membara di Cikarang, Api Sambar Pemukiman dan Truk

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 23:38 WIB

Presiden Prabowo: Cahaya Kebijaksanaan Waisak Jadi Fondasi Karakter dan Persatuan Bangsa

Presiden Prabowo: Cahaya Kebijaksanaan Waisak Jadi Fondasi Karakter dan Persatuan Bangsa

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 23:34 WIB

Cikeas Penuh Karangan Bunga, Para Tokoh Beri Penghormatan Terakhir untuk Ryamizard Ryacudu

Cikeas Penuh Karangan Bunga, Para Tokoh Beri Penghormatan Terakhir untuk Ryamizard Ryacudu

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 23:30 WIB

Liburan Berubah Jadi Duka, Bocah 7 Tahun Meninggal Usai Bermain di Waterpark Ketapang

Liburan Berubah Jadi Duka, Bocah 7 Tahun Meninggal Usai Bermain di Waterpark Ketapang

Kalbar | Minggu, 31 Mei 2026 | 23:28 WIB

12 Unit Damkar Berjibaku Jinakkan Kebakaran Gudang Limbah di Rawajulang

12 Unit Damkar Berjibaku Jinakkan Kebakaran Gudang Limbah di Rawajulang

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 23:26 WIB

ASN Depok Dilarang Live Medsos Selama Jam Kerja, Melanggar Bisa Kena Sanksi Disiplin

ASN Depok Dilarang Live Medsos Selama Jam Kerja, Melanggar Bisa Kena Sanksi Disiplin

Bogor | Minggu, 31 Mei 2026 | 23:23 WIB

Remaja Pembunuh Gadis 12 Tahun di Makassar Dijerat Pasal Berlapis, Ibu Korban Desak Hukuman Mati

Remaja Pembunuh Gadis 12 Tahun di Makassar Dijerat Pasal Berlapis, Ibu Korban Desak Hukuman Mati

News | Minggu, 31 Mei 2026 | 23:21 WIB