Selain itu, efisiensi energi di seluruh area operasional dari hulu ke hilir, juga memberikan penghematan biaya yang signifikan.
Sekaligus Pertamina mempunyai dampak secara tidak langsung memberikan kontribusi pada penurunan emisi karbon.
“Terobosan pasca restrukturisasi yang juga signifikan untuk mencapai efisiensi Pertamina Group adalah sentralisasi pengadaan barang dan jasa,” kata Dirut Pertamina.
“Serta integrasi dan optimalisasi seluruh aset dari hulu ke hilir,” ungkapnya.
Tidak hanya menghemat biaya, bahkan Pertamina Group juga berhasil meningkatkan pendapatan dengan melakukan ekspor produk-produk bernilai tambah tinggi.
Seperti produk minyak HVO (D100 berbasis kelapa sawit) dan Low Sulfur Fuel Oil.
Demand dunia terhadap produk-produk low carbon terus meningkat, dengan upgrading Kilang yang telah dilakukan.
Saat ini Pertamina mampu menghasilkan produk-produk tersebut, sehingga berhasil menangkap peluang yang sangat prospektif ini.
"Bagi kami, penghematan biaya bukan sekedar cutting cost, tapi mengubah operating model serta memperbaiki bisnis proses,” ujar Dirut Pertamina.
Baca Juga: Waspada Covid-19! Menkes Budi Dikabarkan Positif Terpapar
“Sehingga seluruh program tetap terlaksana dan seluruh target pun tercapai, namun dengan biaya yang lebih rendah,” kata Nicke.
“Pertamina akan terus melakukan berbagai upaya penghematan biaya, yang sekaligus mampu menurunkan emisi karbon, sehingga mendukung transisi energi Pertamina dan Indonesia" pungkasnya.