Selain dinilai dari pengaruh detak nadi dan saraf, penguji juga akan melihat reaksi ketika subjek menjawab setiap pertanyaan.
Pada tahap ini, para penguji bertugas untuk menyelidiki beberapa bukti yang kemudian diubah menjadi pertanyaan.
Layaknya sebuah interogasi, maka pertanyaan desain biasanya mampu menjebak Anda apabila melakukan kebohongan.
3. In test
Pada tahap in test, Anda akan melakukan ujian yang sebenarnya dengan menerima beberapa pertanyaan dari penguji.
Jumlah pertanyaan disesuaikan dengan kebutuhan pemeriksaan, sehingga dapat lebih banyak atau lebih sedikit.
Jenis pertanyaan yang digunakan mencakup pertanyaan kontrol yang bersifat umum. Selebihnya, sebanyak 3 dari 4 pertanyaan yang disajikan berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti.
4. Post test
Rangkaian tes kebohongan ini diakhiri dengan kegiatan post test, bertujuan untuk memeriksa data respon yang diberikan.
Dengan demikian, setiap tanggapan yang diberikan subjek dapat menghasilkan sebuah kesimpulan, apakah subjek sedang berbohong atau tidak.
Lie Detector mampu mengetahui dan mendeteksi kebohongan melalui reaksi magnetik dari beberapa titik tubuh terpenting. Sensor yang dipasang di tubuh akan melakukan tracking dan menunjukkan hasil.
Berikut ini beberapa jenis sensor pendeteksi yang digunakan dalam alat pendeteksi kebohongan, antara lain:
Sensor pneumonograph biasanya diletakkan di sekitar dada dan perut, sehingga dapat mendeteksi kontraksi pada otot dalam tubuh pasien yang sedang diteliti.
Sensor ini berfungsi untuk mengecek perubahan tekanan darah dan detak jantung. Biasanya diletakkan di bagian lengan supaya mampu mendeteksi aliran darah dan suara denyut jantung pasien.
Sensor terakhir yang digunakan dalam tes kebohongan yakni sensor skin resistance, fungsinya untuk mendeteksi keringat di bagian tangan.
Biasanya diletakkan pada jari tangan sehingga mengetahui kondisi pasien ketika sedang berbohong ataupun terpojok.