Covid-19 Tampaknya Tak Semematikan Dugaan Awal, Tapi Bukan Flu Biasa

Liberty Jemadu

Jum'at, 27 Maret 2020 | 07:45 WIB
Covid-19 Tampaknya Tak Semematikan Dugaan Awal, Tapi Bukan Flu Biasa
Petugas menyiapkan peralatan medis yang akan digunakan untuk Rumah Sakit Darurat penanganan COVID-19 di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Minggu (22/3). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Suara.com - Air bah infeksi Sars-CoV-2, virus dibalik pandemi Covid-19 telah disertai juga dengan banjir informasi, sehingga sulit untuk menyaring berita yang dapat diandalkan.

Salah satu pertanyaan yang paling penting adalah: seberapa mematikan virus Sars-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19 ini?

Sebelum ke sana: bertentangan dengan beberapa laporan, tidak ada bukti bahwa virus telah berevolusi menjadi galur baru yang lebih mematikan sejak muncul pada akhir 2019. Tentu saja, semua virus berevolusi, dan Sars-CoV-2 tidak terkecuali, tapi laporan adanya galur baru yang agresif sekarang telah dicabut.

SARS-CoV-2 tampaknya bermutasi (mengalami perubahan genetik) pada tingkat yang sama dengan coronavirus lainnya, seperti virus SARS 2002 dan virus yang menyebabkan Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS-CoV) pada 2012.

Laju ini kurang dari setengah laju virus influenza biasanya bermutasi, yang mutasinya sendiri cukup lambat dan memungkinkan vaksin flu tahunan diproduksi.

Jadi, seberapa mematikan virus ini?

Ini tidak mudah dijawab.

Laporan-laporan tentang tingkat mematikan virus ini berbeda jauh satu sama lain. Walaupun sebagian besar penderita berhasil pulih dari Covid-19, tidak sedikit yang tak mampu melawan kerusakan langsung, pneumonia, dan sepsis (komplikasi berbahaya akibat infeksi).

Pada 3 Maret, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa tingkat kematian Covid-19 adalah 3,4%. Perkiraan lain yang dikutip secara luas telah menyebut angka 3% atau 5%.

baca juga

Namun, sumber-sumber lain memperkirakan angkanya jauh di bawah 1%.

Salah satu alasan perbedaan ini adalah bahwa mereka sering menggunakan dua cara berbeda untuk menghitung angka kematian.

Persentase Fatalitas Kasus (Case Fatality Rate atau CFR) adalah jumlah kematian dibagi dengan jumlah infeksi yang diketahui. Angka ini bisa sangat bias ke atas atau ke bawah karena pengambilan sampel.

Bayangkan bila virus menginfeksi 100 orang; 70 tidak menunjukkan gejala dan tidak menyadari terinfeksi, sementara 30 jatuh sakit dan didiagnosis, serta 1 dari 30 orang ini meninggal.

Dalam contoh ini, angka kematian sebenarnya adalah 1% (1/100), tapi CFR adalah 3,3% (1/30).

Contoh lain: menurut laporan pemerintah Indonesia, sampai dengan 25 Maret 2020 (tiga minggu sejak kasus pertama diumumkan) tercatat penderita positif 790 orang dan 58 orang meninggal. Ini berarti CFR berada pada 7,34%.

Bias ini biasanya paling kuat selama tahap awal wabah, yakni ketika banyak kasus ringan tidak terdeteksi dan jumlah yang dikonfirmasi masih rendah.

Oleh karena itu, beberapa ahli epidemiologi sekarang menduga bahwa angka kematian yang dilaporkan pada tahap awal adalah perkiraan yang sangat berlebihan.

Ada cara mengukur kedua yang bisa kita gunakan di sini, yang lebih sesuai dengan ukuran “seberapa mematikan”. Persentase Fatalitas Infeksi (Infection Fatality Rate, IFR) adalah jumlah kematian dibagi dengan jumlah infeksi sesungguhnya (termasuk kasus yang dikonfirmasi dan tidak terdiagnosis).

Statistik ini lebih sulit untuk dihitung karena memerlukan perkiraan jumlah infeksi yang tidak terdeteksi. Salah satu perkiraan IFR untuk Covid-19 ditempatkan di angka 1%, dan beberapa data baru menunjukkan bahwa angka ini kredibel.

Seiring pengujian lebih luas dan ketat dilakukan, perbedaan antara kedua ukuran (CFR dan IFR) semakin kecil. Ini mungkin sedang terjadi di Korea Selatan, saat pengujian menyeluruh telah mendeteksi banyak infeksi ringan dan membawa perkiraan tingkat kematian turun menjadi 0,65%.

Demikian pula, kejadian yang melanda kapal pesiar Diamond Princess membawa penjelasan baru. Karantina yang ketat yang dilakukan di kapal itu berarti hampir semua kasus Covid-19 di kapal itu (bahkan yang tanpa gejala) diidentifikasi. Ada 7 kematian di antara lebih dari 600 infeksi di kapal itu, sehingga IFR tercatat sekitar 1,2%.

Ini lebih tinggi daripada di Korea Selatan, tapi mungkin wajar, mengingat sepertiga penumpang kapal itu berusia di atas 70 tahun.

Bukan cuma flu

Bagaimana pun, angka kematian 1% sangatlah merisaukan. Proyeksi yang baru dirilis menunjukkan 20 - 60 persen orang Australia dapat tertular SARS-CoV-2, ini bisa berarti 50.000 - 150.000 kematian.

Data yang dimiliki pemerintah Indonesia menunjukkan bahwa orang yang berisiko terpapar virus corona berjumlah antara 600.000 sampai 700.000. Tingkat kematian 1 persen di sini berarti 60.000-70.000 korban jiwa.

Sebagai perbandingan, sekitar 35 juta orang Amerika terkena flu tahun lalu, 34.000 di antaranya meninggal: kurang dari 0,1%. Covid-19 jauh lebih mematikan daripada flu musiman, terutama untuk orang yang lebih tua, dan tidak ada vaksin hingga kini.

Karena virus ini lebih menyerang orang lanjut usia, negara-negara dengan populasi yang menua akan lebih parah terkena dampak.

Jika menggunakan data demografi saja, angka kematian yang diproyeksikan di Italia adalah tujuh kali angka di Niger; Australia lebih buruk daripada rata-rata global. Tentu saja, tingkat kematian akhirnya juga akan tergantung pada sistem kesehatan dan respons penanggulangan masing-masing negara.

Kematian yang lebih sering terjadi pada penderita Covid-19 usia lanjut ini harus dipertimbangkan secara eksplisit dalam upaya memerangi wabah. Di Australia, 11 persen dari populasi berusia lebih dari 70 tahun dan diprediksi menyumbang 63 persen kematian.
Mengisolasi sebagian kecil lansia akan mengurangi separuh kematian dan berpotensi lebih praktis dibanding penguncian (lockdown) total seluruh populasi.

Kita perlu segera fokus pada cara terbaik untuk mencapai target ini. Pada saat artikel ini ditulis, Inggris sedang serius membahas strategi ini.

Ada juga sisi lain yang merisaukan bila tingkat kematian ternyata memang lebih rendah dari yang dilaporkan: ini berarti setiap kematian menyiratkan adanya jumlah infeksi yang jauh lebih besar.

Sebagian besar kematian Covid-19 terjadi setidaknya dua minggu setelah infeksi. Jadi, satu kematian hari ini berarti sekitar 100 orang sudah terinfeksi dua minggu lalu, dan jumlah orang terinfeksi itu kemungkinan meningkat secara eksponensial menjadi beberapa ratus pada hari ini.

Implikasinya jelas. Kita tidak bisa menunggu sampai banyak orang meninggal dalam sebuah kluster Covid-19 sebelum menerapkan tindakan penanggulangan ekstrem. Pada saat itu, wabah akan menjadi sangat besar dan sulit untuk dikelola.

Update: Sejumlah besar infeksi Covid-19 dan kematian di Wuhan sekarang telah dimodelkan untuk memastikan tingkat kematian. Sebuah penelitian menghitung metrik yang disebut sCFR, yang memperkirakan CFR ketika pengujian telah dilakukan cukup luas sehingga semua individu yang bergejala diidentifikasi sebagai kasus. Nilai sCFR yang dihitung adalah 1,4%, yang dapat dijadikan batas atas IFR di sana.

Artikel ini sudah ditayangkan sebelumnya di The Conversation.

The Conversation

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Skandal Sertifikat Vaksin Covid-19 Palsu, Granit Xhaka Kena Denda Rp3,2 Miliar

Skandal Sertifikat Vaksin Covid-19 Palsu, Granit Xhaka Kena Denda Rp3,2 Miliar

Bola | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 09:53 WIB

Kisah Sukses Zulhaida Sitanggang, Mampu Sulap Sampah Pasar Jadi Usaha Beromzet Jutaan Rupiah

Kisah Sukses Zulhaida Sitanggang, Mampu Sulap Sampah Pasar Jadi Usaha Beromzet Jutaan Rupiah

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 16:45 WIB

Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun

Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun

Otomotif | Rabu, 17 Juni 2026 | 15:38 WIB

Menkes Pastikan Risiko Ebola di Indonesia Rendah, Penularannya Tak Semudah Covid-19

Menkes Pastikan Risiko Ebola di Indonesia Rendah, Penularannya Tak Semudah Covid-19

News | Selasa, 02 Juni 2026 | 12:23 WIB

IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi

IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 15:05 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19

Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19

News | Minggu, 10 Mei 2026 | 06:05 WIB

Cek Fakta: Benarkah Hantavirus Disebabkan Efek Samping Vaksin Covid-19 Pfizer?

Cek Fakta: Benarkah Hantavirus Disebabkan Efek Samping Vaksin Covid-19 Pfizer?

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 16:24 WIB

Viral Cuitan 2022 yang Singgung Hantavirus 2026, Disebut Prediksi Masa Depan

Viral Cuitan 2022 yang Singgung Hantavirus 2026, Disebut Prediksi Masa Depan

Entertainment | Kamis, 07 Mei 2026 | 15:49 WIB

Ancaman Baru Setelah COVID? Argentina Dituding Jadi Sumber Wabah Hantavirus

Ancaman Baru Setelah COVID? Argentina Dituding Jadi Sumber Wabah Hantavirus

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 07:07 WIB

Terkini

Polemik Penggeledahan Rumah Tahfiz di Sukoharjo Kian Memanas, DPR Desak Pembentukan TGPF Independen

Polemik Penggeledahan Rumah Tahfiz di Sukoharjo Kian Memanas, DPR Desak Pembentukan TGPF Independen

News | Senin, 02 November 2026 | 01:02 WIB

KAI Mulai Buka Tiket Kereta untuk Perjalanan Desember 2026

KAI Mulai Buka Tiket Kereta untuk Perjalanan Desember 2026

Foto | Senin, 02 November 2026 | 00:11 WIB

SMK Nusantara Kembali Juara AXIS Nation Cup 2026

SMK Nusantara Kembali Juara AXIS Nation Cup 2026

Foto | Senin, 02 November 2026 | 00:09 WIB

Perang Dunia III di Depan Mata? Vladimir Putin: Rusia Siap Perang dengan Eropa

Perang Dunia III di Depan Mata? Vladimir Putin: Rusia Siap Perang dengan Eropa

News | Minggu, 01 November 2026 | 23:45 WIB

2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji

2 Juta Hektare Gambut Sumsel Punya Potensi Ekonomi, Bambu Betung dan Jelutung Diuji

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 23:42 WIB

Alex Marquez Persembahkan Podium untuk BK8 Gresini Racing di MotoGP Malaysia 2026

Alex Marquez Persembahkan Podium untuk BK8 Gresini Racing di MotoGP Malaysia 2026

Sport | Minggu, 01 November 2026 | 23:37 WIB

Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh

Nelayan Air Nyatoh Kehilangan Penghasilan, Tangkapan Ikan Teri Turun akibat Laut Keruh

Sumsel | Minggu, 01 November 2026 | 23:29 WIB

Kecelakaan Maut Bus Penumpang Tabrak Truk Berat: 10 Orang Tewas dan 24 Luka

Kecelakaan Maut Bus Penumpang Tabrak Truk Berat: 10 Orang Tewas dan 24 Luka

News | Minggu, 01 November 2026 | 23:00 WIB

Pura-pura Ban Motor Bocor, Pria di Bandar Lampung Diduga Bunuh Sepupunya

Pura-pura Ban Motor Bocor, Pria di Bandar Lampung Diduga Bunuh Sepupunya

Lampung | Minggu, 01 November 2026 | 22:48 WIB

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Viral Pasien Lansia Terlantar di Teras Puskesmas Bantarujeg, Ini Kronologinya

Jabar | Minggu, 01 November 2026 | 22:44 WIB

×