Covid-19: Apa Itu Gelombang Kedua dan Kapan Situasi Ini Terjadi?

BBC

BBC

Minggu, 21 Juni 2020 | 18:35 WIB
Covid-19: Apa Itu Gelombang Kedua dan Kapan Situasi  Ini Terjadi?
[BBC].

Suara.com - Pandemi virus corona jauh dari kata usai. Sejumlah negara masih bergulat mengatasi pandemi ini. Di sisi lain, negara yang diyakini mampu mengontrol wabah tadi kini khawatir pada kemunculan gelombang kedua.

Gelombang kedua pandemi flu Spanyol satu abad lalu lebih mematikan ketimbang saat muncul pertama kali.

Apakah gelombang kedua pandemi tidak bisa kita hindari? Dan seberapa buruk dampak yang akan dimunculkannya?

Apa yang dimaksud gelombang kedua?

Bayangkan gelombang air laut. Jumlah kasus positif Covid-19 meningkat, lalu turun. Setiap tren itu dikelompokkan menjadi satu gelombang.

Tidak ada definisi formal untuk istilah ini.

"Anda bisa mendefinisikan sendiri terminologi gelombang, ini bukan sesuatu yang sangat ilmiah," kata Mike Tildesley, akademisi di University of Warwick.

Sejumlah kalangan menyebut peningkatan kasus positif sebagai gelombang kedua. Namun kemunculan kasus baru ini kerap naik turun. Tren ini terjadi di beberapa negara bagian Amerika Serikat.

Untuk menyebut sebuah gelombang telah berakhir, penyebaran virus corona harus dikontrol dan jumlah kasusnya harus benar-benar turun.

baca juga

Sementara itu, gelombang kedua bisa dikatakan muncul ketika jumlah kasus positif secara terus-menerus meningkat.

Meski begitu, situasi itu tidak berlaku untuk Selandia Baru yang mengumumkan kasus positif pertama mereka setelah '24 hari tanpa Virus Corona'.

Gelombang kedua juga tak bisa disebut muncul di kota Beijing yang kembali menghadapi wabah usai 50 hari tanpa kasus positif.

Di sisi lain, para ilmuwan berdebat apakah kriteria gelombang kedua tadi cocok dengan situasi yang tengah berlangsung di Iran.

Apa yang memicu gelombang kedua?

Jawabannya adalah pencabutan pembatasan sosial secara menyeluruh.

Pembatasan itu telah menimbulkan gangguan hebat di seluruh penjuru dunia: perekonomian remuk dan anak-anak tak bisa menjalani pendidikan di sekolah. Namun pembatasan ini jelas mampu mengontrol penyebaran Virus Corona.

"Teka-teki utama yang belum terjawab adalah bagaimana mengontrol virus dan meminimalkan dampak terhadap kehidupan sehari-hari," kata Kucharski.

Tidak ada satupun studi yang bisa memastikan apa yang akan terjadi terkait pandemi ini ke depan.

Itulah mengapa sejumlah pembatasan sosial dicabut secara bertahap dan cara baru mengontrol virus corona diterapkan, seperti penelusuran kasus hingga penggunaan penutup wajah.

"Di Inggris dan negara-negara di sekitarnya, situasi buruk dapat cepat terjadi jika langkah-langkah yang diambil melampaui titik kendali," kata Kucharski.

Kondisi itu sudah mulai terjadi di Jerman, di mana 650 orang dinyatakan positif mengidap Covid-19 setelah virus itu mewabah di sebuah rumah potong hewan.

Situasi itu bukan masalah besar jika kluster dapat diidentifikasi dengan cepat dan penutupan wilayah dalam lingkup lokal diterapkan.

Jika strategi itu tak diambil, ratusan kasus positif baru itu dapat berkontribusi memunculkan gelombang kedua.

Korea Selatan, yang mendapat pujian luas atas kebijakan mereka menangani virus corona, kini memberlakukan kembali beberapa pembatasan karena adanya kluster semacam itu.

Akankah dampak gelombang kedua sama dengan yang pertama?

Sesuatu yang lebih buruk dapat terjadi jika gelombang kedua ditangani secara keliru.

Nilai R atau rata-rata jumlah orang yang terinfeksi virus adalah 3 pada awal pandemi ini.

Artinya, virus itu menyebar cepat, tapi perilaku kita telah berubah dan kita menjauhi aktivitas sosial. Dampaknya, nilai R sulit mencapai angka setinggi itu lagi.

Kucharski berkata kepada BBC, "Tidak ada negara yang akan mencabut semua larangan dan kembali hidup normal."

"Bahkan negara tak bisa mengendalikan virus corona, seperti Brasil dan India, tidak memiliki R 3,0."

Jika jumlah kasus mulai meningkat lagi, kemungkinan akan relatif lambat.

Namun, secara teoritis, kasus positif pada gelombang kedua bisa lebih banyak daripada yang pertama karena saat ini begitu banyak orang masuk kategori rentan.

"Tapi jika kasus naik lagi, kita dapat menerapkan kembali pembatasan sosial untuk menekan gelombang kedua. Itu adalah opsi yang selalu tersedia," kata Tildseley.

Kapan gelombang kedua akan terjadi? Akankah musim dingin memperburuk dampaknya?

Dr Kurcharski menyebut peningkatan kasus dalam lingkup lokal dapat terlihat beberapa minggu atau bulan mendatang, setelah berbagai pembatasan dicabut.

Namun bukan berarti gelombang kedua pasti akan terjadi.

Dr Tildseley mengatakan, "Jika pembatasan dicabut secara signifikan, gelombang kedua mungkin akan terjadi akhir Agustus atau awal September."

Musim dingin mungkin waktu yang sangat krusial karena Virus Corona lainnya bisa menyebar secara lebih mudah.

Jika kita hanya mengendalikan virusnya, faktor musim saja dapat menggenjot penyebaran virus.

"Musim semi tidak diragukan lagi membantu upaya kita," kata Profesor Jonathan Ball, seorang pakar virologi di Universitas Nottingham.

"Gelombang kedua hampir pasti tidak bisa dihindari, terutama saat kita menuju musim dingin.

"Tantangan bagi pemerintah adalah memastikan tidak terlalu banyak kasus positif pada puncak gelombang sehingga sistem kesehatan tak terbebani."

Apakah bahaya Virus Corona akan memudar sehingga tidak lagi menjadi masalah?

Satu pendapat menyebut bahaya Virus Corona akan berkurang. Alasannya, virus ini berevolusi untuk menginfeksi orang.

Virus HIV pun tampaknya semakin ringan. Teorinya ini menyatakan virus akan menyebar lebih jauh jika mereka tidak membunuh inangnya dan jadi lebih ringan.

"Tapi tidak ada jaminan, ini adalah sejumlah pemikiran malas beberapa ahli virus," kata Ball.

Melemahnya sebuah virus juga yang terjadi dalam waktu lama. Setelah lebih dari enam bulan pandemi, tidak ada bukti bahwa Virus Corona bermutasi sehingga lebih mudah menyebar lebih mudah dan tidak begitu mematikan.

Profesor Ball berkata, "Orang-orang sering mengalami infeksi yang sangat ringan atau bahkan tanpa gejala."

"Jika mereka dapat menularkan virus itu ke orang lain, maka tidak ada alasan untuk membayangkan virus corona akan menjadi lebih ringan," tuturnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun

Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun

Otomotif | Rabu, 17 Juni 2026 | 15:38 WIB

Menkes Pastikan Risiko Ebola di Indonesia Rendah, Penularannya Tak Semudah Covid-19

Menkes Pastikan Risiko Ebola di Indonesia Rendah, Penularannya Tak Semudah Covid-19

News | Selasa, 02 Juni 2026 | 12:23 WIB

IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi

IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 15:05 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19

Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19

News | Minggu, 10 Mei 2026 | 06:05 WIB

Cek Fakta: Benarkah Hantavirus Disebabkan Efek Samping Vaksin Covid-19 Pfizer?

Cek Fakta: Benarkah Hantavirus Disebabkan Efek Samping Vaksin Covid-19 Pfizer?

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 16:24 WIB

Viral Cuitan 2022 yang Singgung Hantavirus 2026, Disebut Prediksi Masa Depan

Viral Cuitan 2022 yang Singgung Hantavirus 2026, Disebut Prediksi Masa Depan

Entertainment | Kamis, 07 Mei 2026 | 15:49 WIB

Ancaman Baru Setelah COVID? Argentina Dituding Jadi Sumber Wabah Hantavirus

Ancaman Baru Setelah COVID? Argentina Dituding Jadi Sumber Wabah Hantavirus

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 07:07 WIB

Merayakan Luka Tanpa Sensor: Catatan Patah Hati di Buku Arman Dhani

Merayakan Luka Tanpa Sensor: Catatan Patah Hati di Buku Arman Dhani

Your Say | Kamis, 30 April 2026 | 09:05 WIB

'Kiamat' Pandemi COVID-19 Bisa Terulang Jika Selat Hormuz Terus Diblokir Iran

'Kiamat' Pandemi COVID-19 Bisa Terulang Jika Selat Hormuz Terus Diblokir Iran

News | Kamis, 23 April 2026 | 22:05 WIB

Terkini

Generasi Muda Disebut Jadi Kunci Hadapi Tantangan Perubahan Iklim hingga Ketahanan Pangan

Generasi Muda Disebut Jadi Kunci Hadapi Tantangan Perubahan Iklim hingga Ketahanan Pangan

Lifestyle | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:17 WIB

Dakwaan Dibatalkan Hakim, Jaksa Kembali Limpahkan Perkara dr Tifa ke PN Jakarta Timur

Dakwaan Dibatalkan Hakim, Jaksa Kembali Limpahkan Perkara dr Tifa ke PN Jakarta Timur

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:17 WIB

HKBP Perkuat Komitmen Tingkatkan Mutu Pendidikan

HKBP Perkuat Komitmen Tingkatkan Mutu Pendidikan

Sumut | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:07 WIB

Resmi Dihibahkan ke Pemprov Jabar, Teras Cihampelas Bandung Bakal Dibongkar Total

Resmi Dihibahkan ke Pemprov Jabar, Teras Cihampelas Bandung Bakal Dibongkar Total

Jabar | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:06 WIB

Hilirisasi Sawit RI Diklaim Sukses, 80% Ekspor Tak Lagi Produk Mentah

Hilirisasi Sawit RI Diklaim Sukses, 80% Ekspor Tak Lagi Produk Mentah

Bisnis | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:04 WIB

5 Fakta Kapal Jukung Terbakar di Sungai Musi, Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki

5 Fakta Kapal Jukung Terbakar di Sungai Musi, Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki

Sumsel | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:03 WIB

Bakery Singapura BIdik Pasar Kuliner RI, Ekspansi Perdana ke Jakarta

Bakery Singapura BIdik Pasar Kuliner RI, Ekspansi Perdana ke Jakarta

Bisnis | Rabu, 29 Juli 2026 | 21:00 WIB

BGN Enggan MBG Dibenturkan dengan Sekolah Roboh: Enggak Nyambung

BGN Enggan MBG Dibenturkan dengan Sekolah Roboh: Enggak Nyambung

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 20:58 WIB

GAC Beri Harga Spesial AION UT hingga HYPTEC HT di GIIAS 2026

GAC Beri Harga Spesial AION UT hingga HYPTEC HT di GIIAS 2026

Otomotif | Rabu, 29 Juli 2026 | 20:55 WIB

7 HP Murah Baterai Besar Fast Charging, Harga Mulai Rp1 Jutaan

7 HP Murah Baterai Besar Fast Charging, Harga Mulai Rp1 Jutaan

Tekno | Rabu, 29 Juli 2026 | 20:50 WIB

×