alexametrics

Mossad Periksa Kantor NSO Group yang Buat Spyware Pegasus

Liberty Jemadu | Dicky Prastya
Mossad Periksa Kantor NSO Group yang Buat Spyware Pegasus
NSO, perusahaan senjata siber asal Israel, diperiska Mossad karena dituding memata-matai pemimpin dunia, wartawan, dan aktivis menggunakan software Pegasus. Foto: Ilustrasi agen dinas rahasia Israel, Mossad. [Shutterstock]

Pegasus, software buatan NSO, dituding telah memata-matai para pemimpin dunia, wartawan, aktivis, dan tokoh politik.

Suara.com - Pemerintah Israel telah memeriksa kantor NSO Group, setelah software buatan perusahaan senjata siber itu diketahui digunakan untuk memata-matai presiden, politikus, wartawan dan aktivis di berbagai negara.

Dilaporkan Apple Insider, Senin (2/8/2021), Israel sendiri menolak menyebutkan nama lembaga yang tengah melakukan penyelidikan terhadap NSO. Namun media lokal menyebut bahwa yang menggelar penyelidikan adalah Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kehakiman, dan Mossad.

CEO NSO Group Shalev Hulio telah mengkonfirmasi adanya penyelidikan yang dilakukan otoritas Israel atas perusahaannya.

"Itu benar. Saya yakin sangat baik mereka memeriksa, karena kami tahu yang sebenarnya dan kami tahu bahwa daftar itu tidak pernah ada dan tidak terkait dengan NSO," kata Hulio.

Baca Juga: Bos Telegram Sebut Google dan Apple "Lalai", Pegasus Menyelusup sejak 2018

Saat ditanya apakah penyelidikan lebih lanjut kembali dilakukan, ia menjawab bahwa pihaknya berharap otoritas Israel dapat memeriksa semuanya dan memastikan bahwa tuduhan itu salah.

Sebagaimana diketahui, tuduhan ini bermula dari laporan kerja sama 17 media yang mengungkap peretasan 37 smartphone milik aktivis HAM, jurnalis, hingga pebisnis dengan Pegasus, software buatan NSO.

Laporan itu juga menyebutkan lebih dari 50.000 nomor telepon, 180 di antaranya adalah jurnalis, dijadikan target oleh para pengguna Pegasus.

Sementara itu, NSO Group telah membantah tuduhan tersebut. Hulio menyatakan perusahaannya tidak bertanggung jawab atas penyalahgunaan Pegasus oleh klien pemerintah.

"Kami menjual produk kami kepada pemerintah. Kami tidak memiliki cara untuk memantau apa yang dilakukan mereka," kata Hulio.

Baca Juga: Bos WhatsApp Benarkan Pejabat AS Jadi Target Pegasus

Komentar