Riset: Pelaku Kejahatan Siber Sasar Lembaga Pemerintahan dan Perusahaan Telekomunikasi

Dythia Novianty

Sabtu, 19 April 2025 | 17:01 WIB
Riset: Pelaku Kejahatan Siber Sasar Lembaga Pemerintahan dan Perusahaan Telekomunikasi
Ilustrasi Serangan SIber, Riset: Pelaku Kejahatan Siber Sasar Lembaga Pemerintahan dan Perusahaan Telekomunikasi, Sabtu (19/4/2025). [Pexels]

"Tim riset kami, Unit 42, baru-baru ini merilis Laporan Unit 42 Global Incident Response 2025 , yang menganalisis ratusan insiden siber besar dan menyoroti bagaimana peningkatan kecanggihan pelaku kejahatan meningkatkantantangan yang dihadapi bisnis di seluruh dunia," ujar Philippa Cogswell, Vice President dan Managing Partner, Unit 42, Asia-Pasifik & Jepang, Palo Alto Networks.

Ilustrasi Keamanan Siber, Riset: Pelaku Kejahatan Siber Sasar Lembaga Pemerintahan dan Perusahaan Telekomunikasi, Sabtu (19/4/2025). [Pexels]
Ilustrasi Keamanan Siber, Riset: Pelaku Kejahatan Siber Sasar Lembaga Pemerintahan dan Perusahaan Telekomunikasi, Sabtu (19/4/2025). [Pexels]

Berikut sejumlah temuan utama dari Laporan Unit 42 Global Incident Response 2025.

Pelaku serangan kini lebih mengutamakan aktivitas sabotase daripada pencurian data, dengan tujuan melumpuhkan bisnis dan memaksimalkan pemerasan.

Pada tahun 2024, sebanyak 86 persen insiden menyebabkan penghentian operasional atau kerusakan reputasi.

Kemudian, kasus meningkat tiga kali lipat pada tahun 2024, dengan pelaku menargetkan peran teknisi berbasis kontrak di perusahaan teknologi besar, layanan keuangan, media, dan kontraktor pertahanan pemerintah.

Teknik-teknik canggih, seperti perangkat KVM-over-IP berbasis hardware dan tunneling Visual Studio Code, semakin mempersulit deteksi.

Lalu, penyerang kini mampu melakukan eksfiltrasi data tiga kali lebih cepat daripada tahun 2021, dengan 25 persen kasus pencurian data dalam waktu lima jam, dan hampir 20 persen terjadi dalam waktu kurang dari 1 jam.

Sebanyak 70 persen insiden melibatkan tiga atau lebih vektor serangan, menegaskan pentingnya keamanan menyeluruh di berbagai aspek, termasuk endpoints, jaringan, lingkungan cloud, dan kerentanan pengguna.

Web browser masih tetap menjadi titik lemah, memfasilitasi 44 persen serangan melalui phishing, redirect berbahaya, dan unduhan malware.

baca juga

Sebanyak 23 persen serangan dimulai dengan phishing, memanfaatkan kerentanan sebagai vektor serangan utama.

GenAI telah membuat kampanye phishing menjadi lebih terukur, canggih, dan sulit dideteksi.

Ilustrasi AI, Riset: Pelaku Kejahatan Siber Sasar Lembaga Pemerintahan dan Perusahaan Telekomunikasi, Sabtu (19/4/2025). [Pexels]
Ilustrasi AI, Riset: Pelaku Kejahatan Siber Sasar Lembaga Pemerintahan dan Perusahaan Telekomunikasi, Sabtu (19/4/2025). [Pexels]

“Penjahat siber yang menargetkan organisasi di kawasan Asia-Pasifik dan Jepang tidak lagi hanya mencuri data, mereka secara aktif melumpuhkan seluruh operasi,” katanya dalam keterangan resminya, Sabtu (19/4/2025).

Dia menambahkan, pendekatan tradisional terhadap keamanan siber tidak lagi memadai untuk mengatasi kesenjangan visibilitas dan tantangan kompleksitas yang dihadapi organisasi saat ini.

"Untuk tetap menjadi yang terdepan dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang, perusahaan harus mengadopsi solusi keamanan otomatis berbasis AI yang mampu mengungguli ancaman dan memberikan perlindungan real-time yang komprehensif,” ungkap Adi Rusli, Country Manager, Indonesia, Palo Alto Networks.

Menurutnya, serangan siber terhadap sejumlah sektor penting seperti lembaga keuangan, penyedia layanan, dan instansi pemerintah di Indonesia semakin canggih, mengalihkan fokusnya dari pencurian data menjadi gangguan operasional berskala besar.

"Ini berarti bahwa bisnis harus mengambil pendekatan proaktif dalam rangka memperkuat pertahanan siber mereka dan membangun ekosistem digital yang lebih mumpuni," kata dia.

Adi Rusli melihat, keamanan siber adalah tanggung jawab bersama, membutuhkan kolaborasi dan pendekatanterpadu untuk tetap menjadi yang terdepan dan memastikan ketahanan terhadap ancaman siber yang terus berkembang.

Data untuk Laporan Unit 42 Global Incident Response 2025 ini diperoleh melalui lebih dari 500 kasusyang ditangani oleh Unit 42 antara Oktober 2023 dan Desember 2024, serta dari data kasus lainnya sejak tahun 2021.

Organisasi yang terdampak berbasis di 38 negara berbeda, termasuk Amerika Serikat, serta organisasi yang berlokasi di Eropa, Timur Tengah, dan Asia Pasifik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Awasi Anak! Terdeteksi 1,6 Juta Serangan Siber Ngumpet di Roblox

Awasi Anak! Terdeteksi 1,6 Juta Serangan Siber Ngumpet di Roblox

Tekno | Rabu, 12 Februari 2025 | 11:25 WIB

Hindari Password Ini! Daftar Kata Sandi Paling Rentan Diretas

Hindari Password Ini! Daftar Kata Sandi Paling Rentan Diretas

Tekno | Rabu, 12 Februari 2025 | 10:30 WIB

6 Serangan Siber Diprediksi pada 2025

6 Serangan Siber Diprediksi pada 2025

Tekno | Selasa, 11 Februari 2025 | 11:45 WIB

Modus Kejahatan Siber di 2025: AI hingga Rantai Pasokan Jadi Target Empuk

Modus Kejahatan Siber di 2025: AI hingga Rantai Pasokan Jadi Target Empuk

Tekno | Kamis, 06 Februari 2025 | 08:32 WIB

Komdigi Investigasi Dugaan Kebocoran Data Pegawai di Pusat Data dan Sarana Informatika

Komdigi Investigasi Dugaan Kebocoran Data Pegawai di Pusat Data dan Sarana Informatika

Tekno | Senin, 03 Februari 2025 | 22:35 WIB

Survei: 80 Persen Eksekutif Hadapi Tekanan Antara Menekan Biaya dan Meningkatkan Keamanan Siber

Survei: 80 Persen Eksekutif Hadapi Tekanan Antara Menekan Biaya dan Meningkatkan Keamanan Siber

Tekno | Senin, 03 Februari 2025 | 10:43 WIB

Terkini

Bedak Two Way Cake OMG Ada Berapa Shade? Cek Pilihan Warna dan Review Pembeli

Bedak Two Way Cake OMG Ada Berapa Shade? Cek Pilihan Warna dan Review Pembeli

Lifestyle | Minggu, 11 Oktober 2026 | 12:14 WIB

Kulit Sawo Matang Cocok Pakai Kacamata Warna Apa? Ini Rekomendasinya

Kulit Sawo Matang Cocok Pakai Kacamata Warna Apa? Ini Rekomendasinya

Lifestyle | Minggu, 11 Oktober 2026 | 12:14 WIB

4 Rekomendasi Film dan Serial Netflix di Akhir Pekan, Komedi hingga Horor

4 Rekomendasi Film dan Serial Netflix di Akhir Pekan, Komedi hingga Horor

Your Say | Minggu, 11 Oktober 2026 | 12:11 WIB

Defisit APBN Rp319 Triliun, Ekonomi RI Aman atau Tidak?

Defisit APBN Rp319 Triliun, Ekonomi RI Aman atau Tidak?

Bisnis | Minggu, 11 Oktober 2026 | 12:09 WIB

Hati-Hati, Kemasan Sangat Mirip! Ini Panduan BPOM Bedakan Vitamin Anak Asli dan Palsu

Hati-Hati, Kemasan Sangat Mirip! Ini Panduan BPOM Bedakan Vitamin Anak Asli dan Palsu

Health | Minggu, 11 Oktober 2026 | 12:00 WIB

Viral Video Mahasiswa Disembur Api di Asrama, Telkom University Turun Tangan

Viral Video Mahasiswa Disembur Api di Asrama, Telkom University Turun Tangan

News | Minggu, 11 Oktober 2026 | 12:00 WIB

Hendrix and Rocket: Being Brave, Rasa Takut Mengajarkan Arti Keberanian

Hendrix and Rocket: Being Brave, Rasa Takut Mengajarkan Arti Keberanian

Your Say | Minggu, 11 Oktober 2026 | 12:00 WIB

Pelembap Viva Hijau vs Kuning, Apa Bedanya? Ini Manfaat Keduanya untuk Wajah

Pelembap Viva Hijau vs Kuning, Apa Bedanya? Ini Manfaat Keduanya untuk Wajah

Lifestyle | Minggu, 11 Oktober 2026 | 11:55 WIB

Sekolah Rakyat Tak Boleh Jadi Tempat Terjadinya Tiga Dosa Besar Pendidikan

Sekolah Rakyat Tak Boleh Jadi Tempat Terjadinya Tiga Dosa Besar Pendidikan

News | Minggu, 11 Oktober 2026 | 11:45 WIB

11 Ekor Pari Mobula Satwa Dilindungi Mati Terpotong di Bali

11 Ekor Pari Mobula Satwa Dilindungi Mati Terpotong di Bali

Bali | Minggu, 11 Oktober 2026 | 11:33 WIB

×