- IAEA khawatir kebocoran radiasi besar dari fasilitas nuklir Iran akibat gempuran militer pada Maret 2026.
- IAEA belum menemukan bukti fisik kenaikan radiasi meskipun Iran menuduh AS dan Israel menyerang Natanz.
- Grossi memperingatkan potensi dampak fatal kebocoran radiasi yang bisa memaksa evakuasi wilayah besar dunia.
Suara.com - Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Raphael Grossi, menyatakan kekhawatiran mendalam terkait potensi kebocoran radiasi berskala besar akibat gempuran militer terhadap fasilitas nuklir di Iran.
Peringatan serius ini disampaikan dalam pertemuan darurat di Wina, Austria, menyusul eskalasi perang yang telah memasuki hari ketiga pada Maret 2026.
Meskipun laporan dari pihak Teheran menyebutkan adanya kerusakan, Grossi menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan bukti fisik yang menunjukkan fasilitas nuklir Iran telah meledak atau mengalami kebocoran.
Ketegangan dalam pertemuan IAEA memuncak saat Duta Besar Iran untuk badan pengawas tersebut, Reza Najafi, menuding Amerika Serikat dan Israel telah menghancurkan kompleks pengayaan nuklir Natanz pada hari Minggu kemarin.
"Sekali lagi, mereka menyerang fasilitas nuklir Iran yang damai dan berada di bawah pengawasan ketat kemarin," tegas Najafi, dilansir via The National.
Ia juga mengecam serangan tersebut sebagai "kejahatan agresi" yang telah merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, sosok yang selama ini mengeluarkan fatwa pelarangan senjata pemusnah massal.
Namun, Raphael Grossi memberikan klasifikasi berbeda berdasarkan pemantauan teknis:
- Tidak Ada Lonjakan Radiasi: Hingga saat ini, tidak terdeteksi adanya kenaikan tingkat radiasi di negara-negara yang berbatasan dengan Iran.
- Kondisi Fasilitas: IAEA mencatat belum ada indikasi kerusakan pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr, Reaktor Riset Teheran, maupun fasilitas siklus bahan bakar lainnya.
- Risiko Evakuasi: Grossi memperingatkan jika terjadi kebocoran, dampaknya bisa sangat fatal hingga memerlukan evakuasi wilayah seluas kota-kota besar dunia.
Diplomasi Nuklir di Ambang Kehancuran
Ironisnya, serangan udara yang diperintahkan Donald Trump ini terjadi justru saat Washington dan Teheran sedang berada di tengah proses negosiasi program nuklir.
Donald Trump sendiri sempat mengeklaim bahwa situs-situs nuklir di Fordow, Isfahan, dan Natanz telah "musnah total" akibat serangan udara AS. Meski belakangan hal ini dibantah dengan serangan Iran.
Hubungan antara Iran dan IAEA memang telah merenggang sejak perang singkat musim panas tahun lalu. Parlemen Iran sempat menghentikan seluruh kerja sama dengan badan pengawas tersebut karena menganggap IAEA gagal mengecam agresi militer Israel.
Namun, pada September 2025, kedua belah pihak sempat menandatangani kesepakatan baru untuk memulai kembali inspeksi.
"Situasinya sangat mengkhawatirkan. Kami tidak dapat mengesampingkan kemungkinan pelepasan radiologi dengan konsekuensi serius," ungkap Grossi sembari berharap Iran tetap menjaga jalur komunikasi dengan para inspektur internasional.
Isu nuklir Iran bukan sekadar masalah perang wilayah, melainkan ancaman terhadap stabilitas lingkungan dan ekonomi global. Ketidakpastian mengenai kondisi situs nuklir ini memicu volatilitas tinggi pada harga energi dan emas di pasar dunia.