- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mencatat laba bersih Rp252 miliar pada kuartal kedua tahun 2026.
- Sektor Fintech GoPay resmi menjadi kontributor profitabilitas utama perusahaan untuk pertama kalinya dalam sejarah.
- Manajemen GoTo mempertahankan target EBITDA Grup disesuaikan sekitar Rp3,2 hingga Rp3,4 triliun sepanjang tahun.
Suara.com - Selama bertahun-tahun, industri teknologi global dihantui oleh skeptisisme mengenai kapan perusahaan super-app raksasa bisa benar-benar menghasilkan profit berkelanjutan di luar strategi "bakar uang".
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) baru saja membuktikan bahwa transformasi model bisnis menuju kemandirian finansial bukan sekadar ambisi, melainkan realitas baru yang solid.
Memasuki kuartal kedua tahun 2026, GoTo kembali menorehkan tinta emas dengan mencatatkan laba bersih sebesar Rp252 miliar. Pencapaian ini menandai keberhasilan Perseroan mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, setelah pada kuartal sebelumnya mengantongi Rp171 miliar.
Tidak hanya sekadar "hijau", pertumbuhan ini didorong oleh akselerasi GTV inti yang melonjak tajam sebesar 83 perse (YoY) mencapai Rp164 triliun.
Fintech: Peta Jalan Inovasi yang Menggeser Dominasi ODS
Kejutan terbesar dalam laporan kali ini adalah pergeseran peta kekuatan di dalam ekosistem GoTo. Sektor Fintech (GoPay) kini resmi mengambil alih tongkat estafet sebagai kontributor profitabilitas utama, melampaui bisnis On-demand Services (Gojek) untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan.
Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, menegaskan bahwa pencapaian ini adalah hasil dari sinergi ekosistem yang semakin matang.
“Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp1,0 triliun untuk pertama kalinya," ujar Hans dalam keterangan resminya, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, bisnis Fintech juga terus menunjukkan kinerja yang unggul.
"Kini, profitabilitasnya telah melebihi bisnis On-demand Services untuk pertama kalinya. Hal ini menunjukkan kekuatan dan keseimbangan ekosistem kami,” tambah dia.
Kinerja Fintech memang fenomenal. Dengan pertumbuhan EBITDA yang disesuaikan melonjak 447 persen YoY menjadi Rp481 miliar, GoPay membuktikan bahwa inovasi produk pinjaman dan transaksi digital mereka sangat diminati.
Nilai buku pinjaman GoTo kini telah menembus angka Rp11 triliun, tumbuh 58 persen dengan kualitas aset yang tetap terjaga stabil.
Resiliensi Gojek di Tengah Aturan Komisi Baru
Di sisi lain, bisnis On-demand Services (ODS) atau Gojek menghadapi tantangan regulasi melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026 yang menetapkan struktur komisi baru sebesar 8 persen.
Meski aturan ini diperkirakan akan sedikit mengoreksi kontribusi ODS pada kuartal mendatang, manajemen tetap optimistis.
Hans Patuwo menjelaskan bahwa adaptasi teknologi dan fokus pada segmen pengguna loyal menjadi kunci.

“Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya. Karena itu, kami tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp3,2-3,4 triliun. Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar,” jelasnya.
Strategi Gojek kini bergeser lebih tajam, yakni mengincar pelanggan affluent (menengah ke atas) yang memiliki tingkat pengeluaran tinggi, yang tumbuh 21 persen di tahun ini, sembari tetap menyediakan produk mass market yang efisien bagi mitra driver.
Secara keseluruhan, GoTo Q2-2026 bukan lagi sekadar cerita tentang pertumbuhan pengguna, melainkan tentang kematangan teknologi finansial.
Pendapatan bersih yang naik 31 persen menjadi Rp5,7 triliun dan jumlah pengguna bertransaksi (ATU) mencapai 71 juta orang, GoTo telah bertransformasi dari sekadar penyedia layanan transportasi menjadi mesin inovasi finansial yang tangguh.