Aleksius Jemadu: Hasil Konferensi Asia-Afrika Sulit Terwujud

Pebriansyah Ariefana
Aleksius Jemadu: Hasil Konferensi Asia-Afrika Sulit Terwujud
Pengamat Hubungan Internasional, Aleksius Jemadu. (Pebriansyah Ariefana/Suara.com)

Sudah enam kali peringatan KAA digelar, Indonesia tidak punya aksi konkret.

Suara.com - Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 berakhir pada Kamis (23/5/2015). Dari konferensi tersebut, terdapat tiga dokumen yang dihasilkan.

Ketiga dokumen itu adalah pesan Bandung 2015, deklarasi penguatan kemitraan strategis Asia dan Afrika dan deklarasi kemerdekaan Palestina. Semua dokumen tersebut diharapkan bisa diwujudkan.

Pesan Bandung berisi rencana kerjasama mulai dari isu demokrasi, HAM, sampai reformasi PBB. Kedua soal kerjasama kerjasama kemitraan strategis yang salah satunya adalah sektor ekonomi. Kerjasama itu diharapkan bisa menjembatani kesenjangan pembangunan antara Asia dan Afrika. Sedangkan yang terakhir, negara peserta KAA sepakat mendorong kemerdekaan Palestina.

Pengamat Hubungan Internasional yang juga Guru Besar Universitas Pelita Harapan, Aleksius Jemadu berpandangan kritis soal implementasi usai  KAA. Sebab sudah 6 kali peringatan KAA digelar, Indonesia tidak terlalu mempunyai aksi konkret dalam menindaklanjuti kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan dalam konferensi tersebut.

Dalam kerjasama ekonomi, misalnya, Indonesia masih bergantung kepada negara-negara maju. Sementara itu, negara Asia-Afrika pun belum bisa lepas dari dominasi kekuatan barat. Sehingga kemerdekaan Palestina bisa jadi sulit terwujud.

Berikut wawancara suara.com dengan Aleksius Jemadu pekan lalu di ruang kerjanya di Universitas Pelita Harapan, Tangerang, Banten:

Sejauhmana Indonesia bisa mengimplementasikan 3 dokumen yang dihasilkan dalam KAA ke-60 tahun?

Pemerintah mengangkat isu di Asia-Afrika ini karena sebenarnya semata-mata karena prestige saja. Di masa lalu Indonesia pernah memimpin di antara negara-negara berkembang. Pemerintah sekarang tidak ingin kehilangan kesan itu. Tapi pada akhirnya isu ini harus dikaitkan dengan kepentingan rakyat kita.

Jangan dibuat terlalu elitis. Apa kaitannya dengan ekonomi kita? Rakyat yang nyata. Itu titik lemah kita. Karena apa yang dilakukan oleh Cina, India, Afrika. Mereka langsung mengambil tindakan  konkret,  baik dari aktor swasta atau pun  pemerintahnya. Kita itu bisa menang di prestige dan historis. Tapi langkah konkret untuk masuk ke pasar Afrika kita masih kalah. Kalah sekali. Di negara ASEAN saja kita masih ketinggalan, Malaysia dan Thailand. Jadi bagaimana tindak lanjutnya?

KKA ini sudah dilaksanakan berulang kali, terakhir tahun 2005 di era SBY. Anda melihat ada kemajuan dari tindak lanjut yang dilakukan Indonesia?

Bisa dikatakan sih tidak ada satu yang signifikan yah. Kerjasama selatan-selatan itu skala kecil. Lalu apa manfaatnya untuk Indonesia? Bisa dikatakan kita tidak melihat ada manfaat yang nyata. Kita masih terikat sama kebanggaan sejarah itu. Beda dengan negara lain, mengutamakan aksi konkret.

Afrika saat ini potensinya tengah naik luar biasa. Dia salah salah satu pasar alternatif untuk Indonesia ketika Eropa dan Amerika sedang menurun. Mampu nggak Indonesia memanfaatkan itu. Jadi, ini tergantung bagaimana kebijakan pemerintah dan swasta. Sinergi itu yang kita nggak punya. Anda  jangan bandingkan dengan Cina. Mereka sudah sangat kuat sekali.

Kenapa Indonesia tidak bisa manfaatkan pasar Afrika?

Memang ada jaringan ke sana, tetapi sinergi antara pemerintah dan swasta itu yang tidak ada. Indonesia belum sekuat negara Asia lain. Pemerintah harus punya suatu rencana yang melibatkan swasta. Lalu lihat potensi apa yang bermanfaat untuk pasar Afrika. Mungkin di sana banyak konflik, tapi dari sisi ekonomi tengah naik daun. Makanya Cina memanfaatkan sektor energi, kelas menengah lagi tumbuh.

Sejauhmana KAA ini bermanfaat untuk negara-negara pesertanya, karena masih banyak negara miskin di Afrika?

Diharapkan dokumen kemitraan strategis yang dihasilkan di KAA ini bisa memobilisasi dana internasional selatan-selatan. Kerjasama ini kan butuh dana. Dari mana dananya? Siapa yang punya dana? Amerika, Jepang, Cina. Itu yang harus dimobilisasi untuk memperbesar skala. Selama dana itu dari selatan sendiri, dananya kecil. Tidak akan mempunyai dampak besar. Tapi butuh kerja keras untuk memobilisasi dana itu.

Selama ada KAA, apakah negara pesertanya nyata membantu negara miskin?

Secara ekonomi ada kegiatan yang dilakukan, tapi tidak signifikan. Dana itu sangat terbatas. Itu karena negara berkembang punya prioritas lain yang lebih besar. Anda lihat target besar, ujung-ujungnya butuh dana juga.

Deklarasi KAA yang banyak menyita perhatian adalah dukungan kemerdekaan Palestina. Indonesia ingin berperan penting. Apakah ini bisa terwujud?

Penting juga, karena tekanan yang diberikan oleh dua benua ini sangat kuat. Jadi diperhitungkan Amerika dan Israel. Tapi jangan lupa di dalam negara-negara Asia-Afrika itu ada yang mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel. Nah, dalam hal ini Israel tidak tinggal diam, karena Israel sudah pasti akan melobi untuk menetralisir menyiapkan isu yang tidak memojokkan Israel. Ini sudah dilakukan, saya yakin itu. Sehingga statement yang dikeluarkan itu, okay mendukung pembebasan, tapi tidak terlalu keras.

Karena negara-negara Asia-Afrika itu banyak yang mempunyai hubungan dengan Israel. Semisal, Cina, India, Mesir, Singapura, Thailand, Filipina, Jepang. Mereka punya hubungan diplomatik dengan Israel. Jadi kita tidak bisa mengharapkan statement yang sangat tajam. Tapi nanti keluarnya akan netral sekali. Negara-negara yang menjadi teman Israel di Asia-Afrika ini akan mempengaruhi draf akhir dari statement dukungan kemerdekaan Palestina.

Jangan pikir negara-negara Asia Afrika punya state of mind sama seperti Indonesia. Sangat beragam sekali. Kalau Indonesia bela Pelestina, negara lain tidak akan sekeras Indonesia.

Indonesia menyatakan paling terdepan mendukung kemerdekaan palestina. Apakah ini hanya sekadar basa-basi atau Indonesia mampu?

Sebagai tuan rumah yang mempunyai kepentingan, Indonesia sudah diakui dunia dengan dukungannya terhadap Palestina. Tapi Indonesia ini harus menunjukkan kepada dunia, dengan bicara demi nilai-nilai Dasa Sila Bandung. Kita harus menyampaikan pesan ini. Kita harus menolak penjajahan satu bangsa kepada bangsa lain. Tapi tetap saja untuk menjadi mediator dalam konflik Palestina dan Israel itu tentu yang namanya mediator tidak hanya satu sisi aja. Bagaimana bisa mempengaruhi, menekan israel? Kalau kita bisa lakukan itu seperti yang dilakukan Turki dan Mesir, itu  luar biasa.

Kita bisa berbuat banyak untuk Palestina, tapi kalau tidak bisa berbuat apa-apa untuk menekan israel, sama saja dia bangun pemukian, serang Gaza. Kita tidak punya instrumen untuk menekan dia. Turki dan Mesir punya. Karena Israel sangat takut putus hubungan dengan Turki dan Mesir. Karena mereka negara yang berpengaruh di Timur Tengah, maka mereka leading di sana.

Dengan jumlah populasi muslim terbesar, seharusnya Indonesia mampu...

Iya tapi kita tidak punya instrumen untuk menekan dan menyampaikan itu. Karena kita tidak mempunyai hubungan diplomatik kan. Itu bedanya Mesir dan Turki. Misalnya, Israel sangat dirugikan saat Turki mengecam Benjamin Netanyahu. Sulitnya kita, punya kemauan yang baik tapi tidak mempunyai instrumen untuk menekan. Karena kita tidak mempunyai hubungan diplomatik.

Tapi sebenarnya Indonesia itu sebagai satu negara Asia yang menonjol dan pernah memimpin Asia Afrika itu sebenarnya punya instrumen. Kalau dia mau. Anda punya peluang dan instrumen untuk menekan Israel. Caranya kalau Anda punya hubungan dengan Israel, kalau tidak punya. Yah hanya ribut dari jauh saja. Israel nggak dengar.

Sedikitnya,  jika tidak mempunyai hubungan diplomatik, Anda punya instrumen untuk langsung kontak dia gitu lho. Kasih tahu ke Israel, kamu jangan lakukan ini lho. Kalau kamu lakukan ini risikonya kayak gini. Nah, kita tidak bisa ngomong dan tidak bisa mengancam.

Apa yang disegani Israel dari Indonesia?

Dia akan memperhitungkan Indonesia sebagai kekuatan yang moderat, sebagaimana Turki. Modal kita Indonesia jadi negara muslim terbesar,  tapi demokrasinya terkonsolidasi, berhasil. Anda lihat apa yang terjadi di Timur Tengah, di mana-mana demokrasi nggak jalan. Indonesia sudah melakukan pemilihan presiden langsung tiga kali. Artinya di sini, mitos bahwa Islam tidak bisa kompatibel dengan demokrasi, itu tidak benar.
Kita sudah buktikan bisa. Israel itu tahu. Seandainya kita bisa memainakn itu, bisa kita lakukan.

Kita bisa pengaruhi negara lain. Paling tidak Indonesia bisa berkata, jangan kamu menidas negara Palestina. Jangan kamu lakukan itu. Saya mengajak sahabat saya untuk menekan Anda lebih jauh.  Atau mempengaruhi negara Asia-Afrika lain untuk menekan. Turki dan Mesir sangat baik dengan Indonesia. Tinggal bagaimana pemerintah melakukannya.

Selama 60 tahun KAA, sejauhmana negara Asia-Afrika ini berusaha tidak tergantung dengan Eropa dan Amerika?

Agar negara tidak tergantung terdapat dominasi barat itu, biasanya tidak tergantung pada ajang kolektif internasional. Tapi upaya individu. Contoh Jepang, Cina, Korsel. Jadi Indonesia jangan terlalu berharap mekanismenya kolektif ini membuat Indonesia naik kelas dan menantang barat. Nggak!

Misal, bagaimana Jepang bisa menantang Barat? Dia bangun sediri. Cina, dia jadi kekuatan dunia. Korsel, jadi negara industri baru. Itu usaha nasional. Jadi starting point itu di upaya nasional. Bukan internasional. Apakah negara naik kelas itu berdasar bantuan negara lain? Itu nggak. Jangka panjang dari dalam negeri. Cina butuh tiga dekade, India begitu.

Kebijakan luar negeri kita berangkat dari mindset, solusi ada di tingkat kolektif. Misal bagaimana kita gunakan ASEAN sebagai forum. Kita banyak mengajak negara lain dalam sebuah kebijakan. Padahal solusinya di tingkat nasional. Bagaimana Anda bangun itu dari dalam, politik, ekonomi dan sektor swasta. Itu minimal bisa dibangun dua dekade. Tapi Indonesia punya peluang.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS