Djarot S. Wisnubroto: Indonesia Sulit "Go Nuklir" karena Politik

Pebriansyah Ariefana
Djarot S. Wisnubroto: Indonesia Sulit "Go Nuklir" karena Politik
Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Pengembangan teknologi nuklir di Indonesia 'mentok' sampai di tingkat riset.

Suara.com - Pemerintah, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral percaya diri menyebutkan target tahun 2025, listrik di Indonesia bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Itu diamini oleh kementerian lainnya.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M Nasir menyebut pemenuhan target 35 ribu MW listrik tahun 2025 bisa terpenuhi jika Indonesia membangun pembangkit listrik tenaga nuklir. Kementerian ESDM mematok akan dibangun 5 reaktor sampai 2025 nanti.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto hanya tersenyum dan sejenak terdiam bila mendengar paparan Menteri di atas. Kepada suara.com, lulusan Nuclear Engineering, Universitas Tokyo Jepang itu mengatakan bisa saja Indonesia "go nuklir".

Namun dia banyak cerita, janji 'go nuklir' di Indonesia sudah didengungkan sejak era Presiden Soeharto. Keinginan Indonesia mempunyai PLTN pun naik turun. Sampai terakhir proyek PLTN di Banten yang belum rampung.

Indonesia sebenarnya sudah butuh nuklir sejak 10 tahun lalu di tengah energi fosil terus berkurang. Namun selama itu, pengembangan teknologi nuklir di Indonesia 'mentok' sampai di tingkat riset.

Kata Djarot, dukungan politik untuk membangun pembangkit listri tenaga nuklir menjadi hambatan. Padahal semakin lama kebutuhan pengembangan nuklir untuk pemenuhan energi semakin mendesak.

Seberapa mendesak Indonesia harus memiliki PLTN? Berikut wawancara lengkap suara.com dengan Djarot Sulistio Wisnubroto belum lama ini:

Seberapa serius Indonesia akan membangun 5 reaktor nuklir sampai 2025 nanti?

Lima? Siapa yang bilang 5?

Menristek dan Menteri ESDM

Oh.. begini. Batan, oleh pemerintah ditetapkan sebagai lembaga Litbang di bidang kenukliran. Kita biasanya diminta membantu menetapkan lokasi. Di mana saja lokasinya? Dulu kita ada amanat di Jepara. Kita sudah selesaikan.

Amanat kedua di Banten. Tapi kita belum sampai selesai di Banten, karena ada keengganan dari pemerintah setempat. Ketiga di Bangka Belitung, kita sudah selesaikan studi tapak, kelayakan tahun 2013. Kemudian ada di beberapa daerah seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Batam. Kami nyatakan kami siap.

Tapi itu karena BATAN hanya lembaga Litbang, saya bilang dimohon itu bener-bener diseriusi.

Apakah sudah ada investor yang tertarik?

Kalimantan Timur tertarik, makanya kami lakukan studi kelayakan. Mereka meminta Batan melakukan itu. Tapi selama ini kami belajar dari masa lalu, biaya pemerintah pusat diberikan ke Batan. Tapi seolah-olah Batan yang ngotot. Tapi ini yang ingin dari pemerintah setempat. Kalau nggak yang 'dipukuli' hanya orang Batan.

Batan punya reaktor riset, reaktor sungguhan. Kita juga akan membangun reaktor riset juga di Serpong. Ada yang takut nggak? Di Bandung reaktor di sebelah kebon binatang, di Jogja di sebelah Hotel Sahid, dan di Serpong itu sekarang banyak perumahan mahal. Aman-aman saja kan.

Ketika Jogja ada gempa tahun 2006, semua aman. Itu yang ingin kita tunjukkan jika nuklir itu aman. Itulah modal kita untuk memberi pendidikan ke masyarakat.

Pernah ke reaktor Serpong? Bagus itu. Bahkan Pak Habibie itu kagum saat datang ke sana. Usia reaktor sudah 28 tahun. Separuh usianya. Dan masih indah. Pak Habibie kaget, masih bagus ini. Berarti kita bisa merawat, itu modal kita. Tapi kalau ada yang khawatir itu wajar.

Di Serpong nanti akan dibangun reaktor nuklir untuk PLTN, di sana penduduknya banyak. Bagaimana bisa menjamin reaktor itu aman?

Kalau bangun PLTN di pulau yang kecil, bagaimana untuk mengalirkan listrik ke pulau yang besar?

Pakai kabel...

Mahal sekali. Itu kan berarti, kita nggak yakin PLTN ini aman. Tapi memang pernah ada yang usul di Pulau Seribu saja bangun PLTN-nya. Dari sisi keamanan justru itu membahayakan. Kalau kita melihat sistem keamanan, kalau itu di pulau kecil, kemudian dikelilingi laut, kalau orang melakukan sabotase akan mudah. Kalau kecelakaan terjadi kayak di Fukushima, nanti tercemar air laut, kalau makan ikan bagaimana? Tetap bahaya.

Kita lihat di Fukushima itu tidak terjadi ledakan yang signifikan. Jadi apa yang Anda pertanyakan saya bisa paham. Mengapa dibangun reaktor? Kita sudah berpengalaman membangun reaktor yang sama di Serpong, lebih besar. Daerah itu selama ini aman. Saya tinggal tinggal tidak lebih dari 1 km dari reaktor. Anda membayangkan saya ketakutan? Nggak kan.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS