Warsito Taruno: Lebih Bebas Jadi Peneliti Swasta daripada Negara

Pebriansyah Ariefana
Warsito Taruno: Lebih Bebas Jadi Peneliti Swasta daripada Negara
Warsito Purwo Taruno. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)

"Kebebasan, untuk peneliti itu adalah mutlak," kata Warsito.

Suara.com - Tidak banyak peneliti seperti Warsito Purwo Taruno. Lelaki kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah itu masih akif sebagai penemu sebagai alat-alat canggih di Indonesia tanpa bantuan dari uang negara sepeser pun.

Sejak berkuliah S2 di Shizouka University Jepang, Warsito sudah menghasilkan sedikitnya 7 penemuan di bidang fisika dan kimia sampai saat ini. Sementara ada 100 lebih publikasi penelitian di tingkat internasional.

Selama 12 tahun di Jepang dan 6 tahun di Amerika Serikat, tidak membuat Warsito lupa dengan Indonesia. Dia rela kembali ke Indonesia dan meniti karier sebagai peneliti dari nol. Dia memutuskan untuk menjadi peneliti swasta yang membangun perusahaan riset.

Warsito ingin berbebas berinovasi dan mengembangkan ciptaannya dengan modal sendiri. Dia juga mendapat bantuan dari swasta dan bantuan dari Ohio State University, Amerika Serikat. Warsito menghitung, jika menjadi peneliti di lembaga negara, dia tidak akan bebas menghasilkan penemuan-penemuan.

"Kebebasan, untuk peneliti itu adalah mutlak. Kebebasan berpikir. Makanya saya berpikir tempatnya itu di swasta," kata ayah 4 anak yang tinggal menetap di Kota Tangerang, Banten itu.

Salah satu penemuan terbesar Warsito adalah alat pembasmi sel kanker yang menjamin tingkat survival hampir 80 persen. Artinya tingkat harapan hidup penderita kanker hingga 80 persen. Itu sudah digunakan kepada 10 ribu pasiennya di Center for Tomography Research Laboratory (CTECH Labs) EdWar Technology, perusahaan riset yang dia dirikan sejak 2004 lalu.

Sampai saat ini Warsito masih melakukan riset untuk beberapa penemuannya, apa saja itu? Bagaimana kisah Warsito sebagai peneliti swasta Indonesia berkelas internasional yang berpenghasilan jutaan dolar?

Berikut wawancara suara.com dengan DR. Warsito Purwo Taruno, M.eng di kantornya di kawasan Alam Sutera, Tangerang Selatan pekan lalu:

Ada berapa jumlah penemuan Anda sampai saat ini?

Kalau yang terus bisa dipakai, pertama alat untuk pemindai pemprosesan minyak di Jepang atau bio reaktor. Reaktor itu mesin untuk  memproses zat kimia atau zat bio kimia. Kedua, alat untuk menghancurkan limbah dengan gelombang suara. Keduanya dipatenkan di Jepang. Ketiga, waktu di Amerika Serikat pengembangan sistem atau metode untuk memindai mesin pemprosesan minyak dengan menggunakan gelombang listik. Alat ini bisa melihat tembus pandang dalamnya mesin itu.

Keempat, metode algoritma dalam bentuk software komputer. Program itu untuk memproses citra bagaimana bisa mengubah gelombang menjadi citra di dalam objek itu. Lalu setelah saya balik ke Indonesia, saya membuat alat untuk sistem pemindai tabung gas Transjakarta. Alat ini bisa lihat objek di dalamnya sehingga mengetahui keadaan tabung gas berkarat atau tidak. Jika tabung gas berkarat, maka bisa meledak kapan saja. Karena tabung gas ini bertekanan tinggi.

Lalu saya membuat scaner atau alat pemindai otak manusia. Kondisi otak bisa terlihat dengan alat ini. Selanjutnya pengembangan dari alat itu adalah pemindai kanker payudara. Lalu alat untuk terapi kanker dan saat ini tengah dibuat aat scanner untuk seluruh tubuh.

Di luar penemuan alat itu, ada juga publikasi penelitian yang jumlahnya lebih dari 100 buah di tingkat nasional dan internasional. Semua tentang gelombang. Bagaimana gelombang itu bisa dipakai untuk melihat tembus pandang. Gelombang bisa pakai terapi dan menghancurkan limbah organik.

Bagaimana awal perjalanan Anda hingga menjadi peneliti dengan status 'penemu'?

Saya ingin jadi peneliti sejak kecil. Saya senang melihat bekerja di lab dengan memakai baju putih. Sekolah Dasar saya di dusun dekat Gunung Lawu. Saat itu tidak banyak peneliti. Nama yang terdengar hanya BJ Habibie.

Lalu saya bersekolah di Jepang dengan mendapatkan beasiswa dari BPPT tahun 1988 di Tokyo International Japanese School. Saya lanjut S2 dengan mengambil teknik Kimia di Shizouka University Jepang tahun 1992. Itu jurusan yang segala macam ada, saya belajar dari tentang proses kimia, mesin kimia, bahan kimia, elektronika, biokimia, sel, biologi dan kedokteran.

Teknologi kedokteran saya pelajari. Lalu gelar doktor saya dapat di bidang aplikasi elektronika dari Shizouka University Jepang tahun 1997. Saya sempat kerja di universitas itu. Lalu tahun 1999 pindah ke Amerika Serikat untuk bekerja di Ohio State University sampai tahun 2004.

Tidak banyak orang tertarik di dunia riset, apa yang membuat Anda tertarik?

Yang jelas, saya suka fisika dan matematika. Masuk ke teknik kimia, saya cenderung berpikir secara matematik dan fisika. Makanya saya konsentrasi ke bidang gelombang. Saya berfikir, dari gelombang itu bagaimana bisa diaplikasikan ke alat? Saya mencari riset yang mengembangkan konten seperti itu.

Saya berpikir ingin membuat alat yang membuat manfaat bagi banyak orang. Paling nggak alat itu tidak sia-sia, atau bisa dipakai di perusahaan dan industri. Saya berpikir sepeti itu.

Kemudian saya merasa ingin membayangkan ingin punya pekerjaan dan profesi yang memang aplikatif dari ilmu yang selama ini dipelajari. Makanya selama di Jepang dan Amerika saya penuh dengan riset.

Begitu balik di Indonesia bagaimana? Kalau masuk lembaga penelitian pemerintah, mungkin kesempatan untuk melakukan penelitian sesuai apa yang diinginkan, itu kemungkinan kecil. Terutama harus mengikuti lingkungan yang ada. Itu agak kurang cocok dengan saya. Karena saya akan masuk ke institusi yang harus mengikuti apa yang ada di situ kan. Belum tentu sesuai dengan yang digeluti selama 12 tahun di Jepang dan 6 tahun di Amerika Serikat.

Bagi saya, saat itu berpikir yang paling bagus dan sesuai dengan yang kita kerjakan harus seperti hobi. Jadi kondisi apapun seperti mengerjakan hobi. Bagaimana menyalurkan itu? Saya membangun riset di Indonesia mulai dari di sebuah ruko.

Sampai 2011 ada ruko di Modern Land, Kota Tangerang. Waktu itu belum mendirikan perusahaan, baru riset aja sendiri. Tidak ada institusinya, perusahaan garasi lah.

Yang dikerjakan tentang argoritma, karena itu yang hanya bisa dikerjakan dari sekian banyak pekerjaan. Kalau perlatan kan nggak mungkin, dana riset nggak ada. Yang bisa dikerjakan sendiri adalah membuat software, asal ada komputer. Saya link ke Amerika Serikat, kita kerjakan software di Indonesia. Saya dapat funding dari Amerika.

Di Jepang, seharusnya Anda mempunyai ruang lebih besar untuk menciptakan sebuah penemuan karena infrastruktur di sana lengkap, begitu juga di Amerika Serikat. Apa yang mendorong Anda pulang ke Indonesia?

Saya ingin pulang sejak tahun 1999, saat itu Indonesia tengah parah-parahnya. Karena kondisinya terlalu parah, saya ke Amerika. Karena ada tawaran pekerjaan. Tapi selama 12 tahun di Jepang, saya merasa itu sudah sangat bosan. Segala sesuatu sudah teratur.

Kalau saya berkarirnya sukses, saya kira tidak banyak hal yang bisa saya kerjakan untuk masyarakat luas. Di Jepang kan sudah ada semua, kita hanya mengerjakan satu titik di tengah lautan.

Waktu itu sempat ditawari jadi asosiate profesor itu posisi yang nggak gampang. Karena saya baru lulus dan orang asing. Setelah di sana 2 tahun. Saya ingin mencari sesuatu yang baru dan tantangan baru. Lebih terasa hidup daripada kemapanan itu sendiri.

Dan itu juga keputusan ke Indonesia juga begitu. Memang dari awalnyanya nggak mau lama di Amerika, maksimum 3 tahun tapi sampai 6 tahun. Itu terlalu lama. Itu juga yang menjadi alasan saya kembali ke Indonesia, meskipun saya tahu Indonesia itu berat. Tapi kalau saya tidak putuskan, saya tidak akan bisa memulai. Dari tahun 2003 sampai 2006, sebenarnya sudah separuh di Indonesia separuh di AS.
Saya di Indonesia dari nol. Dengan sengala sesuatunya segalanya. Sampai kemudian mencoba untuk mengembangkan sistem sendiri, membuat alat.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS