Agus Supriyanto: Di Balik Ruang Belajar Anak Jalanan di Tengah Rimba Beton

Pebriansyah Ariefana | Muhammad Yasir
Agus Supriyanto: Di Balik Ruang Belajar Anak Jalanan di Tengah Rimba Beton
Agus Supriyanto. (Suara.com/Yasir)

Agus Supriyanto mempunyai jawaban pasti dan kongkrit, bagaimana cara orang miskin bisa sekolah. Tak perlu berjanji, dia langsung menjawabnya.

Pendekatan seperti apa yang Anda lakukan kepada orang tua peserta didik dan lingkungan di sekitar SAAJA?

Awalnya memang masih banyak orang tua yang justru mengarahkan anak-anaknya turun ke jalanan untuk membantu ekonomi mereka. Itu memang sempat menjadi tantangan bagi kami. Tapi, pergeseran semangat orang tua saat ini sudah berubah. Sebagian dari mereka kini pun sudah sadar betapa pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya.

Di samping itu, kami juga melakukan pendekatan informal dengan orang tua anak-anak. Pertama, kami selalu berkomunikasi tatap muka dengan orang tua anak-anak. Sesekali kita juga membuat satu pertemuan bersama dengan orang tua anak-anak dan membuat satu kegiatan senam pagi bersama orang tua anak-anak setiap Sabtu, itu jug sebagai bentuk pendekatan kami dengan orang tua anak-anak.

Sementara, pendektan dengan lingkungan sekitar itu sendiri, berhubung di sini tidak terlalu banyak pemukiman warga hampir semua mengapresiasi. Kedua masyarakat yang berintekasi secara ekonomi disini juga tidak terganggu dengan kegiatan kita.

Mengapa Anda tertarik terjun dalam kegiatan sosial khususnya di bidang pendidikan bagi anak-anak dari keluarga penyandang masalah kesejahteraan sosial ( PMKS )?

Awalnya seperti yang sudah saya jelaskan terkait awal mula berdirinya SAAJA yang berangkat dari keprihatinan kami terhadap anak-anak di jalanan.

Kedua, jujur saya secara akademis tidak ada kaitannya dengan kegitan sosial ini. Saya sendiri merupakan lulusan manajemen ASMI ‘kampus ungu’. Saya juga enggak bisa menjelaskan, tapi bagamiana saya ketika berada di tengah-tengah anak-anak dan orang tua mereka hanya hanya meluapkan itu dengan rasa kasih sayangan saya.

Anak-anak sudah seperti anak saya sendiri, dan orang tua mereka sudah seperti keluarga bagi saya. Makanya anak-anak dan orang tua mereka memanggil saya ayah Agus. Ini yang pada akhirnya, dengan segala keterbatasan saya yang sebenarnya secara akademis saya tidak lah berkaitan dengan kegiatan yang saya bangun ini, tapi saya bisa berperan melalui kegiatan ini pada akhirnya semua itu mengalir saja.

Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA). (Suara.com/Yasir)
Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA). (Suara.com/Yasir)

Bagaimana anda menghidupkan SAAJA ini hingga berdiri hampir 18 tahun. Apakah ada donatur dari perusahaan atau perorangan untuk membiayai kebutuhan SAAJA?

Saat ini kami memiliki dua donatur tetap. Beberapa kali memang kami sempat mengalami fase-fase dimana stabil dan tidak stabil. Kalau memang tidak ada donatur tetap memang kami kerap mengalami kerepotan. Donatur ini membantu untuk insentif tenaga pengajar, tapi kebanyakan belakangan ini mereka memberikan fasilitas seperti buku dan sarana yang lain.

Tapi di luar itu juga ada sumbangan dari donatur tidak tetap. Bagaimana kegiatan ini bisa berjalan, memang dana ini menjadi kendala kami. Kami juga berharap donatur tetap itu terus ada. Meski begitu, kami bersyukur, ada relawan-relawan yang turut membantu kami sebagai tenaga pengajar.

Anda sempat mengatakan kalau SAAJA sempat beberapa kali ingin digusur, bagaimana ceritanya?

Iya, memang kami memiliki kendala terkait legalitas domisili SAAJA yang berdiri di atas lahan milik Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) DKI Jakarta.

Ada beberapa kali, seingat saya lebih dari tujuh kali saya menerima surat penggusuran. Tapi, saya selalu mempertanyakan apa alasannya, kalau memang mau menggusur gubuk ini saya selalu ajak mereka untuk berbicara. Kami hanya ingin mengetahui alasan dan solusinya.

Kalau hanya serta-merta menggusur tanpa ada alasan dan solusi kedepan untuk kami, itu sama saja menggusur semangat SAAJA dan saya akan lawan itu. Tapi sampai saat ini, memang tidak ada kejelasan, jangan juga kami ini terus digantung dan dihantui penggusuran.

Seharusnya, pemerintah provinsi (pemprov) DKI Jakarta, jangan juga melihat kelompok masyarkat penggiat pendidikan seperti kami ini, seakan-akan menggangu kebijakan, padahal tidak begitu. Kami hanya ingin meminta satu ruang untuk kegiatan belajar dengan masyarakat, dimonitor pun kami terima. Karena, kami juga tidak ada ketertutupan di sini.

Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA). (Suara.com/Yasir)
Sekolah Alternatif Anak Jalanan (SAAJA). (Suara.com/Yasir)

Apa harapan Anda?

Saya berharap Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan sebagai mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mau menjemput dan merangkul kami seagai penggiat pendidikan. Persoalan pendidikan di Jakarta diselesaikan.

Sehingga kami berharap, penggiat-penggiat pendidikan di Jakarta bisa diinventarisasi dan dipertemukan semua. Karena semangat semacam itu ada di masyarakat. Seharusnya, sebagai gubernur menjemput bola dan mengajak para penggiat pendidikan untuk sama-sama membantu membenahi permasalahan pendidikan di ibu kota ini yang memang nyatanya masih ada ketidakmerataan pendidikan itu.

Menurut saya masih banyak gubuk-gubuk pendidikan lainnya di Jakarta, tidak hanya SAAJA. Tapi sampai saat ini, saya belum melihat adanya upaya dari pemprov untuk meninventirisasi kami.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS