Benny Wenda Membalas Wiranto: Solusi Dua Negara, Referendum untuk Papua

Tim Liputan Khusus
Benny Wenda Membalas Wiranto: Solusi Dua Negara, Referendum untuk Papua
Benny Wenda [Diilustrasikan dari foto oleh Suara.com]

"Indonesia sebaiknya belajar dari Papua Nugini, yang memberikan hak referendum bagi rakyat Pulau Bougainville."

Apa yang Anda harapkan dari Indonesia kini?

Ya, sebenarnya ini berkaitan dengan tuduhan-tuduhan Wiranto kepada saya. Dia menuduh saya dalang kerusuhan karena reputasinya dan Indonesia di dunia internasional sudah hancur.

Bagi dunia internasional, apa yang dilakukan pemerintah Indonesia terhadap bangsa Papua seperti Afrika Selatan era apartheid.

Pemerintah Indonesia pretending good guy di setiap forum internasional termasuk PBB, bilang ‘Ya kami  treat well, very well to Papua,” padahal melakukan praktik kolonialisme.

Jadi, Anda ingin Indonesia bagaimana?

Indonesia seharusnya belajar dari Prancis, yang memberikan hak referendum, hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat New Caledonia.

Atau Indonesia sebaiknya belajar dari Papua Nugini, yang memberikan hak referendum bagi rakyat Pulau Bougainville.

Rakyat Pulau Bougainville selama 20 tahun terakhir diberikan otonomi khusus oleh Papua Nugini. Dan, November 2019, Papua Nugini memberikan kebebasan bagi rakyat Pulau Bougainville untuk menggelar referendum, memilih tetap bersama atau merdeka.

Sekarang soal Papua, Indonesia sudah memberikan otonomi khusus selama 19 tahun. Apa berhasil? Tidak?

Seharusnya Indonesia belajarlah kepada Papua Nugini, beri kami hak referendum.

Ketua United Liberation Movement for West Papua Benny Wenda. [The Guardian]
Ketua United Liberation Movement for West Papua Benny Wenda. [The Guardian]

Solusi perdamaian adalah dengan eksistensi dua negara?

Ya, benar, solusi perdamaian adalah eksistensi dua negara, Indonesia dan Papua.

Saya jamin, akan ada kedamaian di kedua belah pihak kalau kolonialisme dihentikan dan Papua merdeka.

Lagi pula, Indonesia akan bangga berhadapan dengan komunitas internasional, kalau memberikan hak referendum bagi Papua.

Pemerintah Indonesia bisa berbangga diri di hadapan negara-negara lain, “Hei, lihat kami, Indonesia memberikan hak referendum untuk bangsa Papua.”

Tak seperti sekarang, mereka malu di hadapan negara-negara lain.

Apakah referendum didukung dunia internasional?

Ya, PBB sudah banyak mendapat masukan dari kami maupun negara-negara lain. Referendum adalah solusi perdamaian untuk Papua.

Dalam Pasific Islands Forum, dua pekan lalu, ada 18 negara yang mengadopsi resolusi itu dan meminta PBB untuk datang ke Papua Barat.

Ini artinya diplomasi Indonesia sudah tamat.

Kalau soal ada bibit bentrok antara warga Papua dan non-Papua?

Barisan Merah Putih, Barisan Nusantara, milisi-milisi yang mengatasnamakan warga non-Papua dan mendatangi asrama dan melakukan persekusi terhadap warga di Papua siapa yang memainkan?

Perlu dicatat, kami tidak pernah menentang migran-migran Indonesia. Mereka datang dari daerah Indonesia ke Papua untuk mencari kehidupan baik. Ya karena di tanah mereka sendiri tak bisa hidup secara layak.

Kami baik-baik saja dengan rakyat Indonesia. Kami punya fight itu bukan ke rakyat Indonesia, but we oppose colonialism. Kami melawan sistem dan pemerintah kolonial.

Ini kali pertama terjadi ada warga non-Papua bentrok dengan warga asli Papua, silakan artikan sendiri.

Apa pesan Anda untuk rakyat Papua dan non-Papua?

Saya minta rakyat Papua terus berjuang. Saya juga minta kepada kaum migran, dukung kami ingin referendum. Tinggalkan para penghasut.

Kami ingin referendum. Rakyat Papua ingin hidup berdampingan secara damai dengan bangsa Indonesia.

Kita, rakyat Papua dan Indonesia, harus bisa hidup damai dan bertemu sederajat, ketika sama-sama merdeka.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS