Exclusive Interview: Joey Alexander, Musisi Jazz Belia yang 'Ajaib'

Arsito Hidayatullah
Exclusive Interview: Joey Alexander, Musisi Jazz Belia yang 'Ajaib'
Ilustrasi wawancara eksklusif pianis jazz belia, Joey Alexander. [Foto: Rin Hindryati / Olah gambar: Suara.com]

Bersinar sejak masih belia, bagaimana pianis Joey Alexander menekuni musik, dan apa sebenarnya arti musik baginya? Bagaimana pula ia memandang para musisi jazz Indonesia?

Suara.com - Masih berusia 12 tahun saat Joey Alexander tampil di panggung bergengsi Grammy Awards di Staples Center, Los Angeles, AS, pada Februari 2016. Dia adalah pianis sekaligus menjadi musisi pertama Indonesia yang bermain di ajang paling ditunggu-tunggu para musisi di dunia.

Joey memainkan lagu 'City Light' hasil komposisinya yang diambil dari album ke -2 bertajuk "Countdown" yang masuk nominasi Grammys untuk kategori solo jazz improvisasi terbaik.

Saat berbincang intens dengan Rin Hindryati, kontributor Suara.com baru-baru ini, Joey menggambarkan momen itu sebagai, "It's beyond words... yang saya tidak akan lupakan."

Acara Grammy selalu disiarkan langsung dan direlai sejumlah televisi asing. Penontonnya kala itu mencapai 25 jutaan orang. Itu sebabnya Joey merasa acara itu mirip ajang audisi untuk unjuk kemampuan, bakat, dan kepiawaiannya berimprovisasi memainkan musik-musik jazz hasil komposisinya sendiri.

Dia pun menjadi sebuah fenomena dan dianggap sebagai 'anak ajaib' di dunia jazz. Selanjutnya ia banyak diundang tampil di sejumlah klub jazz legendaris di AS dan bermain di hadapan Presiden Barrack Obama di Gedung Putih. Profilnya muncul di media-media mainstream, termasuk di program "60 Minutes" yang disiarkan di jaringan televisi CBS dan halaman depan The New York Times.

Begitu pun, Joey tetap rendah hati. Dia menganggap seluruh pencapaiannya sebagai berkat dari Tuhan. Setelah tinggal selama 5 tahun di New York, dia menjadi lebih fasih dan nyaman berbicara dalam bahasa Inggris saat mengutarakan pendapat, menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan musisi-musisi hebat Amerika maupun Indonesia, serta menyampaikan harapannya terhadap musik jazz di Indonesia. Dia nampak dewasa dan matang untuk usianya. Berikut wawancara yang dilakukan via Zoom selama satu jam di sebuah Sabtu malam waktu New York:

Bagaimana Joey dan keluarga menghadapi pandemi Covid-19?

Ya, harus sabar... tapi ya, Puji Tuhan, keadaan di New York City semakin baik, restoran sudah mulai buka, some businesses started to open. Cuma untuk musisi, ya masih belum. Venue buka, cuma secara virtual.

Jadwal Joey sudah pasti terganggu ya dalam 3 bulan terakhir?

Kalau performance sudah pasti, semuanya alami sama seperti yang saya alami. Cuma sebagai artis, kita coba terus berkreasi, bikin musik, bikin lagu masih tetap terus.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS