facebook

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi: PPKM Diperketat Lagi pun, Saya Yakin Warga Kami Siap

Arsito Hidayatullah | Ummi Hadyah Saleh
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi: PPKM Diperketat Lagi pun, Saya Yakin Warga Kami Siap
Ilustrasi wawancara. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. [Suara.com]

Menurut Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, jika hari ini atau seputar libur Nataru diterapkan lagi pengetatan PPKM, warga Semarang akan bisa menerima dan siap. Apa alasannya?

Suara.com - Pandemi Covid-19 mempengaruhi perekonomian secara luar biasa di seluruh daerah Indonesia. Imbasnya, terjadi penurunan ekonomi dan menyebabkan kontraksi yang sangat dalam karena pembatasan mobilitas masyarakat secara ketat.

Lantas, bagaimana strategi pemulihan ekonomi setelah pandemi berjalan selama lebih dari satu setengah tahun, namun nyatanya masih harus berada di tengah ancaman kemunculan varian-varian baru Covid-19? Belum lama ini, Suara.com berkesempatan berbincang-bincang secara daring dengan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, terkait strategi pemulihan ekonomi khususnya di ibu kota Jawa Tengah tersebut.

Berikut petikan wawancara Suara.com dengan Wali Kota Semarang yang akrab disapa Hendi ini, yang ditulis ulang dalam format tanya-jawab:

Bagaimana strategi pemulihan ekonomi di tengah ancaman kemunculan varian Covid-19 di Kota Semarang, saat ini Pak?

Baca Juga: Ketua Umum Asita Nunung Rusmiati: Wisata Insya Allah Aman, Kita Siap Jaga Prokesnya

Ya, yang belum tahu Semarang, Semarang itu Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah. Penduduk kita 1,7 juta jiwa, kita punya 16 kecamatan 177 kelurahan. Nah kemudian, kalau Semarang hari ini (Senin 6 Desember 2021 --Red) ekonominya lebih pada arah perdagangan dan jasa, fokusnya di pariwisata.

Jadi kenapa memilih pariwisata? Kita lakukan kajian, diskusi dalam berbagai kesempatan> Pariwisata itu kan wilayah yang tidak pernah mengenal krisis. Waktu krisis minyak dunia, pariwisata tetap oke> Krisis tahun 1998, krisis moneter, itu juga pariwisata tetap oke, dan beberapa krisis yang lain.

Cuma begitu kemarin kena Covid, Maret 2020 Indonesia mulai ada virus Corona, ternyata sektor pariwisata ini yang paling terkena dampak daripada pandemi Covid-19. Tapi ndak apa, ya memang itu harus kita lewati. Allah memberikan akal pikiran untuk manusia, ya, kurang lebih supaya kita bisa kemudian mencari solusi, ikhtiar untuk bisa melewati pandemi Covid-19 ini bersama-sama.

Maka kalau ingin saya sampaikan dalam menghadapi pandemi Covid-19 dari mulai bulan Maret 2020 sampai sekarang, yang di Kota Semarang ini kita ada di tengah-tengah. Kita antara wilayah kesehatan dan juga aktivitas sosial budaya dan ekonomi. Pemerintah Kota Semarang ada di tengah-tengah. Kenapa begitu? Bukannya kita nggak fokus sama penanganan Covid. Kita tetap fokus. Anggaran APBD refocusing, kita juga arahkan untuk pembelian alat kesehatan, penambahan tempat tidur rumah sakit, pembuatan isolasi terpusat, kemudian juga beberapa beberapa pengadaan terkait PCR dan lain-lain. Kita fokus ke sana.

Cuma kebijakan ini kita ambil, karena kita merasa bahwa Covid ini kayaknya jangka panjang, karena obatnya juga belum ketemu. Sehingga kalau kemudian kita fokus di wilayah kesehatan, dunia ekonomi sosial budaya kemudian kita tekan sedemikian rupa, maka kemudian orang nggak akan bisa mencari pekerjaan. Dia nggak bisa bekerja, dia hanya bisa duduk diam di rumah. Kalau itu bisa itu terjadi, akhirnya orang kemudian ke mana-mana susah. Dia nggak bisa dapat uang tuh pada saat kerja, dan akhirnya dia bisa mati kelaparan. Jadi sama pentingnya antara penanganan ekonomi, sosial budaya dan wilayah kesehatan menurut kami.

Baca Juga: Wawancara Amar Alfikar: Saya Transpria yang Beruntung, Banyak yang Justru Miris Nasibnya

Sehingga dari mulai bulan April tahun 2020, kita mengambil kebijakan yang namanya PKM. Jadi peraturan walikota, PKM pertama, pembatasan kegiatan masyarakat. Intinya adalah kita semuanya bersama-sama menangani Covid-19> Yang mau melakukan kegiatan bekerja boleh, cuma harus dibatasi. Kalau di tempat usahanya warung makan, ya harus 50%, bukanya waktu PKM pertama maksimal jam 8 malam, dan seterusnya.

Lalu PKM kedua, Perwal (Peraturan Walikota) kita keluarkan, kurang lebih jam tutupnya jam 8 malam, kita jadikan jam 21.00 malam.

PKM ketiga, naik lagi jam 22.00 dan seterusnya. Sampai bulan Juli tahun 2021, pasca kita bersama-sama libur lebaran,  Indonesia memasuki masa puncak dan pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan Instruksi Menteri Dalam Negeri, namanya PPKM (Peraturan Pembatasan Kegiatan Masyarakat), mulai PPKM Darurat. Kemudian tanggal 26 Juli lahir PPKM Level 4. Kemudian juga di tanggal 17 Agustus, Semarang masuk level 3; 31 Agustus Semarang masuk level 2; dan 19 Oktober kemarin Semarang masuk level 1.

Jadi artinya, di dalam melakukan pengambilan kebijakan ini, kita hampir sama persis seperti yang sedang dilakukan oleh pemerintah pusat. Jadi masyarakat Semarang sudah sangat siap dengan namanya pembatasan kegiatan masyarakat.

Nah memang, Covid ini menjadi tantangan kita bersama, maka konsep bergerak bersama ini kita gulirkan. Nggak boleh kemudian hanya semuanya bertumpu pada pemerintah, tapi kita menggerakan lagi yang namanya nilai-nilai gotong royong, yang kemudian nilai gotong royong itu juga bisa dilakukan warga yang mampu dengan membuat lumbung kelurahan, membuat sembako dibagikan pada masyarakat dan lingkungan sekitar termasuk perusahaan dan yang lainnya.

Nah waktu itu kita juga sempat melihat ada berita berita yang simpang siur, berita hoax, ya biasalah ada orang kalau ada nggak suka kemudian ditulis data Semarang Corona sampai 3.000 dan seterusnya.

Ini yang mengilhami kita-kita kemudian pada di awal-awal kita membuat aplikasi portal yaitu siagacorona.semarangkota.co.id.

Apa sih yang ada di sini? Ya sebuah informasi keterbukaan masyarakat, kemudian bisa mendapatkan informasi yang akurat terkait jumlah warga Semarang yang terkena Covid, kemudian ada di mana lokasinya bukan kalau ada keluarga yang covid juga harus menuju ke arah mana, ada tempat isolasi terpusat di mana yang kosong, yang kelurahan mana atau bahkan juga tempat tidur rumah sakit yang kosong di mana. Bahkan waktu kita kita membagi bantuan sosial itu juga ada informasi terkait dengan akses, dengan mengetik NIK warga akan mengetahui dia dapat kuota untuk bantuan sosial atau tidak dan seterusnya dan seterusnya.

Ada juga kita kita menggerakkan semua kekuatan, mulai dari patroli di seluruh wilayah, melibatkan TNI-Polri sampai Babinsa, Bhabinkamtibmas dan temen-temen lurah kemudian, di tingkat Polsek maupun Koramil dengan teman camat dan di tingkat kota di kita dengan Kodim Polrestabes. Untuk kita menjaga warga Semarang supaya menerapkan prokes.

Karena kita merasa bahwa selain vaksin, masyarakat ini juga harus jadi diajak berdisiplin terkait dengan protkes. Karena corona ini belum ada obatnya, nah maka kegiatan patroli terus kita harus dilakukan. Kita juga punya suporting digitalisasi itu hampir 106.00 CCTV di tingkat RT maupun beberapa CCTV di tempat-tempat keramaian juga bisa dipantau.

Kalau misalnya dan pasar rame turunkan petugas di sana, ada tempat-tempat pabrik taman rame turunkan petugas. Bahkan kita juga ngumpulin beberapa tokoh masyarakat, tokoh agama untuk kurang lebih menyampaikan kepada jemaatnya, umatnya, supaya menjalankan kegiatan sesuai dengan protokol kesehatan.

Di dalam gotong royong,  kita melibatkan masyarakat dengan TNI Polri kita membentuk kampung siaga candi hebat, kemudian juga membuat pesantren siap siaga candinya  hebat,  kemudian dengan anak-anak muda kita buat gerakan penanganan konflik gerakan remaja penanganan Covid di Kota Semarang itu kurang lebih anak muda kita libatkan dalam program vaksinasi dalam charity, baksos, kemudian ada kampung urban farming juga kita bentuk lumbung pangan kelurahan gotong royong dan seterusnya,  yang kurang lebih kami ingin menyampaikan pada masyarakat perlu tangan bersama untuk menyelesaikan pandemi covid-19.

Kemudian di tingkat pelayanan kesehatan menjadi kata kunci juga, maka selain rumah sakit di tempat kota Semarang yang terus kita tambah tempat tidur termasuk rumah sakit swasta juga kita minta untuk menambah Bed tempat tidur, kamu juga punya beberapa isolasi terpusat atau karantina seperti di rumah dinas walikota  ada 200 kamar, di gedung Diklat milik pemerintah kota Semarang ada 100 kamar, masih kurang kita kemudian pinjam asrama haji di Kota Semarang, masih kurang kita dapat bantuan tenda karantina dari Bu Megawati bisa untuk 100  bed, masih kurang kita buat ruang isolasi di kelurahan, maupun di tingkat RW.

Di kebijakan ekonomi ada beberapa hal misalnya mulai kita mendiskon PDAM air bersih kita diskon 20 persen, retribusi PKL kita gratiskan, rusunawa masyarakat yang tinggal di rusunawa kita gratiskan.

Masyarakat mau bayar PBB tepat waktu kita kasih diskon, retribusi pasar kita diskon, termasuk penundaan pembayaran pajak daerah di hotel-hotel maupun tempat pariwisata yang lain.

Selain itu kita juga membagi 3,1 juta paket bansos selama tahun 2020, kurang lebih begitu.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dalam salah sebuah kegiatan. [Akun IG @hendrarPrihadi/captured]
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dalam salah sebuah kegiatan. [Akun IG @hendrarPrihadi/captured]

Yang menggerakkan ekonomi di masa ini caranya gimana? Ya kita anggaran APBD. Misalnya beberapa program yang ada dinas koperasi maupun di UPD yang lain kita anggarkan untuk pembelian masker untuk produksi industri rumah tangga.

Jadi masyarakat, UMKM yang selama ini mereka nggak dapat order gitu, kita minta mereka untuk membuat masker, dibeli lewat program APBD. Kemudian kita juga menggerakkan teman-teman PNS, karena PNS ini kan selama Covid gajinya nggak dipotong.

Jadi secara kesejahteraan ekonomi, insyaallah mereka masih tetap stabil. Kita menggerakkan mereka, selain untuk gotong royong membeli sembako dibagikan pada masyarakat yang tidak mampu, mereka kita ajak ke pasar-pasar rakyat yang ada di Kota Semarang.

Kemudian juga menganggarkan setiap jumat berkah itu ada 7000 nasi dus yang kita beli dari teman-temanmu umkm kemudian dibagikan lagi kepada masyarakat  yang memerlukan. Atau juga membuat gerakan beli bagi. Artinya beli bagi temen temen PNS untuk masyarakat yang mampu kita minta untuk membeli produk UMKM, kemudian membagikan ke tetangga sekitar yang membutuhkan.

Jadi secara siklus ekonomi, hal-hal seperti itu meskipun kelihatannya kecil akan mampu menggerakkan roda ekonomi di masa yang sulit ini.

Beberapa stimulus kegiatan juga kita lakukan kita berikan misalnya untuk pelaku industri event di Kota Semarang beberapa fasilitasi untuk acara-acara yang sifatnya online, ada ada pagelaran keroncong pagelaran maha karya legenda, kemudian temen-temen musikus muda kita minta untuk membuat lagu bertema penanganan kopi dan seterusnya yang semuanya mempunyai kegiatan dan bisa mendapatkan penghasilan. Termasuk beberapa industri perfileman atau anak muda yang aktif di sineas dib kot Semarang juga kita fasilitasi untuk bisa membuat film-film pendek lalu diputar di gedung bioskop dan hasilnya bisa untuk perputaran ekonomi mereka.

Di wilayah industri fashion kita juga membuat atau memfasilitasi fashion show tapi secara online. Jadi dinas koperasi di dinas pariwisata itu mereka membuat fashion show yang karena kondisinya masih belum bisa dilakukan secara online, dan kita menyiapkan fasilitas ruang kerja bersama yang dapat digunakan secara gratis namanya Semarang digital kreatif. Ada juga galeri industri kreatif, Semarang Kreatif galeri yang semuanya bisa dipakai oleh teman-teman umkm untuk menitipkan atau mempromosikan produknya. Karena ini terletak di kawasan kota lama yang setiap hari ramai dikunjungi masyarakat.

Kita juga sudah membuat Semarang Creative Hub, tempat anak muda untuk sharing terkait dengan apa yang mereka lakukan di saat pandemi terutama bagaimana anak muda itu bisa beradaptasi di era digital.

Nah di wilayah kecil dan menengah, kami punya beberapa program selain marketplace, temen-temen ini kita dorong untuk bisa memanfaatkan mempromosikan produknya di tempat-tempat marketplace termasuk kerjasama dengan shopee Tokopedia dan tempat-tempat online lainnya.

Kami juga menganggarkan untuk pengurusan sertifikat izin secara gratis, mulai dari sertifikat jaminan halal untuk umkmkita gratis kan, kemudian HAKI kita fasilitasi gratis, beberapa pelatihan termasuk bantuan 1000 produk mereka kita gratis kan yang kesemuanya untuk meringankan beban teman-teman UMKM.

Ada juga kredit wibawa, kredit wirausaha juara tanpa agunan bisa pinjam sampai 5 juta, bunga 3% pertahun. Jadi 0,25 ya per bulan, ini bunga yang murah.

Kemudian kita juga buat program untuk bisa menggerakkan ekonomi namanya kemarin baru saja selesai 28 Oktober sampai 28 November,  yaitu Semarang Great Sale. Jadi ada 1500 tenant di Semarang yang bareng-bareng mendiskon produk-produk mereka kalau ada pengunjung selama 1 bulan itu, dan setelah dihitung berdasarkan kupon undian yang masuk total transaksi di 1500 tenant itu selama sebulan sekitar 300 miliar.

Lalu ada beberapa hal yang kita coba pagelaran musik outdoor, ya memang ini harus kita inisiasi kita lakukan misalnya Incuba Fest konser musik dan juga kita sebagai sarana uji kembali, kita menjadi tuan rumah festival ham, kemudian juga pada kegiatan tingkat nasional tuan rumah AHL Germas juga kita ambil aja ke semuanya adalah bagian untuk bisa mengungkit kembali tingkat kunjungan masyarakat ke kota Semarang.

Nah dari semua yang kami lakukan dengan mengedepankan protokol kesehatan, mungkin juga percepatan vaksin, hari ini (Senin 13/12/2021) Kota Semarang penderitanya ada 5 per 5 Desember. Kalau hari ini (Senin 6 Desember) ada 2 warga Kota Semarang dan 1 warga luar kota Semarang.

Jadi sudah sangat turun dari lompatan pertama dari ledakan pertama waktu itu tanggal 13 Januari sejumlah 1.043 dan ledakan kedua pada tanggal 7 Juli, sejumlah 2.460.

Jadi kata kuncinya dalam dalam penanganan Covid ini adalah semua kemudian bergerak bersama berdisiplin menjaga protokol kesehatan, melakukan percepatan vaksin, kemudian juga menjalankan semua aktivitas kegiatannya, senantiasa mengedepankan dengan protokol kesehatan. Dan alhamdulillah dengan model seperti itu situasi Covid hari ini (6 Desember) di kota Semarang tergolong cukup baik dan kita ada di level 1.

Jadi kasusnya (positif Covid di Semarang) sudah tinggal 3 ya Pak? (Senin 6 Desember 2021)?

Ya, tinggal tiga; dua warga Semarang dan satu warga luar Semarang.

Jika PPKM (diperketat) lagi saat Nataru, bagaimana? Bagaimana wisata dan lain-lainnya?

Ya, sama seperti yang disyaratkan di dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri, terkait dengan PPKM level 3 menghadapi Nataru. Jadi tempat-tempat wisata ini akan dibatasi diperketat lagi, kalau hari ini misalnya kita sudah bisa sampai ke arah setengah dari kapasitas ya mungkin nanti setengah dari kapasitas plus jumlahnya kita kasih maksimal 200 orang, atau mungkin di tempat tertutup 100 orang itu akan kita batasi di dalam peraturan Wali Kota Semarang.

Kemudian restoran juga begitu kalau saya selama ini restoran tempat makan bisa sampai 24.00 malam,  mereka separuh dari kapasitas ya nanti harus kita turunkan maksimal sampai jam 10 malam, kapasitas juga harus maksimal 100 atau mungkin 50 orang. Nanti akan kita tentukan di dalam Peraturan Walikota Semarang.

Sosialisasi gimana Pak? Nggak ada masalah juga ya Pak, warga di Semarang?

Sosialisasi terus kita lakukan, karena memang pemerintah pusat sendiri sangat konsen terhadap bagaimana menyikapi Natal tahun baru di daerah-daerah. Apakah kemudian masyarakat Semarang bisa menerima? Saya rasa kita sudah sangat teruji. Mulai dari bulan Maret tahun 2020, kita udah ya melakukan kegiatan dengan pembatasan kegiatan.

Jadi kalau hari ini ada PPKM lagi lebih ketat, saya rasa masyarakat juga bisa menerima. Toh berapa hari, 10 hari, 12 hari. Tapi insya Allah dengan kita berdisiplin, setelah itu kita kan bisa menghindari ledakan ketiga setelah libur Nataru ini.

Bagaimana Pemkot meyakinkan pelaku usaha?

Saya rasa semuanya harus terus berjuang, berupaya atau semuanya harus tetap semangat tidak boleh kemudian kita kendor , kita ragu hanya karena sebuah persoalan yang namanya Pandemi Covid-19. maka meminjam istilah Pak presiden ada gas dan rem nah inilah saat yang paling tepat pada saat kita ada di level 1,  aktivitas ekonomi sosial budaya kita gas, gaspol ini. Jadi yang penting protokol kesehatan, mereka mulai tumbuh.

Kalau ke Semarang maka akan merasakan hotel-hotel penuh, lalu lintas cukup padat kemudian tempat-tempat ekonomi juga sudah mulai mulai hidup lagi. saya rasa yang paling penting adalah sebuah komitmen, kalau pada saat pemerintah pusat nanti libur nataru menghendaki semuanya level 3 yang kita ikutin, kita akan sampaikan pada masyarakat terutama di wilayah ekonomi itu sedikit mengerem aktivitas mereka dan saya rasa masyarakat Semarang bisa memahami itu untuk kepentingan yang lebih besar.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat bersama warga. [Akun IG @hendrarPrihadi/captured]
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat bersama warga. [Akun IG @hendrarPrihadi/captured]

Antisipasi peningkatan mobilitas saat Nataru?

Saya rasa yang di mobilitas itu kan sudah dibatasi oleh pemerintah pusat juga, beberapa apa peluang libur itu kan juga sudah mulai di putus-putus, sudah tidak ada libur yang terlalu panjang. Yang berikutnya kami juga juga melakukan upaya-upaya pengetatan terhadap temen-temennya ada di Kota Semarang khususnya teman-teman PNS, tidak boleh mereka kemudian mengambil cuti selama bulan Desember , tidak boleh mereka keluar kota pada saat ppkm level 3.

Jadi saya rasa semuanya daerah-daerah yang menerapkan hal seperti itu itu menjadi bagian yang penting untuk membatasi migrasi dari daerah yang satu ke daerah yang lain.

Di Semarang yang terkenal sektor pariwisata ya Pak. Bagaimana Pemkot Semarang melakukan upaya-upaya membangkitkan ekonomi selain sektor wisata? Apa yang ditonjolkan?

Harusnya saya bisa bercerita ya. Kota Semarang itu ekonominya sebelum kemerdekaan itu wilayahnya ada di agrikultur. Kenapa agrikultur? Karena dulu di sebelum kemerdekaan ada orang terkaya di Asia namanya Oei Tiong Ham, orang asli Semarang. Dia itu bisnisnya adalah tebu, perkebunan dan seterusnya.

Nah pasca kemerdekaan sampai tahun 2000 di Semarang, aktivitas ekonominya condong ke arah manufaktur. Jadi kawasan industri salah satu peninggalannya ada 9 kawasan industri yang hari ini masih aktif. Tapi tahun 2000 ke sekarang kota Semarang fokusnya dengan wilayah perdagangan dan jasa dan zaman saya perdagangan dan jasa ini kita arahkan ke pariwisata dan ekonomi kreatif. Kenapa cerita tentang pariwisata? Karena itu tidak pernah mengenal istilah krisis, kecuali pandemi Covid-19 kita benar terkena dampak.

Yang kedua, di sektor pariwisata, ekonomi jadi lebih merata semua orang kemudian bisa ikut terlibat di dalam aktivitas ekonomi pariwisata. orang yang punya duit yang bisa bangun hotel bintang lima orang yang duitnya pas-pasan biar bisa bikin kos-kosan atau apa yang di atas homestay. Atau kemudian orang punya uang bisa bikin restoran cafe gede, kalau kemudian uangnya pas-pasan warung pecel pun laku di tempat pariwisata, warung tegal atau warung tegal juga laku di tempat pariwisata.

Yang penting semuanya punya ketekunan dan kerja keras ini dengan model seperti itu. Kita sekarang ini menggerakkan peluang pulang ke arah temen-temen untuk bisa beraktivitas lagi. Faktor-faktor penunjang nya juga kita angkat. Ada misalnya teman-teman persewaan sound system yang hari ini sudah mulai banyak mendapatkan orderan lagi karena sudah banyak kegiatan-kegiatan di tempat hiburan di tempat pariwisata, di tempat pernikahan yang yang memakai mereka. Jadi perlahan-lahan tapi saya rasa semuanya kemudian bisa merasakan ada sebuah peningkatan ekonomi di Kota Semarang.

Karena sudah merasakan PPKM level 3, jadi tinggal mengikuti ya?

Insyaallah kita sudah terbiasa dengan hal seperti itu. Makanya di dalam sosialisasi, kita selalu sampaikan, udahlah, kita ngalah dulu beberapa hari. Kita kembali ke PPKM level 3 untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan dan bangsa dan negara, supaya tidak terjadi lagi ledakan atau lonjakan angka yang ketiga.

Target vaksinasi bagaimana Pak?

Sekarang untuk hari ini (6 Desember) 111 persen untuk V1 dan untuk V2 98% jadi kita terus berproses percepatan vaksin dan tahun depan mudah-mudahan kita bisa menyelesaikan vaksinasi untuk usia 5 sampai 12 tahun ke atas. Karena sampai hari ini petunjuk teknis dari kementerian kesehatan terhadap vaksin untuk adik-adik kita ini belum turun.

Vaksinasi door to door? Masih. Kita sekarang masuk ke micro zonasi di balai balai kelurahan, kemudian juga secara door to door atau beberapa program yang langsung menyasar ke teritori yang lebih kecil. Karena kalau yang lainnya insya Allah kita sudah selesaikan lebih dari 100%.

Sejauh ini masyarakat masih ada yang bebal (susah dibilangin) nggak Pak, takut nggak mau divaksin?

Kalau satu-dua, mungkin ada ya, cuman kalau secara umum antusias masyarakat yang mau vaksin ini luar biasa. Di beberapa tempat, beberapa waktu yang lalu mereka antri berjam-jam hanya untuk bisa divaksin. Jadi buat saya yang penting sekarang kita layani yang mau aja, kalau yang belum mau nanti kita pelan-pelan setelah semuanya tuntas lewat pendekatan yang lebih humanis.

Ada rencana vaksin booster untuk para pelaku usaha, nggak?

Kalau booster kan sebenarnya kebijakan pemerintah pusat seperti apa kita pelaksana aja. Kalau booster hari ini di Semarang yang diperbolehkan hanya teman-teman di tenaga kesehatan. Baru tahun depan katanya. Tapi belum tahu juga, belum ada petunjuk. Mudah-mudahan ada hal yang lebih jelas terkait dengan vaksin untuk masyarakat terkait dengan booster.

Akhir tahun targetnya bisa mencapai 70 persen ya Pak?

Kita sudah lewat 111 persen.

Ada imbauan nggak, untuk warga di luar Semarang yang mau berwisata di saat libur Nataru?

Ya kalau mau masuk ke tempat-tempat wisata di Kota Semarang, pasti harus memakai program aplikasi pedulilindungi. Artinya masyarakat yang mau main ke Semarang ya diharapkan vaksin supaya bisa mampir ke tempat wisata bisa main ke mall dan beberapa objek yang lainnya.

Nah kalau yang ingin ke Semarang dengan memakai transportasi umum seperti pesawat, kereta atau kapal juga sudah disyaratkan harus sudah vaksin atau PCR.

Jadi saya rasa ikutin semua aja aturan yang ada, kita supaya kemudian sehat untuk kita dan sehat buat lingkungan kita.

Jadi, seperti pertanyaan dari warga ini, jika ingin ke Semarang apakah ada pembatasan atau penyekatan?

Sejauh ini kami belum mendapat informasi dari teman-teman kepolisian terkait dengan penyekatan atau disuruh berputar balik dan lain-lain. Tapi kalau saran saya karena di PPKM level 3 di Nataru ini diharapkan semuanya kemudian mengurangi kepergian ya libur, ya pulangnya kemudian setelah level 3 aja biasanya sebelum tanggal 20 (Desember) atau setelah tanggal 2 (Januari) jadi situasinya menjadi lebih nyaman untuk panjenengan.

Jadi tetap nggak boleh pak?

Bukan nggak boleh, tapi saya belum dapat informasi yang pasti tentang hal itu. Tapi supaya lebih safe, pilih saja tiketnya setelah tanggal 2 Januari itu atau sebelum tanggal 24 Desember.

Ada pernyataan penutup? Imbauan mungkin?

Buat netizen Suara.com yang selalu saya hormati dan saya banggakan, memang yang paling penting Covid-19 harus kita sadari belum selesai karena belum ada obatnya. Makanya kalau ngomong vaksin itu sebenarnya bukan obat, tapi hanya rompi anti peluru. Maka saran saya kepada semuanya, tetap gunakanlah protokol kesehatan untuk panjenengan menjalankan semua aktivitas kegiatan. Nggak boleh takut sama Covid-19, tapi harus waspada dengan Covid-19.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar