Yohanes Ensogemakin: Mari Sama-sama Kita Bantu Pekerja Migran di Perbatasan, Jangan Hanya Sebatas Slogan

Arsito Hidayatullah | Achmad Fauzi
Yohanes Ensogemakin: Mari Sama-sama Kita Bantu Pekerja Migran di Perbatasan, Jangan Hanya Sebatas Slogan
Yohanes Ensogemakin, sosok pekerja sosial yang membantu para pekerja migran. [Suara.com]

Bertahun-tahun turut membantu dan hidup bersama komunitas pekerja migran di wilayah perbatasan, Yohanes Ensogemakin berharap negara benar-benar bisa hadir lebih nyata.

Suara.com - Namanya Yohanes Ensogemakin, Ketua Yayasan Muara Kasih Semesta yang didirikan dan beroperasi di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Yayasan yang ia dirikan sejak kurang lebih 10 tahun lalu itu, intinya bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan, tepatnya lagi berurusan dengan perlindungan dan kesejahteraan pekerja migran.

Mungkin belum banyak yang mengenal sosoknya, bahkan sekada mendengar namanya. Namun nyatanya, apa yang diperbuat dan dijalankan oleh Yohanes dengan sepenuh hati selama bertahun-tahun ini, sudah cukup memberikan dampak positif. Setidaknya terhadap kehidupan dari orang-orang yang dibantunya.

Belum lama ini, Suara.com berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Yohanes Ensogemakin, di sela-sela sebuah kegiatan di Jakarta. Berikut petikan perbincangan cukup panjang dengannya, di mana ia bercerita mulai dari awal aktivitasnya di Nunukan, hingga apa yang diharapkannya ke depan.

Baca Juga: Tindaklanjuti Sidak di Juanda Pekan Lalu, Hari Ini Kemnaker Pulangkan 36 CPMI Asal NTB

Bisa ceritakan bagaimana awal mula Anda bisa terlibat dalam pembinaan tenaga kerja di Nunukan?

Baik, selamat siang. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Seluruh masyarakat di tanah air Indonesia tercinta, saya Yohanes Ensogemakin, Ketua Yayasan Muara Kasih Semesta, Kabupaten Nunukan, yang bergerak di bidang kemanusiaan, sosial dan perlindungan pekerja migran.

Saya mau menceritakan kronologis dan historis, bagaimana yayasan ini bisa didirikan. Termotivasi dan terinspirasi dari tahun 2002, pada saat ada deportasi besar-besaran, Nunukan menjadi bagian yang sangat penting untuk penanganan para migran yang dideportasikan itu. Saya termasuk di dalamnya. Kami di Gereja Katolik membuat sebuah tim untuk penanganan PMI yang dideportasi itu.

Kemudian gerakan ini membuat saya punya panggilan tersendiri. Waktu itu saya terinspirasi mendirikan yayasan, tapi dapat penolakan dari berbagai masyarakat, [bahwa] kalau mendirikan yayasan itu harus punya uang yang lebih. Tetapi saya merasa bahwa modal besar saya adalah semangat untuk melihat semua deportan ini.

Kemudian akhirnya dengan kesadaran sendiri, saya membangun yayasan ini dengan melakukan pendampingan, perhatian, dan juga kepedulian terhadap warga eks migran perantau yang terlantar di Nunukan. Saya berusaha dengan mendapatkan apa adanya yang ada pada saya, untuk bisa memberikan bantuan seperlunya. Sekali pun memang saya tidak punya uang, tidak punya barang-barang lain, tapi pendampingan secara psikologis, saya selalu memberikan mereka motivasi untuk tetap bangkit, semangat untuk bisa melihat masa depan yang masih ada untuk kita.

Baca Juga: Wawancara Yohanes Ensogemakin: Bantu Sepenuh Hati Pekerja Migran di Perbatasan

Kemudian [seiring] berjalan waktu, dari keberadaan itu saya melakukan relasi dengan sebuah yayasan China di Kota Kinabalu, Malaysia, untuk mendapatkan pakaian bekas. Karena dari penjara itu mereka hanya bawa badan saja, saya merasa kasihan sekali; dan tidak ada warga di situ yang mau membantu. Saya mengambil keputusan ini untuk bisa mendatangkan pakaian itu dalam jumlah yang besar. Kalau dikategorikan seperti pakaian rombengan begitu. Tetapi saya melakukan koordinasi dengan pihak Konsulat Jenderal [di] Kota Kinabalu, mendapatkan petunjuk, mendapatkan surat rekomendasi dari kebaikan Malaysia, karena memang ini adalah untuk orang susah, bagi custom di Tawau supaya jangan dihalang-halangi.

Dan itu perjalanan waktu selama hampir 3 tahun lebih, itu saya lakukan secara intens. Dan di Nunukan, saya berikan dengan cuma-cuma. Saya bawa ke tempat-tempat di mana ada titik-titik warga eks PMI itu berada, bahkan di kebun-kebun. Ada yang [baru] melahirkan, ada yang punya anak kecil. Itu saya memberikan mereka pakaian itu dengan cuma-cuma, dengan membiarkan mereka memilih sendiri yang pas dengan badan mereka. Mereka yang [pakaiannya] tidak pas, ditinggalkan untuk mereka yang lain.

Begitu juga saya bekerja sama dengan dinas sosial untuk mendapatkan bantuan sembako dan juga keperluan-keperluan lain. Hanya, sederhana sekali, tapi saya merasa itu sangat membantu. [Lalu] Termotivasi saya untuk bisa melakukan yang lebih banyak. Maka saya akhirnya mulai melihat betapa pentingnya pendidikan anak-anak. Saya didirikan sekolah itu di pedalaman Malaysia. Ada sebuah sekolah yang saat ini sudah masuk di lini CLC, dan itu memang kita mulai dari bawah, memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat PMI kita [soal] betapa pentingnya pendidikan. Dan itu pun sangat sulit sekali pak. Tetapi itulah, dengan kepiawaian saya, kesabaran saya mendampingi, memberikan pemahaman betapa pentingnya masa depan anak, akhirnya memang [walau awalnya] ada yang tidak mau, ada yang mau menyekolahkan anak.

Kemudian saya tidak biarkan di situ. Saya tangkap yang tamat SMP [untuk] masuk di sekolah SMA Katolik di Nunukan, dengan catatan bahwa ini adalah anak-anak TKI. Maka mulai membantu dengan ordo yang ada di sana. "Para suster, mari kita bangun sebuah panti untuk bisa menitipkan anak-anak yang dari seberang (Malaysia), yang orang tuanya jauh, biar kita amankan mereka di sini." Dan, itu akhirnya ada respons positif dari para suster, kita boleh membangun itu --dan sekarang sudah menjadi tempat yang aman bagi anak-anak TKI.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya masih memiliki kerinduan untuk mau bagaimana menghadirkan negara ini di Nunukan. Akhirnya saya melihat sebuah ruang, sebuah kesempatan, saya harus mendirikan rumah singgah. Walaupun saya tidak punya, tapi mungkin teman-teman lain, ada sesama saudara yang mau membantu. Saya cetuskan itu untuk mulai dari bawah membangun rumah itu, dan jadilah sebuah rumah yang layak untuk bisa dihuni oleh warga kita yang sangat membutuhkan.

Tadinya saya mau supaya menampung orang-orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Orang-orang gila itu terlalu banyak di Nunukan, dan itu butuh perhatian dan butuh kepedulian bagi mereka. Bagaimana untuk mereka ini direkrut, dirangkul. Apakah nanti kita lanjutkan ke tempat pemulihan, ataukah kita kirim pulang ke kampung halaman, ataukah bagaimana model pelayanannya. Itu yang saya pikirkan. Maka saya lakukan tempat itu, untuk bisa dapat melakukan pelayanan ini.

Dan bersyukur kepada Tuhan, ada sebuah organisasi internasional, IOM, dengan melihat saya melakukan pelayanan ini, mereka juga merasa bahwa kalau boleh dibantu. Maka kita lakukan kemitraan, kerja sama yang baik. Saya dimasukkan ke dalam Tim Satgas Penanganan TPPO, untuk bisa diikutkan pelatihan-pelatihan bagaimana melihat situasi, kondisi dan penanganan persoalan seperti itu, dan akhirnya terlibat di dalamnya.

Waktu berjalan, sedemikian [sampai] hampir dekat belasan tahun, itu saya mulai bekerja sama dengan pemerintah. Masuk di lininya pemerintah dengan stakeholder yang ada di Kabupaten Nunukan. Tentunya dengan mendapatkan SK dari bupati untuk bisa mempunyai ruang gerak yang resmi, yang tidak ilegal, atau dibilang "calo" --begitu bahasa kasarnya. Akhirnya saya mulai berkiprah, bekerja sama dengan pemerintah, kita melakukan pelayanan-pelayanan seperti ini.

Dan sampai saat ini, begitu banyak para deportan yang dikirim tetap mereka mendapatkan pelayanan yang prima. Bahkan ODGJ itu merupakan bagian saya, saya yang menanganinya. Apakah itu saya simpan dia di rumah, ataukah seperti apa, saya melakukan itu. Karena memang mungkin saya punya kharisma sendiri untuk melakukan penanganan terhadap ODGJ ini. Dan itu nyata. Kalau ada orang yang begitu, dia tidak sembuh total di situ, tapi paling tidak dia bisa dapat saya uruskan untuk pulang ke kampung. Ada beberapa yang kita kirim ke Samarinda untuk mengikuti pemulihan, dan itu syukur alhamdulillah, saya bersyukur karena itu bisa terjadi.

Menarik yang ODGJ ini. Itu mereka apakah juga bagian dari TKI atau pekerja migran?

Memang tadinya di dalam penjara, kemudian dengan persoalan yang bertubi-tubi, [mengalami] tekanan batin mereka. Kemudian tempat tidurnya juga tumpang tindih, tidak ada suasana yang bisa menjamin ketenangan hidup mereka. Akhirnya dari situ mereka mulai stres kemudian yang berlebihan, akhirnya dikatakan sebagai orang gila.

Berapa jumlah ODGJ di sana? Apakah sangat masif?

Setiap bulannya itu ada. Sekarang ini saja, sudah ada 10 lebih di Nunukan. Ada yang bisa kita ajak komunikasi. Saya selalu bawa rokok, kepada mereka saya bertemu. Saya layani, saya ladeni. Ada uang, saya kasih untuk beli makanan. Kalau tidak ada, saya bawa nasi kotak dari sekolah, jika saya bertemu mereka saya kasih. Dan itu bagian dari perhatian saya sebagai seorang di lapangan yang berkiprah dalam tugas dan pelayanan sebagai pekerja aktivis kemanusiaan.

Saya lakukan itu semata-mata hanya untuk mau membuat mereka senang, [agar] mereka bisa merasa bahwa ada saudara, ada keluarga yang dapat memberi perhatian. Dan itu saya rasakan bahwa kebahagiaan juga untuk saya, karena saya telah memenangi hati mereka. Dengan mengajak ngobrol, bersenda gurau, menyanyi bersama, itu kan juga. Sama orang gila saya ajak untuk kita bernyanyi. Jadi saya merasa bahwa ini sebuah pendampingan yang tidak terlalu rumit. Kita hanya bisa dapat melihat dari psikologinya, bahwa [mereka] bisa, akan terbantu.

ODGJ ini ditemukan di mana saja? Apakah mereka ada di penampungan?

Di jalan, di mana-mana, dia ada. Karena kalau kita bawa dia, dia masih rasa kaku. Apakah mungkin [karena] dia merasa trauma atau bagaimana dengan penangkapan polisi di Malaysia, atau dengan kekerasan yang terjadi di penjara, saya juga tidak terlalu tahu banyak. Pada saat saya mengajak mereka untuk ke tempat sesuai keinginan saya, mereka tidak mau. Tapi kalau saya ajak mereka ke warung untuk kita makan, mereka mau. Jadi saya selalu ajak mereka untuk makan di warung. Minta makan apa, minta minum apa, punya rokok atau tidak? Jadi yang ada pada saya, itulah yang saya berikan. Kalau memang tidak ada sama sekali, ya, hanya tegur sapa saja.

Lalu sampai kapan ODGJ ini berada di Nunukan? Apakah [memang akan] diarahkan untuk pulang ke kampung halamannya?

Mereka punya tempat tersendiri. Jadi, biar mereka lalu-lalang di Nunukan itu; ada yang malam sampai di teras mana saja, mereka tidur saja di situ. Ada yang punya tempat sendiri, jadi dia bisa kembali ke situ. Tetapi pada saat saya mengajak mereka untuk pulang kampung, mereka belum nyambung. Bahkan ada beberapa yang saya cari keluarganya, pak. Kalau keluarganya mau, seperti kemarin yang satu dari Kota Kinabalu, itu saya telepon ke keluarganya, mereka bilang mau dikirim, akhirnya saya kirim ke kampung. Jadi, keluarganya yang memberikan saya mandat, memberikan saya untuk mengurus, baru saya urus.

Bagaimana cara Pak Yohanes mengajak mereka mereka itu untuk kembali ke rumah?

Pada saat deportan ini datang, kan kami di Tim Satgas itu bawa mereka ke Rusunawa. Di sana ada kesempatan, kami bisa bertemu dengan mereka, memberikan pencerahan dan edukasi. Mengembalikan cara pikir mereka untuk cara berpikir yang baik, tidak menjadi pekerja ilegal. Kita berikan tatanan itu, supaya mereka juga bisa dapat memahami. Dan ada yang mereka sampai minta, "Pak, bisakah kami cari pekerjaan di sini?" Saya bilang, "Oh, bisa. Di sini ada dinas tenaga kerja yang bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan di sini. Kalau bapak-ibu mau kerja di sini, daftarkan nama, karena ada regulasinya."

Kalau memang itu, kita minta kontrak kerjanya, persyaratan-persyaratan yang ada yang harus terpenuhi oleh pekerja-pekerja ini. Dan justru ada yang sampai saat ini masih bekerja di perusahaan itu. Ada yang kami kirim ke Samarinda, ke Sangkulirang, untuk bekerja di sana sebagai pekerja perkebunan kelapa sawit. Karena memang mereka di sana juga punya pengalaman itu. Ya, jadi, hanya ini saja yang bisa kami lakukan.

Kemudian yang mau pulang kampung, ya, kita uruskan mereka pulang kampung, dengan pemerintah menyediakan tiket kapal Pelni untuk kembali ke sana. Nanti baru mereka merencanakan kembali. Tapi bahwa kami sudah memberikan peringatan kepada mereka, pengurusan paspor di sini sudah satu pintu secara online, maka bapak dan ibu kalau mau ingin bekerja lagi di Sabah, Malaysia, mengurus itu dengan cara legal, dengan resmi.

Yohanes Ensogemakin. [Suara.com]
Yohanes Ensogemakin. [Suara.com]

Ada cerita soal Pak Yohanes sempat menyambut para imigran itu dengan toa. Itu bagaimana ceritanya?

Saya akhirnya mengambil satu cara yang sederhana: saya buatkan spanduk "selamat datang para pahlawan devisa negara". Ya, itu kan ungkapan untuk mereka, biar mereka merasa berbesar hati, merasa kalau "saya ini pahlawan". Kemudian saya bawa sound system. Sound system itu saya pasang, buka lagu-lagu dari NTT, Makassar, Jawa, pokoknya lagu-lagu Nusantara. Dengan maksud, [bahwa] pada saat mereka turun dari kapal, saat mereka menginjakkan kaki di pelabuhan, mereka merasa sudah ada di tanah air, sudah ada di kampung halaman. Sambil saya menyampaikan ke mereka, "Mari kita bersyukur pada Tuhan, Allah SWT, karena kita sudah bebas dari belenggu penderitaan dan kesulitan di Sabah. Bapak dan ibu sekarang sudah ada di tanah air, mari kita mulai merencanakan hidup yang baru."

Seperti itu, motivasi dan spirit yang saya lakukan dengan cara saya sendiri, untuk bisa menyentuh hati nurani mereka untuk tidak lagi menjadikan perantauan yang ugal-ugalan itu lagi, tapi mereka sudah mulai mempersiapkan diri menjadi imigran yang bermartabat, imigran yang resmi, imigran yang bisa diandalkan oleh bangsa kita. Maka saya lebih berprinsip, saya mau melakukan ini untuk menghadirkan negara di Nunukan, negara hadir. Sekalipun memang saya orang yang masih dibawah sekali, tapi kan saya mau supaya ini menjadi sebuah gambaran dan citra, karena kami ada di halaman depannya NKRI, kami ada di beranda depan NKRI. Jadi bagaimanapun, kami memang harus ramah, kami memang harus peduli, seperti itu. Supaya itu bisa dirasakan oleh para migran kita.

Apakah ini bagian dari 'menyentuh' mereka, bahwa (mereka) sudah berada di tanah air?

Bahkan ada sesama saudara saya, biarpun mereka antrian jauh di sana, dia bisa nyelonong ke sana dan dia bilang, “Pak, bisa tambah bass-nya lagi?” Ya itu artinya dia merindukan musik itu, dia merindukan irama itu, dia merindukan suasana itu, maka ini yang saya hadirkan. Dan ternyata Pak Kepala BP2MI itu, Pak Kombes Ginting, kalau soundsystem tidak ada dia pasti cari, “mana Sogen ini? Mana? Kenapa dia tidak datang?” karena dia merasa ini sangat penting untuk bisa menghidupkan suasana, kemudian membuat rasa batin mereka tergerak untuk teringat kampung halaman mereka dan mungkin ini juga merupakan sebuah terapi yang bagi saya hal yang sederhana ini bisa dapat membantu mereka.

Bagaimana keluh kesah membangun pendidikan di daerah bahkan termasuk pedalaman?

Ini berawal dulu ketika saya menjadi anggota komisi migran di Keuskupan Tanjung Selor, yang menjadi Keuskupan migran perantau di Nunukan. Kemudian pada saat Pastor melakukan kunjungan ke Sabah untuk memberikan pelayanan sakramen, saya diikutsertakan. Kemudian saya berpikir, apa posisi saya di sini, dengan melihat anak-anak begitu banyak, saya mulai memikirkan, Oh alangkah baiknya saya melakukan ini, tapi di mana tempatnya? Siapa pendampingnya? Nah waktu itu saya ikutkan program Temu Minggu, jadi anak anak pada saat mau sakramen, perayaan, mereka datang ke kita mulai dengan nyanyi-nyanyi, mulai dengan cerita-cerita tentang perjalanan kehidupan di Gereja Katolik kami, Yesus sebagai Guru dan Teladan itu. Kemudian, orang tua mulia semakin banyak bawa anak-anak mereka.

Dan saya waktu itu terinspirasi untuk bisa memulai, saya minta ketua yang mewakili Gereja Katolik di sana, bisakah kita tarik satu untuk ke samping kanan untuk dibuatkan kelas. Saya masukkan mereka seperti kelas TK begitu, kemudian mulai berjalan, ada orang yang disitu mau mendampingi.

Kemudian saya bilang, kita tidak ada uang untuk menggaji kamu, tapi kami hanya minta semangat. Ternyata mereka juga punya respon yang sangat baik, mulai membangun pendampingan itu sampai ke tingkat SD. Sudah ruangan itu penuh, saya harus minta buat lagi di samping sebelahnya, dan masuklah itu ke kelas 3, kelas 4, dan kami perlu memikirkan untuk menyediakan satu tempat yang harus menjadikan ruang belajar.

Kebetulan di situ ada rumah yang disiapkan perusahaan untuk tempat tinggal para pekerja. Tapi perusahaan itu sudah kabur, rumahnya itu masih ada, kami minta mereka untuk kami gunakan tempat itu. Dan disetujui, kami sampai dengan angkatan pertama, angkatan kedua SD.

Setelah itu rumah itu terbakar, dan mereka panggil saya ke Keningau, Malaysia, bagaimana cara solusi. Saya bilang begini saja, “Kita ketemu Bapa Uskup di pedalaman”. Ketemu beliau, beliau menjanjikan untuk bertemu dengan pemilik tanah di daerah itu, ternyata kami diberi ruang mendapatkan 2 hektar tanah dari orang-orang asli disitu. Tapi bagaimana kita mau mendirikan sekolah ini, sambil kami berpikir dan sambil memungut kayu-kayu sisa dari perusahaan itu untuk membangun, datanglah sebuah ordo dari Singapura, namanya Lasalle, Ordo Bruder, Lasalle. Itu dia bergerak di bidang pendidikan juga, melihat kondisi ini mereka tawarkan, “Pak Sogen mungkin bisa kami bantu dengan mendirikan bangunan ini”. Saya bilang, “Kami memang tidak sampai punya kemampuan begitu, tapi kalau bapak mau bantu, bersyukurlah”.

Akhirnya mereka pulang ke Singapura, mendapatkan persetujuan, bangun sekolah itu dua tingkat pak, tapi dalam kondisi semi permanen. Dua tingkat, di bawahnya SD, di atasnya SMP. Kemudian asrama juga dua tingkat, di bawahnya perempuan, di atasnya laki-laki.

Persoalannya tidak ada kebutuhan pokok listrik dan air, nah bagaimana caranya? Saya lagi-lagi berusaha untuk mendapatkan informasi siapa kira-kira di sini yang menjadi anggota DPR di kawasan ini untuk daerah Malaysia itu. Kebetulan orang-orang Katolik saja di situ karena kita Mansalong dengan Penyiangan itu dekat, jadi ada kawin campur. Sehingga bisa dapat kita lakukan koordinasi. Pas saya ketemu mereka bilang ada anggota DPR yang beragama Katolik, kalau boleh kami rekomendasi untuk bapak ketemu. Ketemu lah kami, saya bilang “Pak kebutuhan kami air dan listrik, bila itu bapak berkenan, bisa kah bantu kami untuk dua kebutuhan pokok ini?” Ternyata ada dua mingguan begitu, mereka sudah pasang pak airnya dipasang, listriknya dipasang.

Kemudian, mulailah kami dengan proses pembelajaran yang reguler. Kemudian cari teman-teman guru yang pas-pas saja, yang penting bisa mengajar. Kemudian dalam jangka waktu 2 tahun, pemerintah Malaysia dan Indonesia sudah bekerja sama untuk menyetujui adanya pendidikan anak-anak imigran di sana, Konsulat Jenderal Kota Kinabalu dengan membentuk satu warna pendidikan melalui CLC, masuklah sekolah itu kedalam lininya CLC, sehingga sampai sekarang. Tapi saya masih lagi memberikan perhatian dan kepedulian terhadap lembaga itu, bahkan anak-anak yang tamat disitu, saya tarik mereka untuk sekolah di SMA Katolik di Nunukan, krna memang di SMA Katolik itu juga sekolah yang bisa menampung anak-anak TKI dari sembarang. Bahkan ada yang dari SMA, kebetulan saya ngajar, jadi dosen juga di Poltek, saya arahkan mereka supaya jangan jauh-jauh biar disini saja, dan itu yang saya lakukan pak untuk dibidang pendidikan.

Jadi sekolahnya di bawah yayasan, atau bagaimana?

Sekolah itu karena dulu yayasan saya belum mendapat SK dari Kemenkumham, kita gunakan yayasan dulu itu namanya Pelangi Nusantara. Hanya dia belum secara resmi oleh pemerintah, maka yayasan itu yang menjadi penguat bagi masyarakat saja, tapi kalo untuk koordinasi dengan pemerintah itu belum bisa. Nah sekarang ini kan sudah ada, jadi saya sudah telepon kesana kalau yayasan muara kasih semesta ini menjadi penaung dari sekolah ini.

Dengan segala pelayanan yang Pak Yohanes berikan, adakah warga yang justru betah tinggal di Nunukan?

Ada juga itu, mereka ada yang, satunya begini, pada saat mereka mau pulang kampung mereka tidak ada uang, karena mereka dari penjara hanya bawa badan saja, malu mereka, terus tawaran kami untuk bekerja disitu ada yang mau, bahkan mereka merasa betah pak tinggal disitu, bahkan sampai hari ini mereka bisa beli tanah dan membangun rumah di Nunukan.

Karena saya selain dari pendidikan, saya bawa mereka ke sebuah koperasi simpan pinjam, namanya credit union, supaya mereka bisa punya investasi, punya simpanan. Saya bilang kalau kamu mau bangun rumah, kami simpan disini, nanti buat pinjaman untuk buat rumah, buat pinjaman untuk beli tanah, buat pinjaman untuk sekolah. Dan ada yang memang mereka menyetujui dan menyepakati, dan mereka ada yang betah. Bahkan mereka yang pulang ke kampung itu mungkin tidak tahan sampai 1 bulan, tiba-tiba datang lagi karena di kampung tidak ada pekerjaan, di kampung tidak ada pemasukan, kalau di sini kan mereka bisa bekerja apa saja boleh.

Ada juga yang saya tawari mereka untuk ikut di program BLK, pelatihan-pelatihan di BLK. Karena saya dengan kepala dinas tenaga kerja itu juga dalam satu tim satgas, mereka menerima tawaran saya berapa orang untuk bisa diikutkan dalam program BLK, untuk pelatihan-pelatihan baik menjahit, las, otomotif, instalasi, dan sebagainya, AC. semua itu kan untuk membantu mereka punya keahlian saja, supaya bisa punya pekerjaan yang lebih baik.

Adakah imigran yang justru sukses setelah mendapat pelayanan dari yayasan Anda?

Kalau yang begitu, anak anak saja yang dari sananya dulu mereka tidak sekolah, kita ajak mereka sekolah. Bahkan sekarang mereka sudah bisa menjadi orang-orang yang dikenal. Ada yang sudah PNS dan sudah Eselon, dan itu saya merasa bangga karena ya itu lah tanpa kita sadari. Tapi kalo orang-orang yang warga imigran itu sendiri belum terlalu kelihatan untuk menjabat jabatan-jabatan seperti itu, tetapi pekerjaan-pekerjaan yang wajar yang layak itu sudah, sudah ada yang memadai

Ada tidak, yang awalnya ODGJ, lalu sekarang menjadi normal kembali?

Oh ada. Ada yang sudah sehat, bahkan yang kebanyakan saya kirim pulang ke kampung itu keluarganya buat surat kadangkala telepon, "Pak terima kasih banyak, kalau bapak tidak rangkul kami, mungkin anak kami ini jadi binatang jadi setan begitu". Lalu saya jawab "oh jangan, sampai kata-kata itu kamu keluarkan di depan anak kamu. Ini kan jalan Tuhan mungkin ini caranya bapak dan ibu punya anak itu sampai bertemu di kampung, begitu".

Ada yang memang kita kirim ke Samarinda, dipulihkan, sehat pak. Tapi yang di sini, di Nunukan karena kami belum punya tempat pemulihan itu, saya sendiri juga belum terlalu banyak.

Maka saya kemarin lewat dinas sosial minta psikolog, kemudian dinas sosial mendatangkan satu psikolog, nah psikolog itulah yang sekarang mendampingi ODGJ ini juga pak secara psikologi. Jadi kita membangun mitra dan kerja sama dengan dinas sosial pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, begitu juga dengan BP2MI, juga dengan pihak kepolisian untuk bisa menyelesaikan semua persoalan yang berkaitan erat dengan PMI ini.

Berarti Pak Yohanes termasuk sangat aktif ya, jemput bola mencari bantuan sana-sini?

Tetap aktif, walaupun memang ada informasi seperti itu kami selalu berkoordinasi kental, gitu. Jadi ada persoalan kepala dinas sosial telpon, “Pak Sogen ini ada begini, bagaimana ini caranya?”, “Oke bu kalau begitu saya ke kantor”.

Jadi kami mencari solusi,, seperti apa gerakan kita ini supaya dikemas dibungkus sedemikian tanpa harus digembar-gemborkan di luar, tapi apalagi termasuk anak-anak yang perempuan di bawah umur. Seperti itu kan, itu memang kami kemas betul, kami lindungi, bagaimana cara penyelesaiannya.

Apa saran ke depan untuk memperbaiki sistem? Pak Yohanes kan di baris terdepan dalam berurusan dengan imigran.

Saya dengan prinsip dan niat saya tadi, saya menghadirkan negara itu maksudnya, kami yang masyarakat madani ini dengan lembaga yang ada menjadi pondasi negara di bawah, di akar umbi itu kalau boleh diberdayakan. Supaya apa, kami bisa dapat melakukan pelayanan yang prima, karena kami memang ada di kawasan itu, minimal dan dorongan pada motivasi, kemudian ada perhatian dari pemerintah. Tidak hanya dalam bentuk slogan-slogan, tapi ada dana-dana sedikit yang membantu kami untuk bisa meringankan kami untuk membuat pelayanan ini lebih bermartabat.

Teman-teman dan saudara kita pekerja migran Indonesia yang datang itu merasa bahwa mereka punya pemimpin bangsa ini yang peduli, melalui tangan kami, melalui perhatian kami, melalui cara kami, itulah negara hadir, itu maksud saya.

Jadi saya lebih minta perhatian dan kepedulian dari pemerintah pusat juga pemerintah daerah, bagaimana caranya kita melakukan ini untuk bisa dapat membuat warga migran Indonesia itu tidak merasa menderita lagi di bangsanya sendiri, di negaranya sendiri.

Kalau mereka di sana sudah menderita, bagaimana di sini kita buat mereka bahagia, buat mereka senang, dan itu tidak hanya dengan kata-kata, tidak hanya dengan ungkapan-ungkapan ini. Kita melakukan sesuatu yang nyata, yang real supaya itu melekat di diri mereka bahwa negara ada.

Saya sangat berharap pak, ini kebetulan saya hari ini menerima penganugerahan itu, itu bagi saya sebuah ungkapan terima kasih kepada bangsa dan negara ini, tetapi mari kita mulai melihat ke depan. Karena regulasi ini tidak berhenti, siklus ini tidak berhenti, maka kita akan berusaha sedapat mungkin untuk meminimalisir membuat suasana ini menjadi normal kembali, tidak seperti kita membalikkan telapak tangan, tapi ada tahapan yang pasti kita buat menuju ke tujuan dan sasaran yang akan kita capai.

Saya bahkan terima kasih sekali pak untuk kesempatan ini, mudah-mudahan ini menjadi konsumsi kita bersama, siapa pun yang ada di luar bisa melihat membaca dan mendengar ini, mari kita mulai dengan satu hati yang ikhlas, peduli terhadap pekerja migran Indonesia kita sejelek apa pun mereka pak, mereka sudah mempunyai devisa terhadap bangsa dan negara ini. Biar sekecil apapun mereka punya, jadi mari kita kembalikan itu kepada mereka untuk memanusiakan mereka. Tapi semua ini kita serahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, semoga apa yang kita lakukan ini mendapat ridho dan berkat dari-Nya.