Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.665.000
Beli Rp2.535.000
IHSG 6.101,333
LQ45 598,429
Srikehati 292,525
JII 363,372
USD/IDR 17.863

Harga Pertamax Seharusnya Turun Jadi Rp8.500 per Liter

Doddy Rosadi

Minggu, 28 Desember 2014 | 08:41 WIB
Harga Pertamax Seharusnya Turun Jadi Rp8.500 per Liter
Pengendara mengisi bahan bakar Pertamax di SPBU Abdul Muis Jakarta. (suara.com/Kurniawan Mas'ud)

Suara.com - PT Pertamina diminta untuk segera menurunkan harga jual Pertamax menyusul terus melemahnya harga minyak dunia. Pengamat perminyakan yang juga anggota DPR dari Partai Nasional Demokrat, Kurtubi mengatakan, Pertamax merupakan jenis BBM yang tidak disubsidi pemerintah sehingga arga jualnya mengikuti harga pasar.

Kata dia, anjloknya harga minyak hingga ke bawah 60 dolar Amerika per barel seharusnya segera diikuti Pertamina dengan menurunkan harga jual Pertamax yang saat ini masih sekitar Rp9.900 per liter.

“Kalau hitungan saya, harga Pertamax itu bisa dijual dengan harga Rp8.500 – Rp9.000 per liter. Karena harga Pertamax turun, sudah seharusnya pemerintah juga menurunkan harga premium yang masih menerima subsidi. Harga premium seharusnya bisa diturunkan Rp1.000 per liter,” kata Kurtubi ketika dihubungi suara.com melalui sambungan telepon, Minggu (28/12/2014).

Kurtubi mengatakan, penurunan harga premium bisa segera dilakukan dan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla bisa langsung menerapkan kebijakan subsidi tetap untuk premium. Dengan kebijakan tersebut, maka jumlah dana untuk subsidi BBM tetap meski nantinya harga minyak dunia akan kembali naik.

“Jadi kebijakan subsidi tetap itu bisa segera diterapkan. Kebijakan itu justru tidak akan lagi membuat pemerintah pusing kalau harga minyak dunia naik karena jumlahnya sudah dipatok di nominal tertentu. Kalau harga minyak dunia naik maka harga BBM subsidi bisa ikut naik namun jumlah subsidi pemerintah tetap,” jelasnya.

Kurtubi menambahkan, harga minyak dunia sulit untuk kembali naik ke posisi 100 dolar Amerika per barel apabila Arab Saudi tidak mau mengurangi produksi minyaknya. Anjloknya harga minyak dunia terjadi karena produksi yang berlebih dan sedikitnya permintaan. Arab Saudi yang merupakan anggota OPEC menolak untuk mengurangi produksi karena hal itu justru akan menguntungkan negara produsen minyak non OPEC seperti Amerika Serikat dan Rusia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Tim Reformasi Migas Diminta Tak Hentikan Produksi Premium

Tim Reformasi Migas Diminta Tak Hentikan Produksi Premium

News | Sabtu, 27 Desember 2014 | 13:58 WIB

Ron 88 Dihapus, Peluang Liberalisasi Bagi SPBU Asing

Ron 88 Dihapus, Peluang Liberalisasi Bagi SPBU Asing

Bisnis | Sabtu, 27 Desember 2014 | 12:50 WIB

Alihkan Subsidi Premium ke Pertamax

Alihkan Subsidi Premium ke Pertamax

Bisnis | Jum'at, 26 Desember 2014 | 18:00 WIB

Butuh Waktu 2-5 Bulan Untuk Beralih dari Premium ke Pertamax

Butuh Waktu 2-5 Bulan Untuk Beralih dari Premium ke Pertamax

Bisnis | Minggu, 21 Desember 2014 | 23:09 WIB

Kenapa Pemerintah Diam Saja soal "Down Grade" Premium?

Kenapa Pemerintah Diam Saja soal "Down Grade" Premium?

Bisnis | Minggu, 21 Desember 2014 | 22:43 WIB

Komite Migas Rekomendasikan Stop Impor Premium

Komite Migas Rekomendasikan Stop Impor Premium

Bisnis | Minggu, 21 Desember 2014 | 18:48 WIB

Terkini

Rekap Hari Ini: IHSG Ambruk, Rupiah Anjlok!

Rekap Hari Ini: IHSG Ambruk, Rupiah Anjlok!

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 17:03 WIB

Sinyal Bahaya dari Perbankan: Kredit Agresif, Likuiditas Justru Kian Menipis!

Sinyal Bahaya dari Perbankan: Kredit Agresif, Likuiditas Justru Kian Menipis!

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 16:56 WIB

Pemerintah Tunda Insentif Motor Listrik, Nasib Ditentukan Juli 2026

Pemerintah Tunda Insentif Motor Listrik, Nasib Ditentukan Juli 2026

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 16:53 WIB

Prabowo Mau Stop Impor BBM: Kita Akan Swasembada Energi

Prabowo Mau Stop Impor BBM: Kita Akan Swasembada Energi

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 16:37 WIB

IHSG Hancur Lebur! Anjlok 3,56% ke Level 5.883, Asing Ramai Jual BMRI dan DSSA

IHSG Hancur Lebur! Anjlok 3,56% ke Level 5.883, Asing Ramai Jual BMRI dan DSSA

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 16:31 WIB

Pelemahan Tak Terbendung, Rupiah Hampir Balik Lagi ke Rp18.000

Pelemahan Tak Terbendung, Rupiah Hampir Balik Lagi ke Rp18.000

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 16:13 WIB

Purbaya Klaim Kemenkeu Belum Berencana Punya Saham BEI Meski Diizinkan UU P2SK

Purbaya Klaim Kemenkeu Belum Berencana Punya Saham BEI Meski Diizinkan UU P2SK

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 15:37 WIB

Purbaya Ngotot Tambah Layer Cukai untuk Legalisasi Rokok Ilegal

Purbaya Ngotot Tambah Layer Cukai untuk Legalisasi Rokok Ilegal

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 15:14 WIB

Bunga Kredit PNM Mekaar Turun Jadi 8 Persen, OJK Mendadak Beri Peringatan

Bunga Kredit PNM Mekaar Turun Jadi 8 Persen, OJK Mendadak Beri Peringatan

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 14:37 WIB

Evaluasi MBG, Luhut Soroti Pelaksanaan Serentak

Evaluasi MBG, Luhut Soroti Pelaksanaan Serentak

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 14:35 WIB