Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.599.000
Beli Rp2.485.000
IHSG 5.924,360
LQ45 589,254
Srikehati 291,550
JII 348,641
USD/IDR 18.064

Pemulihan Pasar Seiring Dimulainya Perdagangan Pekan Ini

Siswanto

Selasa, 16 Februari 2016 | 20:09 WIB
Pemulihan Pasar Seiring Dimulainya Perdagangan Pekan Ini
Ilustrasi dolar Amerika Serikat [shutterstock]

Suara.com - Setelah berlanjutnya periode penjualan yang cukup agresif, pasar modal di seluruh sesi perdagangan Asia dan Eropa memulai pekan baru dengan positif dan sejauh ini memberikan peningkatan, meskipun sesi perdagangan di Cina yang baru dimulai setelah libur Imlek mengalami angka yang cenderung suram, dan ini kembali menekankan bahwa ekonomi Cina terus melambat.

Oleh karena itu, saat ini tampaknya ekspektasi pertumbuhan ekonomi Cina tahun 2016 cukup akurat pada angka sedikit di atas 6 persen. Rilis data ekonomi yang negatif pagi ini tidak hanya terjadi di Cina. Ekonomi Jepang juga diberitakan mengalami kontraksi lebih besar dari ekspektasi pada triwulan terakhir 2015. 

Menurut Chief Market Analyst Forez Time Jameel Ahmad pada dasarnya, masih banyak risiko terhadap sentimen pasar. Kekhawatiran terhadap situasi ekonomi global juga masih berlanjut dan dapat kembali mendorong terjadinya gelombang penjualan yang agresif di pasar modal.

Ada spekulasi bahwa alasan pemulihan perdagangan sejauh ini adalah munculnya harapan baru bahwa bank-bank sentral akan terus melonggarkan kebijakan moneter, dan perhatian berpusat pada pidato Mario Draghi hari ini.

“Saya menganggap ini adalah risiko tersendiri karena berbagai perangkat stimulus yang digelontorkan oleh sejumlah bank sentral sejauh ini gagal menciptakan pengaruh yang diinginkan di perekonomian masing-masing,” kata Jameel Ahmad dalam pernyataan tertulis yang diterima Suara.com, Selasa (16/2/2016).

USD masih tampak rentan

USD masih terlihat rentan di seluruh pasar mata uang setelah secara mengejutkan tidak ada lagi ekspektasi bahwa Federal Reserve akan meningkatkan suku bunga AS di tahun 2016. Bahkan ada kecurigaan besar bahwa Fed mungkin akan terpaksa berbalik arah dan menurunkan suku bunga.

Jameel Ahmad mengaku tercengang karena hanya dua bulan setelah peningkatan suku bunga bersejarah yang telah ditunggu-tunggu pasar selama sekitar satu tahun, terjadi perubahan arah dan bank sentral ini mungkin terpaksa memasuki teritori suku bunga negatif apabila keyakinan terhadap ekonomi global terus melemah. Menurut dia sangat bertolak belakang dengan posisi sebelumnya bahwa Federal Reserve sepenuhnya berkomitmen melakukan normalisasi kebijakan moneter.

Jameel Ahmad mengatakan tidak akan terkejut apabila sekarang banyak pihak yang mempertanyakan kredibilitas bank sentra terkuat di dunia ini, karena baru enam pekan lalu kita mendengar komentar yang sangat ambisius dan meyakinkan dari sejumlah anggota Federal Reserve bahwa bank sentral ini berencana meningkatkan suku bunga kurang lebih sebanyak empat kali di tahun 2016.

"Suatu hal yang cukup memalukan saat melihat bahwa kini kita terang-terangan beralih dari memamerkan keyakinan akan pemulihan ekonomi menjadi secara realistis mengumumkan kemungkinan memasuki teritori suku bunga negatif. Kita memperkirakan USD akan terus terlihat rentan dan cenderung lemah di masa mendatang karena kekhawatiran apa pun yang muncul dari rilis data ekonomi akan menyebabkan kecurigaan bahwa Fed bisa saja mengejutkan pasar finansial," kata Jameel Ahmad.

Menurut Jameel Ahmad  mendatarnya permintaan dolar hanya akan memberi tekanan tambahan terhadap Bank of Japan dan bank sentral Eropa untuk kembali melonggarkan kebijakan moneter, karena melemahnya USD akan menyebabkan mata uangnya menguat di kala kedua perekonomian ini memerlukan mata uang domestik yang bersaing untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Yuan meningkat karena PBoC memperkuat mata uang

Selain semakin kuatnya ekspektasi atas bank sentral untuk terus melonggarkan kebijakan moneter, salah satu alasan mengapa pemulihan pasar modal mungkin akan berlanjut adalah karena PBoC memberi keyakinan kepada investor dengan menyokong nilai tukar yuan dengan nilai paling besar dalam tiga bulan. Yuan segera menguat setelah Gubernur PBoC, Zhan Xiaochuan menyampaikan keyakinan bahwa arus keluar modal masih normal dan Yuan stabil.

Pernyataan ini, kata Jameel Ahmad, mungkin memberi dampak positif terhadap sentimen investor tentang Cina.

“Saya pribadi meyakini bahwa tren Yuan masih akan lemah di sepanjang 2016 karena data ekonomi akan terus menampilkan bahwa pertumbuhan Cina melambat. Risiko lain yang perlu diperhatikan pasar adalah meningkatnya arus keluar modal,” tuturnya.

Harga emas mengarah ke 1.200 dolar

Harga emas mulai bergerak menuju level support di sekitar 1.200 dolar setelah sebelumnya melejit ke level tertinggi sejak Januari 2015 di harga $1263, yang menyusul pelemahan USD secara dramatis. Banyak yang terhenyak dengan pulihnya nilai emas selama sepekan terakhir. Logam mulia ini masih dianggap sebagai safe haven meskipun banyak dipertanyakan dalam setahun terakhir akibat diabaikannya emas seiring dengan terjadinya drama di Yunani dan ketidakpastian ekonomi Cina.

"Saya pribadi berpendapat bahwa arah perdagangan emas di masa mendatang akan bergantung pada permintaan akan Dolar, yang berarti trader harus terus memantau data ekonomi AS dan langkah yang benar-benar akan diambil Federal Reserve berkaitan dengan suku bunga AS," kata Jameel Ahmad.

GBP/USD kembali terlihat berisiko

GBP/USD kembali terlihat berisiko di pekan yang penuh tekanan besar setelah pasangan mata uang ini gagal menutup perdagangan di atas level 1.4550 pekan lalu.

Jameel Ahmad menganggap ini sebagai level psikologis GPB/USD sehingga memperkirakan penjualan pasangan mata uang ini akan berlanjut dengan dimulainya perdagangan pekan ini.

Jameel Ahmad mengatakan masih banyak alasan untuk tetap negatif terhadap Pound Inggris akibat banyaknya faktor yang masih membatasi ketertarikan investor akan GBP, seperti pertumbuhan ekonomi yang melambat, ekspektasi suku bunga yang berulang kali mundur, dan sejumlah pertanyaan yang belum terjawab seputar kemungkinan referendum "Brexit" (keputusan apakah Inggris akan bertahan atau keluar dari Uni Eropa).

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Rupiah Terancam! Siap-siap Hadapi Tekanan Berat Senin Besok

Rupiah Terancam! Siap-siap Hadapi Tekanan Berat Senin Besok

Bisnis | Minggu, 12 Juli 2026 | 17:34 WIB

Rupiah Kembali Rp18.000, Mata Uang RI Melemah Akibat Kasta IHSG Turun?

Rupiah Kembali Rp18.000, Mata Uang RI Melemah Akibat Kasta IHSG Turun?

Bisnis | Rabu, 08 Juli 2026 | 17:46 WIB

Rupiah Terpuruk! Kembali Dekati Level 18.000 per Dolar AS.

Rupiah Terpuruk! Kembali Dekati Level 18.000 per Dolar AS.

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 15:44 WIB

Dolar AS Diproyeksi Perkasa Ditopang Wall Street, Rupiah Bisa Anjlok Lagi?

Dolar AS Diproyeksi Perkasa Ditopang Wall Street, Rupiah Bisa Anjlok Lagi?

Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 22:31 WIB

Rekap Hari Ini: IHSG Ambruk, Rupiah Anjlok!

Rekap Hari Ini: IHSG Ambruk, Rupiah Anjlok!

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 17:03 WIB

Rupiah Kembali Melemah Meski BI-Rate Naik 100 bps, Pakar Ungkap Penyebabnya

Rupiah Kembali Melemah Meski BI-Rate Naik 100 bps, Pakar Ungkap Penyebabnya

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 10:12 WIB

Rupiah Dibuka Anjlok ke Level Rp17.856 per Dolar AS, Ini Biang Keroknya

Rupiah Dibuka Anjlok ke Level Rp17.856 per Dolar AS, Ini Biang Keroknya

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 09:35 WIB

Rupiah Melemah ke Rp17.988, Dipicu 'Ulah' Trump dan Rapor Merah Ritel Domestik

Rupiah Melemah ke Rp17.988, Dipicu 'Ulah' Trump dan Rapor Merah Ritel Domestik

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 16:10 WIB

Rupiah Nyaris Kembali ke Level Rp18.000 per Dolar AS, BI Sudah Siap-siap

Rupiah Nyaris Kembali ke Level Rp18.000 per Dolar AS, BI Sudah Siap-siap

Bisnis | Kamis, 11 Juni 2026 | 15:37 WIB

Rupiah Terus Tertekan, Bank Indonesia Sebut Belum Ada Rapat Darurat

Rupiah Terus Tertekan, Bank Indonesia Sebut Belum Ada Rapat Darurat

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 09:31 WIB

Terkini

B50 Jadi Juru Selamat, Sudah Cukup atau Ada PR Baru?

B50 Jadi Juru Selamat, Sudah Cukup atau Ada PR Baru?

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 20:13 WIB

Yudha WK Putra Relawan Gibran Mendadak Viral Usai Diangkat Menjadi Komisaris Jasamarga Tollroad

Yudha WK Putra Relawan Gibran Mendadak Viral Usai Diangkat Menjadi Komisaris Jasamarga Tollroad

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 19:47 WIB

BRI Dukung UMKM Brownies Ketan Naik Kelas, Lewat Pembiayaan dan Pendampingan Tembus Pasar Ekspor

BRI Dukung UMKM Brownies Ketan Naik Kelas, Lewat Pembiayaan dan Pendampingan Tembus Pasar Ekspor

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 19:39 WIB

BRI Hadirkan ORI030, Pilihan Investasi Aman untuk Bangun Portofolio

BRI Hadirkan ORI030, Pilihan Investasi Aman untuk Bangun Portofolio

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 19:03 WIB

BNI Kuatkan Tata Kelola Penyaluran KUR

BNI Kuatkan Tata Kelola Penyaluran KUR

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 18:43 WIB

Purbaya Akui Penerimaan Bea Cukai 2026 Bisa Meleset dari Target

Purbaya Akui Penerimaan Bea Cukai 2026 Bisa Meleset dari Target

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 18:32 WIB

Shortfall Pajak 2026 Bisa Tembus Rp 46,9 Triliun, Purbaya Ancam Rumahkan Pegawai DJP

Shortfall Pajak 2026 Bisa Tembus Rp 46,9 Triliun, Purbaya Ancam Rumahkan Pegawai DJP

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 18:08 WIB

Bisnis Kopi UMKM Moncer 60% Berkat Jualan Online

Bisnis Kopi UMKM Moncer 60% Berkat Jualan Online

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 18:05 WIB

Riset: 66,8% Anak Indonesia Sarapan dengan Kualitas Gizi Rendah

Riset: 66,8% Anak Indonesia Sarapan dengan Kualitas Gizi Rendah

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 18:01 WIB

Kapan WIKA, WSKT, dan INAF Delisting? Ini Penjelasan BEI

Kapan WIKA, WSKT, dan INAF Delisting? Ini Penjelasan BEI

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 17:21 WIB

×