Indonesia Masuk 15 Besar Negara Terancam Resesi Versi Bloomberg

Siswanto, BBC

Kamis, 14 Juli 2022 | 17:18 WIB
Indonesia Masuk 15 Besar Negara Terancam Resesi Versi Bloomberg
BBC

Suara.com - Indonesia masuk ke dalam daftar 15 negara di dunia yang terancam mengalami resesi, sementara Dana Moneter Internasional (IMF) mewanti-wanti prospek ekonomi global kian 'gelap'.

Berdasarkan hasil survei Bloomberg, Indonesia masuk dalam daftar 15 negara yang berisiko mengalami resesi. Dalam daftar tersebut, Indonesia berada di peringkat ke-14.

Sri Lanka—yang mengalami ketidakstabilan ekonomi dan sosial baru-baru ini—menempati posisi pertama negara berpotensi resesi dengan presentase 85%,

Menyusul kemudian New Zealand 33%, Korea Selatan dan Jepang dengan presentase 25%.

Sedangkan China, Hongkong, Australia, Taiwan, dan Pakistan dengan presentase 20%.

Malaysia 13%, Vietnam dan Thailand 10%, Filipina 8%, Indonesia 3%, dan India 0%.

Baca juga:

Menanggapi survei tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan dibandingkan dengan negara-negara lain dalam daftar itu, Indonesia memiliki indikator ekonomi yang lebih baik.

"Indikator neraca pembayaran kita, APBN kita, ketahanan dari GDP (produk domestik bruto), dan juga dari sisi korporasi maupun dari rumah tangga, serta monetary policy kita relatif dalam situasi yang tadi disebutkan risikonya 3%, dibandingkan negara lain yang potensi untuk bisa mengalami resesi jauh di atas, yaitu di atas 70%," jelas Sri Mulyani dalam konferensi pers di Bali, Rabu (13/07).

baca juga

Sementara, kepala IMF Kristalina Georgieva mengatakan pihaknya akan menurunkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi global pada bulan ini.

Dalam perkiraan terakhir yang dikeluarkan pada April silam, IMF memperkirakan pertumbuhan global hanya akan mencapai 3,6% tahun ini.

Georgieva beralasan perang di Ukraina, inflasi tinggi di luar ekspektasi dan pandemi Covid yang masih terus terjadi, menjadi penyebab semakin gelapnya prospek ekonomi ke depan.

Beberapa hal ini membuat krisis biaya hidup semakin parah bagi jutaan orang, kata Georgieva.

Sementara yang paling terdampak, lanjut Georgieva, adalah keluarga miskin.

Ancaman resesi

Rencana IMF menurunkan prospek ekonomi global mengemuka ketika inflasi di Amerika Serikat—negara dengan ekonomi terbesar di dunia—mencapai 9,1%, tertinggi selama 40 tahun terakhir.

Peringatan Georgieva bahwa prospek ekonomi global "lebih gelap secara signifikan" dikemukakan ketika menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G-20 bertemu di Bali, Indonesia.

"Kami berharap yang terbaik, tetapi tentu saja bersiap untuk yang terburuk," kata Gubernur bank sentral Indonesia Perry Warjiyo.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menambahkan, meski indikator ekonomi Indonesia lebih baik dibanding 14 negara lain yang terancam resesi, Indonesia masih tetap harus waspada terhadap potensi resesi yang masih dapat terjadi.

Baca juga:

Pasalnya, saat ini negara-negara di dunia masih dibayangi resesi dan kenaikan inflasi.

"Kita tetap harus waspada karena ini akan berlangsung sampai tahun depan.

Risiko global mengenai inflasi dan resesi, ujar Sri Mulyani, menjadi salah satu topik pembahasan dalam pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G20.

"Message-nya adalah kita tetap akan menggunakan semua instrumen kebijakan kita," kata Sri Mulyani.

Pertemuan itu membahas beragam isu yang meresahkan perekonomian global, antara lain kenaikan harga komoditas, ketahanan pangan, dan dampak perang di Ukraina mengingat Ukraina merupakan pengekspor pangan utama.

Georgieva berkata dalam unggahan di laman IMF bahwa inflasi telah "meluas melampaui harga makanan dan energi".

Ini membuat banyak bank sentral meningkatkan biaya pinjaman, sesuatu yang dia katakan akan "perlu dilanjutkan".

Adapun bank sentral Kanada menjadi bank sentral terbaru yang menaikkan suku bunga, dari 1,5% menjadi 2,5% demi mengatasi inflasi yang melonjak menjadi 7,7%.

Gubernur bank sentral Kanada, Tiff Macklem mengatakan angka kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan dan merupakan inflasi terbesar dalam 24 tahun, "mencerminkan kekhawatiran bahwa inflasi terlalu tinggi dan itu mempengaruhi semua warga Kanada".

Sementara bank sentral AS diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga, yang kemungkinan menjadi peningkatan suku bunga terbesar, dalam pertemuan bulan ini.

Sejauh ini, The Fed—sebutan bagi bank sentral AS—telah menaikkan suku bunganya sebanyak tiga kali tahun ini saja.

Suku bunga yang lebih tinggi, biasanya dilakukan untuk menekan inflasi, sebab itu berarti perusahaan dan orang-orang perlu menggunakan uang tunai untuk membayar pinjaman, ketimbang menghabiskan uang itu untuk makanan dan layanan.

IMF mengatakan sebanyak 75 bank telah menaikkan suku bunganya tahun lalu, dengan rata-rata kenaikan 3,8 kali.

Akan tetapi, jika pola itu tidak berlanjut, Georgieva mengantisipasi "lebih banyak kerugian bagi pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja".

"Bertindak sekarang akan lebih sedikit merugikan daripada bertindak nanti," tambahnya.

Dia juga memperingatkan negara-negara yang telah menggelontorkan miliaran dolar untuk mendukung ekonomi mereka selama pandemi, perlu menguranginya untuk meredam permintaan barang dan jasa yang didorong oleh uang itu.

Bantuan uang tunai masih dibutuhkan

Bagaimanapun, bantuan uang tunai "untuk mendukung rumah tangga yang rentan", masih dibutuhkan, terutama mereka yang paling terdampak kenaikan harga energi atau pangan yang tinggi, katanya.

Georgieva mengatakan pengeluaran ini harus didanai oleh pemotongan di alokasi anggaran atau sumber pendapatan baru, selain utang.

Dalam jangka panjang, tambah Georgieva, kebijakan untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja global, terutama yang mendorong lebih banyak perempuan untuk bekerja, juga akan membantu.

Menjelang pertemuan G20 yang berlangsung akhir pekan ini, Georgieva mengatakan bahwa kerja sama global yang lebih baik diperlukan karena "risiko ketidakstabilan sosial meningkat".

Risiko terjadi karena kekhawatiran atas pasokan makanan dan energi yang terus meningkat.

Kekhawatiran semacam itu telah berkontribusi pada meluasnya aksi demonstrasi di Sri Lanka, yang menderita krisis ekonomi terburuk sejak kemerdekaan lebih dari 70 tahun yang lalu.

Kepala IMF mengatakan tindakan segera yang dapat diambil termasuk mengakhiri pembatasan ekspor makanan yang telah diberlakukan banyak negara sejak perang di Ukraina dimulai.

Dia juga menyerukan negara-negara terkaya di dunia untuk menggunakan pertemuan itu sebagai kesempatan untuk membantu "memberikan dukungan yang mendesak" kepada mereka yang paling membutuhkan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menko Airlangga Singgung IMF, Sebut Jadi Penyebab Kegagalan Industri Pesawat RI

Menko Airlangga Singgung IMF, Sebut Jadi Penyebab Kegagalan Industri Pesawat RI

Bisnis | Selasa, 20 Oktober 2026 | 15:50 WIB

Ekonomi RI Dipuji IMF: Mengapa Kantong Kelas Menengah Tipis?

Ekonomi RI Dipuji IMF: Mengapa Kantong Kelas Menengah Tipis?

Your Say | Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:45 WIB

Prabowo Tolak Utang IMF, Ekonom: Pajak Belum Mampu Biayai Pembangunan

Prabowo Tolak Utang IMF, Ekonom: Pajak Belum Mampu Biayai Pembangunan

News | Selasa, 01 September 2026 | 16:00 WIB

Tak Mau Indonesia Banyak Utang, Prabowo Tolak Tawaran Pinjaman IMF

Tak Mau Indonesia Banyak Utang, Prabowo Tolak Tawaran Pinjaman IMF

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 15:59 WIB

Curhat ke IMF dan World Bank, Purbaya: Saya Menteri Paling Apes di Dunia

Curhat ke IMF dan World Bank, Purbaya: Saya Menteri Paling Apes di Dunia

Bisnis | Selasa, 04 Agustus 2026 | 15:44 WIB

Calon Korban Krisis Selat Hormuz Sudah Terlihat, Negara Monarki Tertua Ini Terancam Resesi

Calon Korban Krisis Selat Hormuz Sudah Terlihat, Negara Monarki Tertua Ini Terancam Resesi

News | Senin, 03 Agustus 2026 | 13:57 WIB

IMF Pertahankan Target Ekonomi Indonesia, 'Lebih Baik' dari India dan Filipina

IMF Pertahankan Target Ekonomi Indonesia, 'Lebih Baik' dari India dan Filipina

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 13:04 WIB

Sempat Tolak IMF dan World Bank, Purbaya Kini Cari Utang Rp 17,8 T ke China lewat Panda Bond

Sempat Tolak IMF dan World Bank, Purbaya Kini Cari Utang Rp 17,8 T ke China lewat Panda Bond

Bisnis | Jum'at, 19 Juni 2026 | 18:42 WIB

IMF Peringatkan Risiko Ekonomi Negara Berkembang di Asia

IMF Peringatkan Risiko Ekonomi Negara Berkembang di Asia

Bisnis | Selasa, 16 Juni 2026 | 10:56 WIB

Purbaya Bingung Ekonomi RI Dibilang Masuk Masa Resesi

Purbaya Bingung Ekonomi RI Dibilang Masuk Masa Resesi

Bisnis | Minggu, 07 Juni 2026 | 15:24 WIB

Terkini

Ketegangan Gas dengan Singapura, Indonesia Disebut Buktikan Nyali dan Kedaulatan Energi

Ketegangan Gas dengan Singapura, Indonesia Disebut Buktikan Nyali dan Kedaulatan Energi

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:53 WIB

MHU Pangkas Emisi Tambang 41,34%, Lampaui Target Penurunan hingga 2030

MHU Pangkas Emisi Tambang 41,34%, Lampaui Target Penurunan hingga 2030

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:43 WIB

JIS Mulai Dilirik Investor Naming Rights, Pramono Ungkap Ada 15 Konser Tahun Depan

JIS Mulai Dilirik Investor Naming Rights, Pramono Ungkap Ada 15 Konser Tahun Depan

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:42 WIB

Kerap Jadi Alat Kriminalisasi, Perumus Kritik Penerapan Pasal UU Tipikor: Sudah Jauh Menyimpang!

Kerap Jadi Alat Kriminalisasi, Perumus Kritik Penerapan Pasal UU Tipikor: Sudah Jauh Menyimpang!

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:37 WIB

Segmen Derivatif Topang Kinerja PT Indokripto Koin Semesta Tbk di Tengah Koreksi Pasar Aset Kripto

Segmen Derivatif Topang Kinerja PT Indokripto Koin Semesta Tbk di Tengah Koreksi Pasar Aset Kripto

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:36 WIB

Detik-Detik Menegangkan! Ibu Hamil Melahirkan di Kereta, Dokter Spesialis Kandungan Turun Tangan

Detik-Detik Menegangkan! Ibu Hamil Melahirkan di Kereta, Dokter Spesialis Kandungan Turun Tangan

Jabar | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:24 WIB

Kenang Ani Yudhoyono Lewat Novel, SBY: Saya Sudah Move On

Kenang Ani Yudhoyono Lewat Novel, SBY: Saya Sudah Move On

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:24 WIB

Energi Liar Deus Slidetober 2026 Ditutup Aksi Memukau The Panturas

Energi Liar Deus Slidetober 2026 Ditutup Aksi Memukau The Panturas

Entertainment | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:15 WIB

5 Tanda Kasir Anda Butuh Alat Notifikasi Suara Pembayaran

5 Tanda Kasir Anda Butuh Alat Notifikasi Suara Pembayaran

Jakarta | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:06 WIB

Pulihkan Kerugian Korban, Panja DPR Masukkan Kejahatan Investasi Bodong ke RUU Perampasan Aset

Pulihkan Kerugian Korban, Panja DPR Masukkan Kejahatan Investasi Bodong ke RUU Perampasan Aset

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:01 WIB

×