Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.798.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 7.057,106
LQ45 681,583
Srikehati 330,472
JII 466,124
USD/IDR 17.420

RI Siapkan Jurus Jitu di Washington: Paket Negosiasi Disiapkan Hadapi Potensi Tarif Balasan AS

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Senin, 07 April 2025 | 15:26 WIB
RI Siapkan Jurus Jitu di Washington: Paket Negosiasi Disiapkan Hadapi Potensi Tarif Balasan AS
RI Siapkan Jurus Jitu di Washington: Paket Negosiasi Disiapkan Hadapi Potensi Tarif Balasan AS (Suara.com/Novian)

Suara.com - Pemerintah Indonesia bergerak cepat dan strategis dalam menghadapi potensi kebijakan tarif timbal balik (resiprokal) yang mungkin diterapkan oleh Amerika Serikat (AS).

Alih-alih mengambil langkah konfrontatif, Indonesia memilih jalur diplomasi dan tengah mempersiapkan serangkaian paket negosiasi komprehensif yang akan dibawa dalam perundingan di Washington D.C.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pendekatan diplomatis dipilih sebagai solusi yang saling menguntungkan bagi kedua negara.

"Indonesia sendiri akan mendorong beberapa kesepakatan dan dengan beberapa negara ASEAN, menteri perdagangan juga berkomunikasi selain dengan Malaysia juga dengan Singapura, dengan Kamboja dan yang lain untuk mengkalibrasi sikap bersama ASEAN," ujar Menko Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (7/4/2025).

Langkah awal ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam membangun posisi tawar yang kuat melalui solidaritas regional.

Sebelum bertolak ke Washington, Pemerintah Indonesia akan terlebih dahulu menggelar pertemuan dengan para pemimpin negara-negara ASEAN pada 10 April 2025. Pertemuan ini krusial untuk menyamakan pandangan dan menyusun strategi bersama dalam menghadapi potensi kebijakan perdagangan dari AS. Solidaritas ASEAN diharapkan dapat memberikan bobot lebih pada posisi negosiasi Indonesia.

Dalam pertemuan terpisah dengan para pelaku usaha, pemerintah memaparkan beberapa poin utama yang akan menjadi amunisi dalam perundingan dengan AS. Paket negosiasi yang disiapkan mencakup berbagai aspek, mulai dari revitalisasi perjanjian hingga insentif fiskal.

Empat Pilar Strategi Negosiasi Indonesia:

1. Revitalisasi TIFA: Langkah pertama yang akan diajukan Indonesia adalah menghidupkan kembali Perjanjian Kerja Sama Perdagangan dan Investasi (Trade & Investment Framework Agreement/TIFA). Perjanjian bilateral yang ditandatangani pada tahun 1996 ini dinilai sudah tidak lagi sepenuhnya relevan dengan kondisi perdagangan dan investasi saat ini.

"Karena TIFA sendiri secara bilateral ditandatangani di 1996 dan banyak isunya sudah tidak relevan lagi sehingga kita akan mendorong (revitalisasi) berbagai kebijakan itu masuk dalam TIFA," jelas Menko Airlangga. Revitalisasi TIFA diharapkan dapat menciptakan kerangka kerja sama yang lebih modern dan mengakomodasi kepentingan kedua negara.

2. Deregulasi NTMs di Sektor Teknologi: Pemerintah juga akan menawarkan proposal deregulasi Non-Tariff Measures (NTMs), khususnya melalui relaksasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di sektor teknologi informasi dan komunikasi. Selain itu, Indonesia juga siap melakukan evaluasi terkait pelarangan dan pembatasan barang-barang ekspor maupun impor AS. Langkah ini menunjukkan fleksibilitas Indonesia dalam meninjau kembali kebijakan-kebijakan yang mungkin menjadi perhatian AS.

3. Peningkatan Impor dan Investasi AS di Sektor Migas: Sebagai bagian dari upaya menciptakan keseimbangan perdagangan, Indonesia akan menawarkan potensi peningkatan impor dan investasi dari AS, terutama di sektor minyak dan gas (migas). Langkah ini diharapkan dapat mempersempit defisit perdagangan yang dialami AS dengan Indonesia.

"Terkait dengan tarif dan bagaimana kita meningkatkan impor, bagaimana dengan impor ekspor kita yang bisa sampai 18 miliar dolar AS diisi dengan produk-produk yang kita impor, termasuk gandum, katun bahkan juga salah satunya adalah produk migas," ungkap Airlangga.

4. Insentif Fiskal dan Non-Fiskal: Pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah insentif fiskal dan non-fiskal untuk mendorong impor dari AS sekaligus menjaga daya saing ekspor Indonesia ke pasar Amerika. Strategi ini meliputi potensi penurunan bea masuk, Pajak Penghasilan (PPh) impor, atau Pajak Pertambahan Nilai (PPN) impor untuk produk-produk tertentu dari AS. Langkah ini diharapkan dapat menarik minat perusahaan AS untuk meningkatkan ekspornya ke Indonesia.

Langkah proaktif Indonesia ini didasari oleh data perdagangan yang menunjukkan surplus signifikan di pihak Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), Indonesia mencatatkan surplus perdagangan dengan AS sebesar 14,34 miliar dollar AS pada tahun 2024. Kontributor utama surplus ini adalah ekspor mesin dan perlengkapan elektrik (4,18 miliar dollar AS), pakaian dan aksesori pakaian (2,84 miliar dollar AS), serta alas kaki (2,39 miliar dollar AS).

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mendadak Dijemput Prabowo di Bengkulu, Agung Surahman Minta Maaf: Diluar Dugaan Saya

Mendadak Dijemput Prabowo di Bengkulu, Agung Surahman Minta Maaf: Diluar Dugaan Saya

News | Senin, 07 April 2025 | 15:16 WIB

Tenang Hadapi Perang Dagang, Prabowo Siap Bawa Indonesia Berunding dengan Semua Negara

Tenang Hadapi Perang Dagang, Prabowo Siap Bawa Indonesia Berunding dengan Semua Negara

News | Senin, 07 April 2025 | 14:39 WIB

Prabowo Percaya Diri Lawan Tarif Trump: Tidak Perlu Ada Rasa Kuatir!

Prabowo Percaya Diri Lawan Tarif Trump: Tidak Perlu Ada Rasa Kuatir!

Bisnis | Senin, 07 April 2025 | 14:34 WIB

Terkini

Rupiah Ambruk Karena Kondisi Fiskal, Panda Bond dan Swap Currency Tak Selesaikan Masalah

Rupiah Ambruk Karena Kondisi Fiskal, Panda Bond dan Swap Currency Tak Selesaikan Masalah

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 21:07 WIB

Fundamental Terjaga, Tugu Insurance Bukukan Laba Rp265,62 Miliar di Kuartal I-2026

Fundamental Terjaga, Tugu Insurance Bukukan Laba Rp265,62 Miliar di Kuartal I-2026

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 21:03 WIB

Investor Masih Kabur saat IHSG Menguat? Rupiah Kuncinya

Investor Masih Kabur saat IHSG Menguat? Rupiah Kuncinya

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 20:52 WIB

Bahlil Mau Terapkan Skema Bagi Hasil Migas di Sektor Pertambangan

Bahlil Mau Terapkan Skema Bagi Hasil Migas di Sektor Pertambangan

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 19:20 WIB

Ada Pejabat Baru di Lingkungan Kementerian ESDM, Ini Daftarnya

Ada Pejabat Baru di Lingkungan Kementerian ESDM, Ini Daftarnya

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 19:08 WIB

Pengamat Ingatkan Efek Pelemahan Rupiah Bikin APBN Berdarah-darah

Pengamat Ingatkan Efek Pelemahan Rupiah Bikin APBN Berdarah-darah

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 19:00 WIB

Bahlil Fokus Ganti LPG 3 Kg ke CNG, Berapa Harga Jualnya?

Bahlil Fokus Ganti LPG 3 Kg ke CNG, Berapa Harga Jualnya?

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 18:52 WIB

Dirikan Learning Center di Fakultas Pertanian UGM, Wujud Kepedulian BRI terhadap Pendidikan

Dirikan Learning Center di Fakultas Pertanian UGM, Wujud Kepedulian BRI terhadap Pendidikan

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 18:49 WIB

Rupiah Turun Terus, Purbaya Siapkan Dana Stabilisasi Obligasi

Rupiah Turun Terus, Purbaya Siapkan Dana Stabilisasi Obligasi

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 18:20 WIB

Pengamat: Aturan Soal Migas Jadi Biang Kerok Rupiah Terus Jeblok

Pengamat: Aturan Soal Migas Jadi Biang Kerok Rupiah Terus Jeblok

Bisnis | Rabu, 06 Mei 2026 | 17:47 WIB