Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.301,765
LQ45 627,165
Srikehati 306,330
JII 376,355
USD/IDR 17.877

Badai PHK Mengintai: 1,2 Juta Pekerja RI di Ujung Tanduk Perang Tarif AS-China!

Mohammad Fadil Djailani

Kamis, 17 April 2025 | 14:46 WIB
Badai PHK Mengintai: 1,2 Juta Pekerja RI di Ujung Tanduk Perang Tarif AS-China!
Ilustrasi. Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyatakan ada 1,2 juta pekerja terkena PHK (Antara).

Suara.com - Awan kelabu membentang di atas lanskap ketenagakerjaan Indonesia. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan skala mencengangkan berpotensi menerjang jutaan pekerja Tanah Air, menjadi tumbal tak terhindarkan dari drama sengketa dagang yang kian memanas antara dua raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat (AS) dan China.

Bak pedang bermata dua, kebijakan tarif resiprokal yang digulirkan Presiden AS Donald Trump, alih-alih menjadi perisai bagi perekonomian domestik, justru mengancam memporak-porandakan pundi-pundi penghidupan jutaan keluarga di Indonesia. Proyeksi suram ini diungkapkan oleh ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, yang dengan nada getir memperingatkan potensi "tsunami" PHK yang dapat mencapai angka 1,2 juta pekerja dalam setahun ke depan.

"1,2 juta itu total tenaga kerja yang terpotong," ujar Nailul Huda, menyampaikan proyeksi yang menggetarkan dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (17/4/2025). Angka fantastis ini bukanlah sekadar tebakan tanpa dasar, melainkan hasil perhitungan cermat yang mempertimbangkan dampak efek domino perang tarif terhadap berbagai sektor industri di Tanah Air.

Lebih lanjut, Nailul Huda membeberkan peta kerentanan di berbagai lini industri. Subsektor tekstil dan produk tekstil (TPT) diprediksi akan menjadi episentrum dari gelombang PHK ini, dengan potensi pengurangan tenaga kerja mencapai 191 ribu jiwa. Sebuah angka yang merobek hati, membayangkan ratusan ribu keluarga yang terpaksa menghadapi jurang ketidakpastian ekonomi.

"Bisa dibilang penyerapan tenaga kerja di industri tekstil itu akan berkurang sekitar 191 ribu, ini hitungan kasar kita," ungkapnya dengan raut prihatin. Kondisi ini bak luka menganga bagi industri TPT nasional, yang selama ini dikenal sebagai salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.

Nailul Huda menjelaskan lebih lanjut akar permasalahan yang menjerat industri TPT. Pengenaan tarif masuk dari AS, yang setiap kenaikan 1 persennya diproyeksikan dapat menggerogoti volume ekspor hingga 0,8 persen, menjadi pukulan telak bagi produk-produk tekstil buatan dalam negeri yang selama ini mengandalkan pasar AS.

Ironisnya, tekanan dari luar diperparah oleh serbuan impor produk tekstil dari China yang jauh lebih murah di pasar domestik. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan yang mematikan bagi industri TPT nasional, mengikis daya saing, menurunkan nilai tambah, dan pada akhirnya memaksa para pelaku industri untuk melakukan efisiensi dengan cara yang paling menyakitkan: merumahkan para pekerja.

Kilasan balik ke awal mula drama tragis ini menunjukkan bahwa pada 2 April lalu, Presiden AS Donald Trump tanpa ragu menandatangani perintah eksekutif yang menetapkan jaring tarif timbal balik terhadap impor dari berbagai negara. Kebijakan yang kontroversial ini menetapkan tarif dasar sebesar 10 persen, namun dengan kejutan pahit bagi 57 negara yang dianggap memiliki defisit perdagangan besar dengan AS, termasuk Indonesia yang terjerat tarif resiprokal sebesar 32 persen.

Meskipun sempat ada secercah harapan ketika pada 9 April Trump mengumumkan penangguhan tarif dasar selama 90 hari bagi lebih dari 75 negara yang bersedia bernegosiasi, China tetap menjadi pengecualian utama. Perang dagang yang telah berlangsung lebih lama antara kedua negara adidaya ini telah mencapai titik didih, dengan tarif AS terhadap barang-barang asal China melonjak hingga 145 persen, dan tarif balasan China terhadap produk Amerika mencapai 125 persen.

baca juga

Posisi Indonesia dalam pusaran perang dagang ini ibarat berada di antara dua palu godam. Di satu sisi, potensi relokasi investasi dari China dapat menjadi berkah tersembunyi bagi Indonesia. Namun, di sisi lain, kebijakan tarif AS yang diskriminatif dan banjir impor murah dari China justru menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan industri dalam negeri dan stabilitas ketenagakerjaan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ternyata Kelapa Langka itu Karena Dijual ke Luar Negeri Lebih Cuan Dibanding Dalam Negeri

Ternyata Kelapa Langka itu Karena Dijual ke Luar Negeri Lebih Cuan Dibanding Dalam Negeri

Bisnis | Kamis, 17 April 2025 | 14:39 WIB

Harga Emas Diramal Makin Bersinar Tahun Ini, Bakal Cetak Sejarah Dunia

Harga Emas Diramal Makin Bersinar Tahun Ini, Bakal Cetak Sejarah Dunia

Bisnis | Kamis, 17 April 2025 | 14:37 WIB

Strategi Unik Balas Tarif Trump, Gucci dan Prada Made in 'China'

Strategi Unik Balas Tarif Trump, Gucci dan Prada Made in 'China'

Video | Kamis, 17 April 2025 | 14:09 WIB

Terkini

Wajah Baru Pasar Godean Usai Relokasi, Pedagang Masih Perlu Beradaptasi

Wajah Baru Pasar Godean Usai Relokasi, Pedagang Masih Perlu Beradaptasi

Your Say | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 07:00 WIB

Arab Saudi Cari Jalur Ekspor Minyak Baru, Masa Depan Selat Hormuz Makin Suram karena Perang

Arab Saudi Cari Jalur Ekspor Minyak Baru, Masa Depan Selat Hormuz Makin Suram karena Perang

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 06:52 WIB

3 Zodiak yang Diprediksi Sukses Finansial 14 Agustus 2026, Rezeki Makin Lancar

3 Zodiak yang Diprediksi Sukses Finansial 14 Agustus 2026, Rezeki Makin Lancar

Lifestyle | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 06:48 WIB

4 Shio Paling Beruntung pada 14 Agustus 2026, Akhirnya Gak Kesepian Lagi

4 Shio Paling Beruntung pada 14 Agustus 2026, Akhirnya Gak Kesepian Lagi

Lifestyle | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 06:25 WIB

Paradoks AI, Ciptakan Pengangguran Massal Hingga Krisis Air di India

Paradoks AI, Ciptakan Pengangguran Massal Hingga Krisis Air di India

News | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 06:17 WIB

Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot

Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot

Bogor | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:39 WIB

Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral

Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral

Bogor | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:31 WIB

Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan

Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan

Bogor | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:14 WIB

Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan

Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan

Lifestyle | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:11 WIB

Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan

Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan

Jabar | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:52 WIB

×