Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.740.000
Beli Rp2.605.000
IHSG 5.746,648
LQ45 569,322
Srikehati 278,381
JII 347,610
USD/IDR 18.136

Industri Properti Hadapi Tantangan Berat: Peluang Emas Menanti di Tengah "Backlog" Jutaan Unit

Dythia Novianty, Mohammad Fadil Djailani

Sabtu, 31 Mei 2025 | 13:23 WIB
Industri Properti Hadapi Tantangan Berat: Peluang Emas Menanti di Tengah "Backlog" Jutaan Unit
Ilustrasi properti. [Unsplash]

Suara.com - Gemuruh perlambatan ekonomi global dan bayang-bayang resesi kian menghantui berbagai sektor, tak terkecuali industri properti.

Pasar properti kini dihadapkan pada tantangan maha berat, mulai dari kenaikan suku bunga, daya beli konsumen yang tergerus inflasi, hingga sentimen pasar yang cenderung wait and see.

Laporan dari berbagai lembaga riset properti dalam beberapa waktu terakhir pun menunjukkan penurunan penjualan dan perlambatan pertumbuhan harga di berbagai segmen.

Sektor perumahan residensial, apartemen, hingga ruang perkantoran sama-sama merasakan dampak dari kondisi makroekonomi yang kurang kondusif. Situasi ini menghadirkan dilema besar bagi pengembang dan konsumen.

Wakil Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI), Bambang Ekajaya, tak menampik bahwa industri properti saat ini memang menghadapi tantangan berat.

Terlebih lagi, backlog atau kekurangan pasokan hunian di Indonesia masih sangat tinggi, menyentuh angka lebih dari 15 juta unit berdasarkan data BPS 2024.

"Kebutuhan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan menengah bawah (MBT) masih sangat tinggi," kata Bambang dalam analisanya yang dikutip pada Sabtu (31/5/2025).

Parahnya, ketersediaan rumah subsidi juga masih sangat terbatas.

Tahun ini, hanya sekitar 420 ribu unit yang tercover dari target program 3 juta hunian per tahun. "Tapi ini sekaligus jadi peluang besar," ungkap Bambang.

Bambang menyarankan agar masyarakat maupun investor memanfaatkan situasi saat ini.

Dengan tekanan pasar yang belum sepenuhnya pulih, banyak properti dan lahan yang ditawarkan di bawah harga pasar, yang bisa menjadi peluang emas bagi mereka yang jeli.

Bambang menyebutkan salah satu cara jitu adalah dengan menguatkan jaringan infrastruktur di kawasan properti.

Dirinya mencontohkan keberhasilan ini sudah dilakukan pengembang Agung Sedayu Group yang mengelola kawasan properti PIK2.

Ia menjelaskan bahwa aksesibilitas menjadi kunci utama. Diketahui untuk mencapai kawasan PIK2, kini sudah tersedia dua akses tol langsung dari Tol Dalam Kota dan Jakarta Outer Ring Road (JORR).

"Dengan adanya dua akses tol langsung menuju PIK, baik dari arah tol dalam kota maupun tol Jakarta Outer Ring Road, mobilitas penghuni dan pengunjung menjadi sangat mudah," ujar Bambang.

Keunggulan konektivitas ini, lanjutnya, tak hanya mempermudah pergerakan, tetapi juga mendorong pertumbuhan kawasan secara menyeluruh. Hal ini menciptakan efek domino positif bagi perekonomian lokal.

Ilustrasi porperti. [Shutterstock]

"Mulai dari UMKM hingga brand global membuka gerainya di sini. Ini menciptakan efek berganda lapangan kerja, pertumbuhan bisnis, dan kontribusi langsung pada perekonomian nasional," tegasnya.

Bambang menegaskan bahwa ini adalah contoh nyata bahwa jika infrastruktur dan akses dibangun dengan visi jangka panjang, maka properti akan tumbuh secara berkelanjutan.

"Kawasan properti bukan hanya proyek, tapi motor ekonomi." katanya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Fahri Hamzah, mengungkapkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan adanya lonjakan dramatis pada angka kekurangan rumah tangga terhadap hunian (backlog).

Angka ini kini tidak lagi berada di kisaran 9,9 juta atau 12 juta seperti yang selama ini diketahui publik, melainkan telah menembus 15 juta unit.

"Jumlah backlog baru adalah sekitar 15 juta antrian, untuk kepemilikan rumah baru. Backlog renovasi RTLH (rumah tidak layak huni) sama, sekitar 26 juta," kata Fahri dalam acara Silaturahmi Nasional Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) di Jakarta Pusat, Senin (21/4/2025) lalu.

Pernyataan Fahri ini mengkonfirmasi bahwa tantangan penyediaan hunian layak bagi masyarakat Indonesia semakin besar dan mendesak.

Backlog 15 juta unit ini merepresentasikan jutaan keluarga yang belum memiliki rumah sendiri dan terus bertambah seiring pertumbuhan jumlah keluarga di Indonesia.

Fahri Hamzah menjelaskan bahwa kenaikan angka backlog ini sangat selaras dengan dinamika demografis terbaru di Indonesia.

Data BPS menunjukkan bahwa saat ini, jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 289,5 juta jiwa.

Lebih krusialnya adalah peningkatan signifikan pada jumlah keluarga, yang kini tercatat sebanyak 91,3 juta.

Angka ini melonjak tajam dibandingkan data tahun sebelumnya yang berada di kisaran 74 hingga 78 juta keluarga.

Kenaikan jumlah rumah tangga baru secara langsung berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan akan hunian.

Setiap terbentuknya keluarga baru, idealnya membutuhkan satu unit rumah, dan pertumbuhan yang pesat ini menciptakan kesenjangan antara pasokan dan permintaan hunian.

Selain backlog kepemilikan rumah, pemerintah juga dihadapkan pada tantangan besar dalam menangani renovasi rumah tidak layak huni (RTLH).

Menurut data yang disampaikan dalam Silaturahmi Nasional APERSI, jumlah RTLH yang membutuhkan renovasi saat ini berada di kisaran 26 juta unit.

Angka ini sama besarnya dengan backlog kepemilikan rumah, menunjukkan bahwa kualitas hunian yang ada juga memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan berbagai pihak terkait.

Data ini menjadi alarm keras bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan di sektor perumahan.

Program pembangunan 3 juta rumah yang dicanangkan oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto memang menjadi angin segar, namun data terbaru ini menegaskan bahwa skala masalah perumahan jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mau Beli Rumah? Saatnya Hijrah ke Kota Mandiri di Barat Jakarta

Mau Beli Rumah? Saatnya Hijrah ke Kota Mandiri di Barat Jakarta

Bisnis | Rabu, 30 April 2025 | 23:29 WIB

Ekonomi Global Bergejolak, BRI Bukukan Laba Konsolidasi Rp13,8 T

Ekonomi Global Bergejolak, BRI Bukukan Laba Konsolidasi Rp13,8 T

Bisnis | Rabu, 30 April 2025 | 14:54 WIB

Qory Sandioriva Diam-diam Sudah Cerai untuk Kali Kedua

Qory Sandioriva Diam-diam Sudah Cerai untuk Kali Kedua

Entertainment | Selasa, 29 April 2025 | 11:31 WIB

Hadapi Tantangan Ekonomi Global, Gubernur BI Sebut Indonesia Sangat Berpengalaman

Hadapi Tantangan Ekonomi Global, Gubernur BI Sebut Indonesia Sangat Berpengalaman

Bisnis | Senin, 28 April 2025 | 07:50 WIB

Makin Melorot, Bank Dunia Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2025 Jadi 4,7 Persen

Makin Melorot, Bank Dunia Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2025 Jadi 4,7 Persen

Bisnis | Jum'at, 25 April 2025 | 14:31 WIB

BNI Perkuat Sinergi dengan Nasabah dan Pelaku Usaha Jateng Hadapi Tantangan Ekonomi Global

BNI Perkuat Sinergi dengan Nasabah dan Pelaku Usaha Jateng Hadapi Tantangan Ekonomi Global

News | Jum'at, 25 April 2025 | 11:39 WIB

Terkini

BI Rate Naik Mendadak, Pertanda Apa untuk Ekonomi Indonesia?

BI Rate Naik Mendadak, Pertanda Apa untuk Ekonomi Indonesia?

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 07:53 WIB

OJK Redakan Isu Panas Ekonomi Indonesia, 'Sell Indonesia' Jadi Sorotan Investor

OJK Redakan Isu Panas Ekonomi Indonesia, 'Sell Indonesia' Jadi Sorotan Investor

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 07:45 WIB

Update Harga BBM Pertamina Hari Ini, Pertamax Hampir Sentuh Rp17.000

Update Harga BBM Pertamina Hari Ini, Pertamax Hampir Sentuh Rp17.000

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 07:30 WIB

OJK Panggil PT Toyota Astra Financial Services, Apa Kasusnya?

OJK Panggil PT Toyota Astra Financial Services, Apa Kasusnya?

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 07:22 WIB

Digital Edge Kucurkan Investasi Rp73 Triliun, Bangun Kampus Data Center AI Terbesar

Digital Edge Kucurkan Investasi Rp73 Triliun, Bangun Kampus Data Center AI Terbesar

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 07:14 WIB

Jakpro Buka Tender Sponsor Raksasa untuk Naming Rights JIS 5 Tahun

Jakpro Buka Tender Sponsor Raksasa untuk Naming Rights JIS 5 Tahun

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 07:02 WIB

Diam-diam Pertamina Kerek Harga Pertamax dari Rp12.300 ke Rp16.250 per Liter, Ini Daftar Lengkapnya

Diam-diam Pertamina Kerek Harga Pertamax dari Rp12.300 ke Rp16.250 per Liter, Ini Daftar Lengkapnya

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 06:45 WIB

Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter

Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 05:39 WIB

MBG Sukses Ciptakan Ekosistem Rantai Pasok Baru di Daerah

MBG Sukses Ciptakan Ekosistem Rantai Pasok Baru di Daerah

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 20:56 WIB

Chatib Basri Blak-blakan ke Prabowo soal Tergerusnya Kepercayaan pada Pemerintah

Chatib Basri Blak-blakan ke Prabowo soal Tergerusnya Kepercayaan pada Pemerintah

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 19:57 WIB