Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.798.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 6.969,396
LQ45 677,179
Srikehati 334,465
JII 451,232
USD/IDR 17.370

Emas Antam Terpuruk, Harga Anjlok Jadi Rp 1.932.000/Gram

Achmad Fauzi | Suara.com

Selasa, 24 Juni 2025 | 10:05 WIB
Emas Antam Terpuruk, Harga Anjlok Jadi Rp 1.932.000/Gram
Ilustrasi cara jual emas antam (Gambar oleh istara dari Pixabay)

Suara.com - Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari Selasa, 23 Juni 2025 untuk ukuran satu dibanderol di harga Rp 1.932.000 per gram.

Harga emas Antam merosot sebesar Rp 10.000 dibandingkan hari Senin, 23 Juni 2025 sebelumnya.

Sementara itu, harga Buyback (beli kembali) emas Antam dibanderol di harga Rp 1.776.000 per gram.

Harga buyback itu juga anjlok Rp 10.000 dibandingkan dengan harga buyback hari Senin kemarin.

Pegawai menata kepingan emas yang dijual di Kantor Pegadaian Cabang di Kota Bengkulu, Bengkulu [Suara.com/ANTARA]
Pegawai menata kepingan emas yang dijual di Kantor Pegadaian Cabang di Kota Bengkulu, Bengkulu [Suara.com/ANTARA]

Seperti dilansir dari laman resmi Logam Mulia Antam, berikut adalah harga emas antam pada hari ini:

  • Emas 0,5 gram Rp 1.016.000
  • Emas 1 Gram Rp 1.932.000
  • Emas 2 gram Rp 3.804.000
  • Emas 3 gram Rp 5.681.000
  • Emas 5 gram Rp 9.435.000
  • Emas 10 gram Rp 18.815.000
  • Emas 25 gram Rp 46.912.000
  • Emas 50 gram Rp 93.745.000
  • Emas 100 gram Rp 187.412.000
  • Emas 250 gram Rp 468.265.000
  • Emas 500 gram Rp 936.320.000
  • Emas 1.000 gram Rp 1.872.600.000

Harga Emas Dunia Cenderung Naik

Harga emas dunia cenderung alami kenaikan selama paruh pertama sesi perdagangan Eropa pada hari Selasa, meskipun belum menunjukkan tindak lanjut yang kuat seiring investor mencermati sejumlah isyarat fundamental yang saling bertentangan.

Seperti dilansir FXstreet, harga logam kuning ini masih berupaya mempertahankan posisi setelah mengalami tekanan dari penguatan Dolar AS (USD) yang didorong oleh perkembangan geopolitik dan sikap hawkish dari Federal Reserve.

Tegangan geopolitik meningkat tajam setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran pada Minggu lalu. Tindakan ini meningkatkan risiko konflik yang lebih luas di Timur Tengah, mendorong pelaku pasar untuk mencari aset safe haven seperti emas dan dolar AS.

Di saat yang sama, Dolar AS tetap tangguh, karena didukung statusnya sebagai mata uang cadangan global dan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Isyarat hawkish dari The Fed dipandang sebagai faktor yang membatasi laju kenaikan harga emas. Kebijakan suku bunga tinggi membuat logam mulia, yang tidak memberikan imbal hasil, menjadi kurang menarik dibanding aset lain seperti obligasi pemerintah AS yang kini memberikan yield tinggi.

Meski tertahan oleh kuatnya dolar, ketidakpastian geopolitik dan risiko perang di Timur Tengah tetap mendukung minat terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Pasar masih menunggu tanggapan resmi Iran terhadap serangan udara tersebut. Setiap eskalasi lebih lanjut dapat meningkatkan volatilitas dan mendongkrak permintaan emas.

Selain itu, ketidakpastian yang masih berlangsung di sektor perdagangan global juga turut memperkuat daya tarik logam kuning. Ketegangan yang belum sepenuhnya reda antara beberapa negara besar, terutama soal tarif dan perdagangan energi, memberikan dorongan tambahan bagi investor untuk berlindung pada emas.

Dari perspektif teknikal, para penjual emas masih menunggu konfirmasi arah baru, khususnya pergerakan di bawah Simple Moving Average (SMA) periode 100 serta penembusan kuat di bawah saluran naik jangka pendek.

Jika terjadi, harga emas dapat mempercepat penurunan menuju area support di kisaran USD 3.323 – USD 3.322. Jika tekanan jual berlanjut, level psikologis penting di bawah USD 3.300 bisa menjadi target selanjutnya.

Di sisi lain, level USD 3.400 menjadi resistensi kuat saat ini. Apabila harga berhasil menembus dan bertahan di atas angka tersebut, potensi penguatan emas akan terbuka lebih luas menuju kisaran USD 3.434 – USD 3.435, dan bahkan ke level USD 3.451 – USD 3.452, yang merupakan puncak hampir dua bulan terakhir.

Jika tren beli terus berlanjut, para investor kemungkinan akan mengincar rekor tertinggi sepanjang masa di area USD 3.500, meskipun level ini bertepatan dengan rintangan saluran naik yang dapat membatasi kenaikan lebih lanjut.

Pasar akan mengalihkan perhatian ke rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, khususnya angka awal Indeks Manajer Pembelian (PMI) Global S&P untuk bulan Juni. Angka yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat Dolar AS dan kembali membebani harga emas. Sebaliknya, jika data menunjukkan pelemahan, logam mulia berpeluang mendapatkan dorongan tambahan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Emas Antam Stagnan di Harga Rp 1.942.000 per Gram

Emas Antam Stagnan di Harga Rp 1.942.000 per Gram

Bisnis | Senin, 23 Juni 2025 | 09:37 WIB

Bagaimana Prospek Bitcoin saat Harga Emas Tertekan Akibat Perang Iran-Israel?

Bagaimana Prospek Bitcoin saat Harga Emas Tertekan Akibat Perang Iran-Israel?

Bisnis | Sabtu, 21 Juni 2025 | 12:48 WIB

Harga Emas Antam Terus Meluncur, Kini Dipatok Rp 1.936.000/Gram

Harga Emas Antam Terus Meluncur, Kini Dipatok Rp 1.936.000/Gram

Bisnis | Jum'at, 20 Juni 2025 | 09:07 WIB

Terkini

Purbaya Terima Aduan 46 Ribu Masalah Ditjen Pajak dan Bea Cukai

Purbaya Terima Aduan 46 Ribu Masalah Ditjen Pajak dan Bea Cukai

Bisnis | Minggu, 10 Mei 2026 | 19:31 WIB

Cerita Purbaya Ditekan Investor Asing Gegara Ragukan Kondisi Ekonomi RI

Cerita Purbaya Ditekan Investor Asing Gegara Ragukan Kondisi Ekonomi RI

Bisnis | Minggu, 10 Mei 2026 | 19:14 WIB

Diproyeksi Masih Tertekan, Intip Ramalan Pergerakan IHSG Pekan Depan

Diproyeksi Masih Tertekan, Intip Ramalan Pergerakan IHSG Pekan Depan

Bisnis | Minggu, 10 Mei 2026 | 18:58 WIB

Progres Pembangunan Pabrik Kimia Milik Chandra Asri Capai 66%

Progres Pembangunan Pabrik Kimia Milik Chandra Asri Capai 66%

Bisnis | Minggu, 10 Mei 2026 | 18:48 WIB

Nilai Tukar Rupiah Bisa Terus Melorot ke Level Rp 17.500 di Pekan Depan

Nilai Tukar Rupiah Bisa Terus Melorot ke Level Rp 17.500 di Pekan Depan

Bisnis | Minggu, 10 Mei 2026 | 18:36 WIB

UMKM Binaan Pertamina Raup Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026

UMKM Binaan Pertamina Raup Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026

Bisnis | Minggu, 10 Mei 2026 | 17:31 WIB

Simulasi Pengajuan Cicilan KUR BRI Hingga Rp500 Juta untuk UMKM 2026

Simulasi Pengajuan Cicilan KUR BRI Hingga Rp500 Juta untuk UMKM 2026

Bisnis | Minggu, 10 Mei 2026 | 17:26 WIB

BI Lapor Uang Primer Tumbuh Melambat 14,3% pada April 2026

BI Lapor Uang Primer Tumbuh Melambat 14,3% pada April 2026

Bisnis | Minggu, 10 Mei 2026 | 17:19 WIB

ASDP Masih Raih Pendapatan Rp 4,96 triliun pada 2025 di Tengah Tantangan Bisnis

ASDP Masih Raih Pendapatan Rp 4,96 triliun pada 2025 di Tengah Tantangan Bisnis

Bisnis | Minggu, 10 Mei 2026 | 17:14 WIB

OJK Restui Merger BPR Danaputra Sakti dengan BPR Harta Swadiri

OJK Restui Merger BPR Danaputra Sakti dengan BPR Harta Swadiri

Bisnis | Minggu, 10 Mei 2026 | 17:04 WIB