Bukan Niat Curang, Perpadi Beberkan Biang Kerok Maraknya Beras Oplosan

Achmad Fauzi

Selasa, 15 Juli 2025 | 18:08 WIB
Bukan Niat Curang, Perpadi Beberkan Biang Kerok Maraknya Beras Oplosan
Ilustrasi Beras [Freepik].

Suara.com - Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) mengungkapkan biang kerok terjadinya beras oplosan di masyarakat. Menurut Perpadi, beras oplosan terjadi karena memang kondisi industri pangan yang kian menantang.

Pengurus Perpadi, Tommy Gunawan, mengatakan memang benar jika adanya 212 merek beras oplosan, maka harus disikapi dengan serius dengan pemerintah maupun semua pihak.

"Tapi kita juga harus jujur, bahwa yang namanya oplosan itu muncul bukan semata karena niat curang, melainkan juga karena tekanan harga pasar dan kondisi pasokan yang tak ideal. Saat harga beras mahal dan stok langka, pengusaha dihadapkan pada dilema, bertahan atau kolaps," ujarnya kepada wartawan yang dikutip, Selasa (15/7/2025).

Tommy menilai, penyebab dari keragaman mutu beras tidak bisa dilihat sebagai kesengajaan untuk mengoplos, tetapi harus ditelusuri dari sumber awalnya.

Pengusaha penggilingan padi di Lampung Selatan menjerit setelah masuknya perusahaan besar ke petani. [ANTARA]
Pengusaha penggilingan padi di Lampung Selatan menjerit setelah masuknya perusahaan besar ke petani. [ANTARA]

"Pak Menteri (Mentan Amran) bilang ini beras oplosan, tapi seharusnya kita bedakan antara pelanggaran niat dan pelanggaran akibat sistem. Di penggilingan, kami menerima padi dari berbagai daerah dan jenis. Petani di Sumatera saja menanam lebih dari sepuluh jenis bibit. Di Jawa, beda lagi. Jadi kalau hasil beras tak seragam, itu bukan serta-merta bentuk manipulasi," katanya.

Tommy menuturkan, publik tidak bisa langsung mengeneralisasi temuan tersebut sebagai bentuk penipuan oleh pelaku penggilingan. Ia menegaskan, selama ini penggilingan padi banyak berada dalam posisi sulit, ditekan oleh harga, tergantung pada pasokan dari tengkulak, dan dibatasi oleh regulasi yang kerap berubah-ubah.

Sebagian besar pabrik menerima pasokan gabah dari berbagai wilayah melalui jalur tengkulak atau perantara. Di sinilah letak masalah yang jarang dibicarakan secara terbuka, keterbatasan suplai dan keragaman jenis gabah menyebabkan hasil penggilingan tidak bisa diseragamkan secara mutlak.

"Dalam kondisi kelangkaan, pabrik terpaksa menerima gabah dari mana saja. Kalau ada lima jenis gabah yang datang sekaligus ke pabrik, maka hasilnya pasti beragam. Bukan karena niat buruk, tapi karena sistem distribusi kita memang belum tertata," tegas Tommy.

Tommy meminta Menteri Pertanian untuk melihat peran tengkulak dalam rantai pasok beras nasional. Menurutnya, para tengkulak inilah yang memegang kendali penting atas kualitas dan sumber pasokan gabah yang masuk ke penggilingan.

baca juga

Namun selama ini, posisi mereka nyaris tidak pernah masuk dalam evaluasi kebijakan pangan nasional.

"Kalau pemerintah serius ingin benahi mutu beras, jangan berhenti di pabrik. Tengkulak harus ikut disorot. Mereka yang mengatur jalur gabah dari petani ke penggilingan. Tanpa kontrol di titik itu, hasil akhirnya tetap tak bisa dijamin," katanya.

Tommy juga meminta pemerintah untuk tidak menyudutkan industri penggilingan padi secara sepihak. Ia berharap ada pendekatan yang lebih kolaboratif, dengan melibatkan semua pelaku dari petani, tengkulak, penggilingan, hingga pengemasan dalam merumuskan solusi bersama.

"Kami di industri penggilingan bukan musuh negara. Kami bagian dari solusi ketahanan pangan. Kalau ada pelanggaran, tentu harus ditindak. Tapi jangan sampai semuanya disamaratakan tanpa melihat kompleksitas realitas di lapangan," imbuhnya.

Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri mengungkapkan produsen-produsen besar yang terduga dalam mengoplos beras dengan memberikan beras medium, tapi dikemas beras premium.

Setidaknya, 212 merek beras disebut tidak memenuhi standar mutu dan takaran, bahkan sebagian di antaranya diduga telah dioplos demi memenuhi klaim sebagai beras premium.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Helfi Assegaf, membenarkan bahwa pemeriksaan tengah dilakukan terhadap empat produsen utama beras, masing-masing berinisial WG, FSTJ, BPR, dan SUL/JG.

Menteri Amran menyatakan bahwa temuan ini bukan hanya pelanggaran biasa, melainkan persoalan serius yang menyangkut kepentingan publik. Ia menegaskan bahwa para produsen yang terbukti melakukan kecurangan harus ditindak tegas agar memberi efek jera.

“Mudah-mudahan ini diproses cepat. Kami sudah terima laporan tanggal 10 (Juli), dua hari yang lalu, itu telah dimulai pemeriksaan, kami berharap ini ditindak tegas,” ujar Amran saat berada di Makassar, Sabtu (12/7/2025), dikutip dari Antara.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ahli Ungkap Cara Gampang Bedakan Beras Oplosan dengan Kasat Mata

Ahli Ungkap Cara Gampang Bedakan Beras Oplosan dengan Kasat Mata

Bisnis | Selasa, 15 Juli 2025 | 16:17 WIB

Beras Oplosan Hal yang Lazim? Begini Penjelasan Bos Bapanas

Beras Oplosan Hal yang Lazim? Begini Penjelasan Bos Bapanas

Bisnis | Selasa, 15 Juli 2025 | 14:49 WIB

Deretan Merek Beras Oplosan Ternama dari 4 Produsen Besar

Deretan Merek Beras Oplosan Ternama dari 4 Produsen Besar

Bisnis | Senin, 14 Juli 2025 | 15:08 WIB

Terkini

Fantastis! Bupati Klaten Terima Setoran Pengusaha Tambang, Ratusan Juta Rupiah Mengalir

Fantastis! Bupati Klaten Terima Setoran Pengusaha Tambang, Ratusan Juta Rupiah Mengalir

Surakarta | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 07:32 WIB

Pakai Facebook dan Instagram untuk Bisnis? Meta Berpotensi Mengambil Data Situs Web

Pakai Facebook dan Instagram untuk Bisnis? Meta Berpotensi Mengambil Data Situs Web

Tekno | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 07:31 WIB

Kecocokan Zodiak Libra dengan Libra dalam Percintaan dan Karier, Benarkah Pasangan Ideal?

Kecocokan Zodiak Libra dengan Libra dalam Percintaan dan Karier, Benarkah Pasangan Ideal?

Lifestyle | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 07:17 WIB

Bupati Klaten Hamenang Diduga Terima Rp 2 Miliar Per Bulan dari Pengusaha Galian C

Bupati Klaten Hamenang Diduga Terima Rp 2 Miliar Per Bulan dari Pengusaha Galian C

News | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 07:02 WIB

PSIM Yogyakarta Tumbang di Kandang, Van Gastel: Kami Hanya Kurang Beruntung

PSIM Yogyakarta Tumbang di Kandang, Van Gastel: Kami Hanya Kurang Beruntung

Sulsel | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 07:02 WIB

Usai Terjaring OTT, KPK Tetapkan Bupati Klaten Hamenang sebagai Tersangka

Usai Terjaring OTT, KPK Tetapkan Bupati Klaten Hamenang sebagai Tersangka

Foto | Sabtu, 17 Oktober 2026 | 06:00 WIB

Kalahkan Persiba Tiga Gol, Kendal Tornado FC Ambil Alih Puncak Klasemen

Kalahkan Persiba Tiga Gol, Kendal Tornado FC Ambil Alih Puncak Klasemen

Jawa Tengah | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 23:33 WIB

Menggambar Bukan Sekadar Bermain, Ini Manfaatnya untuk Imajinasi Anak

Menggambar Bukan Sekadar Bermain, Ini Manfaatnya untuk Imajinasi Anak

Lifestyle | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 23:26 WIB

Mahasiswa Malaysia Pelajari Mitigasi Bencana dan Tata Air Pesisir Jakarta

Mahasiswa Malaysia Pelajari Mitigasi Bencana dan Tata Air Pesisir Jakarta

Jakarta | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 23:18 WIB

Memilih Produk Perawatan Pakaian, Apa yang Jadi Pertimbangan Konsumen?

Memilih Produk Perawatan Pakaian, Apa yang Jadi Pertimbangan Konsumen?

Lifestyle | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 23:05 WIB

×