Terungkap Alasan Mengejutkan di Balik Kerugian Maskapai China

Jum'at, 29 Agustus 2025 | 12:36 WIB
Terungkap Alasan Mengejutkan di Balik Kerugian Maskapai China
Pesawat terbang Air China. [Shutterstock]

Suara.com - Dua maskapai penerbangan terbesar China mengalami kerugian besar dan hal itu terjadi pada laporan keuangan pada semester pertama yang merugi.

Rinciannya, maskapai penerbangan utama Air China melaporkan kerugian bersih sebesar 252 juta dolar AS.

Angka ini 35 persen lebih rendah dibandingkan kerugian sebesar 2,78 miliar yuan pada tahun sebelumnya.

Dilansir CNN International, Jumat (29/8/2025), China Southern Airlines yang berbasis di Guangzhou juga mencatat kerugian sebesar 1,5 miliar yuan.

Adapun nilainya 64 persen lebih rendah dari kerugian 4,21 miliar yuan pada periode yang sama pada tahun 2024.

Sementara itu, maskapai penerbangan tersebut menyalahkan kerugian tersebut pada ketidakseimbangan pasokan dan permintaan.

Kereta api - ilustrasi aturan perjalanan di libur natal dan tahun baru sesuai inmendagri terbaru. (Pixabay/shutterbug)
Ilustrasi kereta api. (Pixabay/shutterbug)

Apalagi, semakin banyaknya wisatawan yang sensitif terhadap harga dan persaingan dari jaringan kereta api berkecepatan tinggi China yang terus berkembang.

Lalu, ketidakpastian geopolitik dan pemulihan yang lambat dalam lalu lintas internasional premium juga telah merugikan pendapatan.

Padahal, musim panas biasanya menawarkan kelegaan bagi maskapai penerbangan.

Baca Juga: Korean Air Borong 103 Pesawat Boeing, Nilainya Tembus Rp 586 Triliun

Sekolah memulai liburan pada awal Juli, mengawali musim puncak yang sering kali menghasilkan penjualan yang melimpah selama dua bulan.

Namun, per 24 Agustus, tarif rata-rata untuk tiket domestik dengan tanggal keberangkatan pada bulan Juli dan Agustus adalah 788 yuan, atau sekitar 110, dolar AD turun 3,7 persdn dari tahun lalu dan 10,6 persen di bawah level tahun 2019.

Lalu, kapasitas internasional telah kembali ke 93 persen dari tingkat sebelum COVID, tetapi analis mengatakan imbal hasil masih rendah.

Dalam hal ini, Li Hanming, analis penerbangan independen yang berbasis di AS, mengatakan paruh kedua tahun ini akan tetap menantang bagi tiga maskapai besar China.

"Masalah yang mendasarinya masih belum terselesaikan. Karena tidak adanya penerbangan antarbenua jarak jauh, sebagian besar ke Amerika Utara. Padahal, China menghadapi kelebihan pasokan yang signifikan dan persaingan yang ketat pada penerbangan domestik dan internasional jarak pendek intra-APAC," katanya.

Sementara maskapai global telah kembali meraih profitabilitas, tiga maskapai besar China masih merugi. Sehingga mereka menjadi yang tertinggal dalam pemulihan pasca-COVID.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI

Ingin dapat update berita terbaru langsung di browser Anda?