- IHSG anjlok tajam hingga 1,53 persen, atau turun 121,59 poin, dan bertengger di level 7.830.
- Founder Stocknow Hendra Wardana menilai pelemahan IHSG kali ini mencerminkan rapuhnya psikologis pelaku pasar terhadap isu politik dan keamanan domestik.
- Pemerintah berjanji akan terus memastikan berbagai program ekonomi berjalan sesuai rencana, terlepas dari gejolak yang terjadi di lapangan.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri akhir pekan dengan performa yang sangat mengecewakan. Pada penutupan perdagangan Jumat (29/8/2025), IHSG anjlok tajam hingga 1,53 persen, atau turun 121,59 poin, dan bertengger di level 7.830.
Angka ini jauh di bawah level pembukaan hari ini yang sempat menyentuh 7.899. Bahkan, IHSG juga tidak mampu mendekati level tertinggi harian di 7.913 dan sempat menyentuh level terendah di 7.765.
Penurunan signifikan ini menghapus seluruh kenaikan yang terjadi di awal pekan. Performa buruk ini juga menjadi sinyal negatif bagi investor. Level 7.830 menunjukkan bahwa IHSG kini berada jauh di bawah rekor tertinggi dalam 52 minggu terakhir, yaitu 8.022.
Kekhawatiran investor terhadap kondisi politik dan keamanan disinyalir kuat menjadi biang keroknya. Aksi unjuk rasa sepanjang pekan ini disebut-sebut para analis menjadi sentimen negatif.
Founder Stocknow Hendra Wardana menilai pelemahan IHSG kali ini mencerminkan rapuhnya psikologis pelaku pasar terhadap isu politik dan keamanan domestik. Aksi massa yang merebak di Jakarta dan sejumlah daerah usai insiden tewasnya pengemudi ojek online di Pejompongan menjadi pemicu utama investor menahan diri.
“Begitu muncul potensi risiko keamanan, investor asing maupun domestik cenderung menunggu, bahkan melepas sebagian portofolio untuk menjaga likuiditas,” ujar Hendra dalam risetnya.
Menurut Hendra, kondisi ini diperparah oleh respons pemerintah yang dinilai belum memberi sinyal stabilitas. Langkah mengimbau anggota DPR untuk bekerja dari rumah (WFH) justru memunculkan kesan bahwa pemerintah menjauh dari aspirasi publik.
Ketidakpastian ini tidak hanya berdampak di pasar modal, tetapi juga menjadi sorotan internasional. Investor global memantau erat perkembangan situasi, yang akhirnya memperburuk aksi jual di bursa.
“Persepsi pasar terhadap stabilitas sering kali lebih kuat daripada fakta di lapangan, dan itu yang menekan IHSG,” jelas Hendra.
Baca Juga: Ada Rentetan Demo, Kemenko Ekonomi: Yang Penting Damai, Jangan Sampai Bikin Investor Kabur
Sementara itu Sekretaris Kemenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso mengatakan jatuhnya IHSG merupakan hal yang wajar, dia menilai hal itu hanya respons jangka pendek. Fundamental ekonomi Indonesia, menurutnya, masih sangat kuat.
"Kita berharap kondisi bisa segera membaik agar stimulus ekonomi yang sudah digelontorkan dapat memberi dampak positif terhadap pertumbuhan kuartal III-2025. Target kita kuartal ini harus lebih tinggi, waktunya tinggal sebulan lagi," jelas Susiwijono di Kantornya, Jumat (29/8/2025).
Pemerintah berjanji akan terus memastikan berbagai program ekonomi berjalan sesuai rencana, terlepas dari gejolak yang terjadi di lapangan. Stimulus fiskal, belanja negara, hingga program prioritas akan tetap digulirkan agar target pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 tercapai.
Susiwijono menegaskan, pemerintah tidak ingin gejolak sosial ini berlarut-larut hingga mengganggu roda perekonomian nasional yang sudah mulai membaik. Stabilitas politik dan keamanan menjadi modal utama agar program-program ekonomi dapat berjalan efektif, dan pada akhirnya, mendatangkan manfaat bagi seluruh masyarakat.