- OJK minta investor tidak panik setelah saham perbankan rontok pada hari ini.
- OJK yakin anjloknya saham perbankan hanya sementara.
- Saham beberapa bank utama di Indonesia anjlok pada Selasa.
Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta investor jangan panik ketika saham-saham di perbankan rontok di pasar modal, setelah Presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk mencopot Sri Mulyani Indrawati dari jabatan Menteri Keuangan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae mengatakan pelemahan saham perbankan yang rontok hanya bersifat sementara.
"Jadi lihat fundamentalnya. Jangan pergerakan dalam short term. Kalau fluktuasi kan persepsi itu bisa berubah. Hari ini ada gangguan, besok tidak, dan sebagainya," katanya saat ditemui di Hotel JW Marriot, Jakarta, Selasa (9/9/2025).
Menurut dia, saham perbankan yang rontok ini tentu ada masalah sentimen negatif yang bisa dipengaruhi dalam negeri maupun luar negeri, termasuk gejolak politik yang sempat terjadi di Indonesia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan pada akhir perdagangan Selasa (9/9/2025). IHSG terkoreksi 138,24 poin atau 1,78 persen ke level 7.628,60. Beberapa saham perbankan ikut andil membuat IHSG ambruk.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk ditutup di level Rp 3.790 per lembar, turun 2,82 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya. BBRI sempat menyentuh level tertinggi Rp 3.890 sebelum melemah menjelang penutupan.
Lalu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk ditutup pada level Rp 4.310, melemah cukup dalam 4,01 persen. Padahal sebelumnya, BMRI sempat menguat ke level Rp 4.480 sebelum berbalik arah.
Disusul PT Bank Negara Indonesia Tbk juga terkoreksi ke level Rp 4.080, turun 2,39 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.
Tidak hanya itu, saham PT Bank Central Asia (BBCA) ditutup anjlok hingga 2,27 persen di posisi 7.525 per saham. Sepanjang tahun ini, saham BCA terbesar itu telah anjlok 22,22 persen.
Menurut Dian, kondisi perbankan di Indonesia masih cukup kuat dan menarik untuk investasi. Untuk itu, para investor tidak perlu panik jika ada saham yang mengalami pelemahan.
"Tapi yang paling penting adalah sebagai pengawas saya ingin confirm kepada investor bahwa tidak ada bermasalah. Bank kita itu secara fundamental kuat, sehingga investor tidak usah worry," bebernya.
Dian menambahkan bahwa perbankan Indonesia pada umumnya memiliki fundamental yang sangat kuat, yang didorong dengan kebijakan pemerintah dalam menjaga kecukupan modal di perbankan.
"Investor tidak harus melihatnya jangka pendek. Ia harus melihat jangka pendek, jangka medium dan long term," tutup Dian.