Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.790.000
Beli Rp2.665.000
IHSG 6.127,381
LQ45 611,168
Srikehati 300,000
JII 381,954
USD/IDR 17.878

Drama Saham DADA: Dari Terbang 1500 Persen ke ARB Berjamaah, Apa Penyebabnya?

M Nurhadi

Senin, 13 Oktober 2025 | 19:31 WIB
Drama Saham DADA: Dari Terbang 1500 Persen ke ARB Berjamaah, Apa Penyebabnya?
Ilustrasi IHSG

Suara.com - Harga saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) terus menyajikan drama ekstrem di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Setelah mencatatkan kenaikan fantastis hingga ribuan persen dalam kurun waktu singkat, saham emiten properti ini kini terperosok dalam jurang Auto Rejection Bawah (ARB) selama dua hari berturut-turut.

Volatilitas super tinggi ini dipicu oleh dua faktor kontradiktif: keputusan regulator yang menguntungkan dan serangkaian rumor akuisisi bombastis.

Pada penutupan perdagangan Senin (13/10/2025), saham DADA ambruk 14,47% atau batas maksimal ARB, menetap di level Rp130 per unit.

Nilai transaksi hari itu tercatat mencapai Rp13,63 miliar. Kondisi ini diperburuk dengan adanya antrean jual (di kolom offer) yang mencapai 6,93 juta lot, atau setara dengan nilai Rp90,12 miliar, menandakan derasnya tekanan jual yang belum terserap oleh pasar. Kapitalisasi pasar (market cap) DADA saat ini berada di angka Rp966 miliar.

Katalis Utama: Bebas dari Jerat Papan Pemantauan Khusus

Aksi jual masif yang terjadi saat ini merupakan koreksi tajam setelah DADA sempat mencapai puncak harga di level Rp240 per unit pada Jumat (10/10) pekan lalu.

Puncak euforia tersebut terjadi tak lama setelah BEI mengumumkan pencabutan status DADA dari Papan Pemantauan Khusus atau skema Full Call Auction (FCA).

Sebelumnya, DADA terperangkap di papan FCA selama berbulan-bulan akibat dua kondisi fundamental yang mengkhawatirkan: harga rata-rata sahamnya yang bertahan di bawah Rp51 dan likuiditas yang sangat rendah (nilai transaksi harian rata-rata di bawah Rp5 juta).

Saham DADA bahkan sempat terpuruk hingga menyentuh Rp4 per unit pada Maret-April 2024. Keluarnya DADA dari papan pengawasan ini mengembalikan kepercayaan pasar terhadap likuiditasnya dan memicu rally yang membuat kinerja saham DADA meroket hingga 1.528% sepanjang tahun 2025.

Rumor Akuisisi Raksasa Memicu Lonjakan Harga Gila

Lonjakan harga yang mendahului ARB dipicu oleh spekulasi pasar yang kencang berhembus. Rumor paling panas menyebutkan adanya ketertarikan dari investor global sekelas The Vanguard Group dari Amerika Serikat (AS) untuk menanamkan modal di DADA.

Tidak hanya itu, muncul pula kabar burung mengenai rencana akuisisi strategis atau backdoor listing oleh perusahaan properti raksasa dari Jepang, seperti Mitsubishi Estate dan Kajima Corporation.

Kabar-kabar yang beredar di sejumlah media online ini, meskipun tidak berdasar, sukses memicu spekulasi liar, bahkan memproyeksikan harga saham DADA berpotensi melesat hingga Rp230.000 per saham jika akuisisi besar benar-benar terealisasi. 

Lonjakan harga yang didorong spekulasi ini meningkatkan kewaspadaan para analis.

Mereka mengingatkan bahwa rally harga yang terlalu cepat dan tidak didukung oleh fakta material resmi dari perusahaan berisiko diikuti oleh koreksi yang sama besarnya, seperti yang terlihat dalam dua hari terakhir.

Manajemen DADA sendiri telah mengambil sikap resmi.

Melalui keterbukaan informasi pada 30 September 2025, Perseroan menegaskan bahwa mereka tidak memiliki informasi atau fakta material yang belum diungkap ke publik terkait dengan volatilitas harga saham yang terjadi.

Hal ini menguatkan bahwa gejolak harga fantastis yang terjadi setelahnya murni didorong oleh rumor spekulatif di kalangan pelaku pasar. 

Di tengah lonjakan harga yang eksplosif, data bursa juga mengungkap adanya aktivitas penjualan signifikan dari pemegang saham utama. PT Karya Permata Inovasi Indonesia secara aktif melepas kepemilikannya di DADA dalam 21 kali kesempatan sepanjang Juli hingga 29 September 2025.

Aksi jual ini menyebabkan kepemilikan Karya Permata menyusut dari 65,96% menjadi 58,57%, sebuah sinyal yang perlu dicermati investor di tengah rumor masuknya pemodal baru.

Secara fundamental, beberapa pihak menilai DADA masih memiliki valuasi yang rendah (undervalued), dengan harga saham yang dianggap masih di bawah nilai buku.

Meskipun demikian, potensi pertumbuhan signifikan yang diproyeksikan (seperti target Rp14.000) sangat bergantung pada kemampuan manajemen memperbaiki kinerja keuangan dan merealisasikan mitra strategis, bukan semata-mata pada rumor yang belum terkonfirmasi.

Kontributor : Rizqi Amalia

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sempat ke Level Tertinggi, IHSG Akhirnya Meloyo Karena Sentimen AS-China

Sempat ke Level Tertinggi, IHSG Akhirnya Meloyo Karena Sentimen AS-China

Bisnis | Senin, 13 Oktober 2025 | 16:59 WIB

Akuisisi Tambang di Australia, Begini Nasib Saham Bumi Resources (BUMI)

Akuisisi Tambang di Australia, Begini Nasib Saham Bumi Resources (BUMI)

Bisnis | Senin, 13 Oktober 2025 | 16:45 WIB

Proyek Rp65 Triliun Aguan Mendadak Kehilangan Status Strategis, Saham PANI Anjlok 1.100 Poin

Proyek Rp65 Triliun Aguan Mendadak Kehilangan Status Strategis, Saham PANI Anjlok 1.100 Poin

Bisnis | Senin, 13 Oktober 2025 | 15:43 WIB

Jaya Real Property (JRPT) Siapkan Dana Rp 100 Miliar untuk Buyback Saham

Jaya Real Property (JRPT) Siapkan Dana Rp 100 Miliar untuk Buyback Saham

Bisnis | Senin, 13 Oktober 2025 | 13:08 WIB

IHSG Menguat Tipis di Sesi I, Tarif Trump ke China Jadi Pemicu

IHSG Menguat Tipis di Sesi I, Tarif Trump ke China Jadi Pemicu

Bisnis | Senin, 13 Oktober 2025 | 12:45 WIB

CBRE Punya Hubungan dengan Emiten RAJA? Ini Penjelasan dan Klarifikasinya

CBRE Punya Hubungan dengan Emiten RAJA? Ini Penjelasan dan Klarifikasinya

Bisnis | Senin, 13 Oktober 2025 | 11:30 WIB

Terkini

Dolar 'Cekik' UMKM: Harga Kedelai Tembus Rp545 Ribu, Perajin Tahu Tempe Terpaksa 'Sunat' Ukuran

Dolar 'Cekik' UMKM: Harga Kedelai Tembus Rp545 Ribu, Perajin Tahu Tempe Terpaksa 'Sunat' Ukuran

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 20:00 WIB

Putra SBY Jadi Bos Komite Kereta Cepat, Purbaya, Rosan hingga Nusron Wahid Jadi Anak Buah

Putra SBY Jadi Bos Komite Kereta Cepat, Purbaya, Rosan hingga Nusron Wahid Jadi Anak Buah

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 17:45 WIB

Influencer hingga Selebgram Tak Bisa Lagi Nikmati Pajak UMKM 0,5%

Influencer hingga Selebgram Tak Bisa Lagi Nikmati Pajak UMKM 0,5%

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 17:18 WIB

Aturan Pajak Purbaya Makin Ketat, PP Baru Siap Kuras Kantong UMKM Beromzet Miliaran

Aturan Pajak Purbaya Makin Ketat, PP Baru Siap Kuras Kantong UMKM Beromzet Miliaran

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:49 WIB

Tok! Pemerintah Coret Influencer dan Selebgram dari Daftar PPh Final UMKM 0,5 Persen

Tok! Pemerintah Coret Influencer dan Selebgram dari Daftar PPh Final UMKM 0,5 Persen

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:15 WIB

Rupiah Terus Terpuruk, Djarot PDIP: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar tapi Harga Sembako Melambung Tinggi!

Rupiah Terus Terpuruk, Djarot PDIP: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar tapi Harga Sembako Melambung Tinggi!

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 14:28 WIB

BTN Kucurkan Kredit Rp1,5 Triliun ke Pindad, Sokong Produksi Maung MV3 Hingga Amunisi

BTN Kucurkan Kredit Rp1,5 Triliun ke Pindad, Sokong Produksi Maung MV3 Hingga Amunisi

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:55 WIB

Rupiah Sekarat Menuju Rp18.000: Kebijakan BI Dinilai Terlambat Jinakkan Bom Waktu Fiskal dan Global

Rupiah Sekarat Menuju Rp18.000: Kebijakan BI Dinilai Terlambat Jinakkan Bom Waktu Fiskal dan Global

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:54 WIB

Sindir Jakarta Sibuk Urus IHSG, Andi Widjajanto: Di Jogja Kami Mikir Republik!

Sindir Jakarta Sibuk Urus IHSG, Andi Widjajanto: Di Jogja Kami Mikir Republik!

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:38 WIB

Harga Kakao Melonjak Tajam Efek Selat Hormuz Ditutup, Kemendag Rilis Patokan Baru

Harga Kakao Melonjak Tajam Efek Selat Hormuz Ditutup, Kemendag Rilis Patokan Baru

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:16 WIB