- Kementerian PU mengimbau pengemudi, khususnya angkutan barang, tidak melintasi Jembatan Bailey Sumatera melebihi batas muatan.
- Jembatan Bailey bersifat sementara dan krusial menjaga konektivitas serta distribusi logistik wilayah terdampak bencana pasca 18 Januari 2026.
- Kendaraan ODOL berisiko merusak struktur jembatan darurat, sehingga kepatuhan tonase demi keselamatan bersama sangat ditekankan.
Salah satu akses vital yang kini diandalkan masyarakat adalah Jembatan Bailey Krueng Beutong. Jembatan tersebut telah difungsionalkan sejak 9 Januari 2026.
![Ilustrasi jembatan bailey. [Gemini AI]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/18/11164-jembatan-bailey.jpg)
Jembatan Bailey Krueng Beutong memiliki panjang 30 meter dan lebar 4,2 meter.
Kapasitas beban maksimalnya mencapai 20 ton, serta diperuntukkan bagi kendaraan ringan, kendaraan darurat, dan logistik terbatas.
Selain itu, Jembatan Bailey di lokasi lain seperti Krueng Tingkem dan Teupin Mane juga merupakan tipe jembatan rangka baja modular yang bersifat sementara atau semi permanen.
Seluruh jembatan Bailey disebut telah melalui pengujian teknis.
Uji beban dilakukan setelah proses perakitan di lapangan untuk memastikan jembatan layak digunakan. Pengujian difokuskan pada kekuatan sambungan panel dan kekakuan rangka.
Selama masa pemulihan, Kementerian PU juga menerapkan pengaturan lalu lintas di sejumlah titik.
Skema yang diberlakukan di antaranya sistem buka-tutup hingga pembatasan jenis kendaraan demi menjaga keamanan dan kelancaran arus lalu lintas.
Baca Juga: Kementerian PU Rilis Portal Data Real Time Penanganan Bencana Sumatera