Murka Purbaya ke Perusahaan China Pengemplang Pajak: Puluhan Tahun Kita Dihina dan Diremehkan

Dicky Prastya Suara.Com
Kamis, 22 Januari 2026 | 10:47 WIB
Murka Purbaya ke Perusahaan China Pengemplang Pajak: Puluhan Tahun Kita Dihina dan Diremehkan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa usai ditemui dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Januari 2026 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis (8/1/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]
Baca 10 detik
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menemukan dua perusahaan baja Tiongkok tidak membayar pajak selama puluhan tahun.
  • Menkeu Purbaya berencana mengunjungi perusahaan tersebut untuk meluruskan anggapan bahwa pemerintah mudah disuap.
  • Perusahaan asing tersebut diduga meremehkan otoritas Indonesia sambil mengancam pengusaha lokal yang taat pajak.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa jengkel setelah menemukan ada dua perusahaan baja asal China yang tak bayar pajak dan bisa beroperasi puluhan tahun di Indonesia.

Menkeu Purbaya menegaskan bakal mendatangi perusahaan China pengemplang pajak itu dalam waktu dekat. Ia kesal karena mereka seolah menganggap Pemerintah Indonesia gampang dibayar.

"Yang satu sudah cukup lama beroperasi di sini, dan mereka akan beroperasi seperti itu, dengan anggapan Pemerintah Indonesia, Pajak (DJP), Bea Cukai, (Kementerian) Keuangan, korup. Sehingga bisa dibayar. Sehingga mereka bisa melakukan praktik seperti itu, enggak bayar PPN segala macam," kata Purbaya usai ditemui di kawasan kantor Kemenkeu, dikutip Kamis (22/1/2026).

Adapun maksud Purbaya mendatangi dua perusahaan pengemplang pajak itu untuk membuktikan bahwa anggapan mereka salah.

"Itu anggapan yang salah. Saya mau tunjukin ke mereka bahwa mereka salah," lanjutnya.

Purbaya mengungkapkan kalau perusahaan China itu terbukti tak bayar pajak selama puluhan tahun di Indonesia. Hal tersebut dinilainya sudah meremehkan Pemerintah.

"Karena sudah terbukti, sudah puluhan tahun dan kita dihina dan diremehkan seperti itu. Bagaimana perusahaan asing bisa beroperasi seperti itu?" imbuhnya.

"Bangsa apa? Bangsa yang bisa dikendalikan dengan uang gitu saja. Enak saja tuh," katanya lagi.

Bendahara Negara mengungkapkan kalau perusahaan itu nyatanya memiliki banyak tempat mulai dari Jakarta, Surabaya, hingga Medan.

Baca Juga: 5 Drama China Romance Dibintangi Chen Xingxu, Terbaru My Page in the 90s

Ia merasa kesal karena perusahaan asing bisa diam-diam beroperasi di Indonesia. Berbanding terbalik dengan pengusaha lokal yang sudah bayar pajak, mereka malah terancam.

"Jadi mereka menguasai ini loh. Di sini loh. Diam-diam loh. Perusahaan-perusahaan China yang ilegal diam-diam bermain di sini dan menguasai pasar domestik. Perusahaan domestik, yang bayar pajak sesuai aturan, terancam. Bahkan banyak yang tutup. Masa itu mau kita biarkan? Jadi ini ancaman serius ya," paparnya.

Lebih lanjut Purbaya bakal membereskan perusahaan China pengemplang pajak tersebut dalam waktu dekat.

"Kalau dia bilang, perusahaan China, dia bilang, 'Indonesia enggak akan berubah, lebih baik saya bayar di belakang. Akan lebih murah dibanding dengan kalau saya bayar legal atau secara sah'. Itu kan pernyataan yang kurang ajar. Kalau iya mereka dengar, nanti kita beresin," tegasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Film Makoto Shinkai Mana yang Menggambarkan Kisah Cintamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Jadi Superhero, Kamu Paling Mirip Siapa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Destinasi Liburan Mana yang Paling Cocok dengan Karakter Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Merek Sepatu Apa yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Karakter Utama di Drama Can This Love be Translated?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Menu Kopi Mana yang "Kamu Banget"?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Tipe Kepribadian MBTI Apa Sih Sebenarnya?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Zodiak Paling Cocok Jadi Jodohmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tua Usia Kulitmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Mobil yang Cocok untuk Introvert, Ambivert dan Ekstrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Detail Sejarah Isra Miraj?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI