- Nilai tukar rupiah menguat 36 poin menjadi Rp16.784 per dolar AS pada Senin, 26 Januari 2026.
- Penguatan rupiah dipicu data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lemah dari ekspektasi pasar sebelumnya.
- Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar spot, obligasi, dan NDF.
Suara.com - Nilai tukar rupiah pada pembukaan Senin, 26 Januari 2026, bergerak menguat 36 poin atau 0,21 persen menjadi Rp 16.784 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.820 per dolar AS
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah diiringi rilis data ekonomi AS yang lemah.
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang kembali mengalami sell-off menyusul rilis data ekonomi AS yang lebih lemah," ujarnya seperti dilansir Antara.
![Ilustrasi Rupiah. [Pixabay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/01/36302-ilustrasi-rupiah.jpg)
Tercatat, Purchasing Managers' Index (PMI) AS mencapai 51,9, kurang dari perkiraan yang sebesar 52.
Adapun ekspektasi inflasi konsumen AS sebesar 4 persen, di bawah dugaan 4,2 persen.
Di samping itu, penguatan rupiah turut didukung komitmen Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah yang memberikan sentimen positif.
"BI umumnya intervensi di spot, obligasi, dan non deliverable forward (NDF)," ungkap Lukman.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa pihaknya siap untuk membawa rupiah menguat dengan melakukan intervensi dalam jumlah besar melalui pasar offshore NDF, DNDF (domestic non-delivery forward), serta pasar spot.
Bank Indonesia meyakini ke depan akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat berkat dukungan imbal hasil yang menarik, inflasi rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Rupiah Berhasil Tundukan Dolar AS Hari, Tembus Level Rp 16.820/USD
Penguatan rupiah juga akan didukung cadangan devisa (cadev) yang dinilai lebih dari cukup untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kurs rupiah diprediksi berkisar Rp 16.750 - Rp 16.900 per dolar AS