- Harga minyak capai tertinggi empat bulan pada Kamis 29 Januari akibat ketegangan AS-Iran dan gangguan pasokan AS.
- Kenaikan dipicu kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik imbas rencana militer AS dan penolakan dialog Iran.
- Faktor lain pendorong harga adalah pelemahan dolar AS dan penurunan signifikan stok minyak mentah Amerika Serikat.
Suara.com - Harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi dalam empat bulan terakhir pada sesi perdagangan Asia, Kamis 29 Januari 2026.
Tren kenaikan harga dipicu oleh memanasnya hubungan AS-Iran, yang memaksa para pelaku pasar memperhitungkan risiko geopolitik ke dalam harga komoditas.
Harga minyak terus menguat akibat gangguan pasokan di Amerika Serikat yang dipicu oleh cuaca ekstrem di berbagai wilayah.
Selain itu, melemahnya nilai tukar dolar AS turut memberikan sentimen positif bagi harga minyak, terutama setelah Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga tetap sesuai prediksi pasar.
Mengutip dari Investing.com, harga minyak Brent berjangka untuk pengiriman Maret naik 0,8 persen menjadi 68,96 dolar AS per barel pada pukul 20:38 ET (08:38 WIB), sementara minyak mentah West Texas Intermediate naik 0,9 persen menjadi 63,75 dolar AS per barel.
Laporan pada Rabu malam mengungkapkan bahwa Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan langkah militer baru terhadap Iran, termasuk kemungkinan serangan yang menargetkan para pemimpin negara tersebut serta infrastruktur nuklirnya.
![Iluatrasi badai musim dingin. [Unsplash]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/27/15665-iluatrasi-badai-musim-dingin.jpg)
Sebelumnya, Trump sempat mendesak Iran untuk kembali berdialog dan menghentikan ambisi nuklirnya, namun Teheran menolak keras ajakan tersebut dan justru mengancam akan membalas.
Ketegangan ini semakin memuncak menyusul tibanya kapal-kapal perang AS di Timur Tengah, ditambah pernyataan Trump baru-baru ini bahwa satu armada tambahan sedang menuju ke sana.
Akibat meningkatnya risiko geopolitik ini, para pelaku pasar mulai memperhitungkan premi risiko yang lebih tinggi pada harga minyak mentah karena kekhawatiran akan terganggunya produksi minyak Iran jika konflik pecah.
Baca Juga: Pasar Minyak Rabu: Brent Turun, WTI Merangkak Naik
Harga minyak mencatat kenaikan signifikan pekan ini seiring badai musim dingin yang membawa salju lebat dan suhu ekstrem ke sebagian besar wilayah Amerika Serikat, hingga melumpuhkan produksi minyak mentah.
Sejumlah laporan menunjukkan bahwa produksi minyak berkurang setidaknya 2 juta barel per hari dalam sepekan terakhir, sementara aktivitas ekspor dari kawasan Teluk juga ikut terganggu.
Gangguan produksi yang berkepanjangan ini diperkirakan akan memperketat pasokan minyak AS. Tren pengetatan tersebut sejatinya sudah mulai terlihat dari penurunan stok minyak AS yang melampaui prediksi.
Berdasarkan data pemerintah pada hari Rabu, cadangan minyak AS menyusut hingga 2,295 juta barel untuk pekan yang berakhir 23 Januari, angka yang jauh lebih besar dibandingkan perkiraan pasar sebesar 0,2 juta barel.