- Serangan gabungan AS dan Israel ke Iran memicu balasan rudal Teheran yang mengganggu jalur ekspor minyak vital global.
- Kawasan energi dunia terpengaruh, menyebabkan harga minyak Brent diprediksi naik tajam saat pasar dibuka Senin.
- Meskipun Selat Hormuz belum ditutup, ancaman membuat perusahaan menangguhkan pengiriman dan meningkatkan tarif pengiriman.
Suara.com - Serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, yang dibalas dengan serangan rudal Teheran ke berbagai titik di kawasan Teluk, telah mengganggu jalur ekspor minyak paling vital di planet ini.
Kawasan yang terdampak merupakan jantung produksi energi dunia yang menyumbang sekitar 20% dari total pasokan minyak global.
Meskipun skala kerusakan fisik masih terus dievaluasi, ketidakpastian dan risiko keamanan yang tinggi sudah cukup untuk melumpuhkan arus distribusi energi dari Timur Tengah.
Harga Minyak Brent Bersiap Lonjak di Awal Pekan
Ron Busso dalam laporan analisisnya via Reuters memperkirakan, investor dan pelaku pasar memprediksi kenaikan harga minyak yang sangat tajam saat perdagangan dibuka pada Senin pagi besok.
Sebelumnya, harga minyak mentah patokan Brent telah merangkak naik ke level $70 per barel—titik tertinggi sejak Agustus 2025—seiring meningkatnya tensi militer.
"Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa operasi militer ini bertujuan untuk menghapus ancaman keamanan bagi Amerika Serikat serta memberikan kesempatan bagi rakyat Iran untuk mengganti kepemimpinan mereka," ujarnya dikutip pada Minggu (1/3/2026).
Namun, langkah ini membawa dampak ekonomi yang nyata:
- Ledakan di Kawasan: Laporan ledakan muncul dari Uni Emirat Arab dan Kuwait.
- Intersepsi Rudal: Qatar, eksportir LNG terbesar kedua dunia, melaporkan berhasil mencegat rudal yang diarahkan ke wilayahnya.
- Infrastruktur Iran: Ledakan terdengar di dekat Pulau Kharg, terminal yang menangani 90% ekspor minyak Iran, meski Teheran dilaporkan telah memindahkan sebagian besar cadangannya ke kapal tanker beberapa hari sebelumnya.
Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai penutupan fisik di Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui hampir 20 juta barel minyak per hari. Namun, ancaman saja sudah cukup untuk menghentikan operasional perdagangan.
Baca Juga: Iran Klaim 200 Tentara Musuh Tewas, Ali Khamenei Masih Hidup
Sejumlah perusahaan minyak raksasa dan rumah dagang dilaporkan telah menangguhkan pengiriman melalui selat tersebut selama beberapa hari ke depan.
Risiko kapal tanker terjebak atau menjadi sasaran serangan membuat biaya pengiriman (freight rates) melonjak drastis. Tarif kapal tanker raksasa dari Timur Tengah ke China dilaporkan telah meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak awal tahun ini.
Di tengah krisis ini, pasar minyak global sebenarnya berada dalam posisi yang relatif cukup pasokan berkat peningkatan produksi dari Amerika Serikat, Brasil, dan Kanada dalam beberapa tahun terakhir.
"Arab Saudi, sebagai eksportir utama, juga tidak tinggal diam. Berdasarkan data Kpler, ekspor minyak Saudi pada Februari diprediksi melampaui 7 juta barel per hari, level tertinggi sejak April 2023," ujar Ron.
Selain itu, aliansi OPEC+ (termasuk Rusia) dijadwalkan bertemu pada hari Minggu ini untuk menyepakati peningkatan produksi guna menstabilkan pasar.
Prediksi ke Depan: Perang Berkepanjangan?
Skala serangan AS-Israel serta retorika keras yang dilontarkan Donald Trump mengindikasikan bahwa Washington sedang bersiap untuk kampanye militer berkelanjutan guna melemahkan kepemimpinan Iran secara permanen.