- Harga minyak turun ke USD 102 akibat lonjakan stok AS 6,6 juta barel di luar ekspektasi pasar.
- Pasar waspadai keputusan suku bunga The Fed di tengah tekanan inflasi akibat konflik Iran.
- Analis prediksi harga minyak tetap di atas USD 100/barel hingga pertengahan 2026 akibat perang.
Suara.com - Laju harga minyak mentah mulai kehilangan tenaga pada awal perdagangan di Asia, Rabu (18/3/2026). Setelah sempat terbang tinggi awal pekan ini, emas hitam terkoreksi akibat rilis data stok minyak Amerika Serikat (AS) yang melonjak di luar ekspektasi, serta sikap wait and see pasar menanti titah Federal Reserve (The Fed).
Menukil data Investing, harga minyak Brent berjangka terpangkas 1 persen ke level USD 102,43 per barel. Setali tiga uang, West Texas Intermediate (WTI) merosot 1,2 persen menjadi USD 94,14 per barel pada pukul 21:25 ET.
Penurunan ini dipicu oleh laporan American Petroleum Institute (API) yang mencatat stok minyak AS melonjak drastis hingga 6,60 juta barel pada pekan lalu. Angka ini memukul prediksi pasar yang justru mengharapkan adanya defisit sebesar 0,6 juta barel.
"Peningkatan stok minyak merupakan sinyal bearish bagi harga karena menunjukkan kondisi pasar yang mulai jenuh pasokan di tengah tingginya harga global," tulis laporan pasar tersebut.
Investor kini memasang mode waspada menjelang keputusan rapat Federal Reserve. Meski suku bunga diperkirakan tetap, pasar mencemaskan sinyal kebijakan moneter ketat akibat tekanan inflasi yang dipicu lonjakan harga energi dari konflik Timur Tengah. Tak hanya The Fed, sejumlah bank sentral utama dunia juga dijadwalkan menggelar pertemuan pekan ini untuk merespons kondisi ekonomi global yang fluktuatif.
Meski terkoreksi tipis, harga minyak secara fundamental masih bertengger di level tinggi. Perang antara AS-Israel dengan Iran yang telah memasuki minggu ketiga belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi.
Kematian Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani, dalam serangan Israel kian memanaskan situasi. Sejak perang pecah pada Februari 2026, harga Brent telah meroket hingga 40 persen.
Sentimen sedikit melandai setelah Uni Emirat Arab (UEA) dikabarkan bergabung dengan AS untuk mengamankan Selat Hormuz pasca pemblokiran total oleh Iran yang memutus 20 persen pasokan global.
Namun, Analis OCBC memprediksi harga minyak akan sulit turun dari level USD 100 per barel hingga pertengahan 2026. Hal ini mengingat minimnya peluang perdamaian dalam waktu dekat yang dapat menjamin kelancaran pasokan energi dunia.