Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.825.000
Beli Rp2.700.000
IHSG 6.858,899
LQ45 669,842
Srikehati 328,644
JII 449,514
USD/IDR 17.509

Rupiah Sudah Tembus Rp17.000, Bukan Tanda Ekonomi Indonesia Memburuk

Dythia Novianty | Rina Anggraeni | Suara.com

Selasa, 31 Maret 2026 | 08:10 WIB
Rupiah Sudah Tembus Rp17.000, Bukan Tanda Ekonomi Indonesia Memburuk
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. [Antara]
  • Pelemahan rupiah hingga mendekati Rp17.000/USD lebih disebabkan oleh tekanan pasar global, bukan fundamental ekonomi Indonesia.
  • Tekanan global meliputi konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, inflasi, dan penguatan dolar sebagai aset aman.
  • Rupiah relatif lebih tahan dibanding mata uang Asia lain, namun pelemahan jangka pendek diperkirakan berlanjut terbatas.

Suara.com - Nilai tukar rupiah yang mendekati bahkan sempat menembus level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai belum mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang memburuk.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, mengatakan pelemahan rupiah lebih tepat dibaca sebagai respons pasar terhadap tekanan global yang sedang meningkat, bukan semata-mata karena faktor domestik.

“Rupiah yang mendekati atau sempat menembus 17.000 tidak otomatis berarti ekonomi Indonesia dipandang sangat buruk oleh investor. Ini lebih sebagai alarm bahwa pasar sedang sangat sensitif terhadap berbagai faktor eksternal,” ujarnya saat dihubungi Suara.com, Selasa (31/3/2026).

Ia menjelaskan, sejumlah faktor global yang memicu tekanan tersebut antara lain memanasnya konflik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak yang mendekati 110 dolar AS per barel, meningkatnya kekhawatiran inflasi global, serta menguatnya dolar AS sebagai aset safe haven.

Tekanan ini, kata dia, tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga menyebar ke berbagai negara di Asia. Bahkan, pelemahan rupiah tergolong lebih ringan dibandingkan mata uang lain di kawasan.

“Per 30 Maret 2026, kurs rupiah berada di level 16.992 per dolar AS dan sejak konflik meletus melemah sekitar 1,8 persen. Namun pelemahannya masih lebih ringan dibandingkan won Korea, rupee India, peso Filipina, dan baht Thailand,” jelasnya.

Harga minyak dunia terus naik akibat krisis di Teluk. Amerika Serikat mendesak negara-negara sekutunya dan China untuk mengerahkan kapal perang untuk membuka Selat Hormuz. [Suara.com/Iqbal]
Harga minyak dunia terus naik akibat krisis di Teluk. Amerika Serikat mendesak negara-negara sekutunya dan China untuk mengerahkan kapal perang untuk membuka Selat Hormuz. [Suara.com/Iqbal]

Rizal menilai, ketahanan rupiah juga ditopang oleh perbaikan terms of trade Indonesia, terutama dari kenaikan harga komoditas seperti crude palm oil (CPO).

Meski demikian, ia tidak menampik adanya kehati-hatian investor terhadap Indonesia. Hal ini tercermin dari arus keluar dana asing di pasar saham serta tekanan yang masih terjadi di pasar obligasi, di tengah pandangan negatif dari sejumlah lembaga pemeringkat.

Dalam jangka pendek, Rizal memperkirakan, tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut. Faktor utama yang perlu dicermati adalah belum meredanya ketegangan geopolitik serta belum pulihnya arus energi global, khususnya melalui Selat Hormuz.

“Selama belum ada penurunan ketegangan yang nyata dan arus energi belum pulih, harga energi yang tinggi dan imbal hasil Amerika Serikat yang tetap tinggi akan terus menopang dolar AS,” katanya.

Ia menambahkan, potensi penguatan data ekonomi Amerika Serikat juga dapat memperpanjang tekanan terhadap rupiah, terutama jika pasar kembali mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga di negara tersebut.

Kendati demikian, Rizal menegaskan, pelemahan rupiah tidak akan berlangsung tanpa batas. Dalam waktu dekat, nilai tukar diperkirakan bergerak terbatas.

“Rupiah kemungkinan akan bergerak dalam rentang 16.900 hingga 17.000 per dolar AS dalam jangka pendek,” pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengapa Kritik Ekonom Disebut 'Noise' Oleh Prabowo dan Purbaya?

Mengapa Kritik Ekonom Disebut 'Noise' Oleh Prabowo dan Purbaya?

Bisnis | Selasa, 17 Maret 2026 | 12:54 WIB

Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.975

Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.975

Bisnis | Selasa, 17 Maret 2026 | 09:42 WIB

BI Beberkan Kerugian jika Masyarakat Tukar Uang Lebaran Ditempat Tidak Resmi

BI Beberkan Kerugian jika Masyarakat Tukar Uang Lebaran Ditempat Tidak Resmi

Bisnis | Selasa, 17 Maret 2026 | 08:41 WIB

Bank Indonesia Diramal Tahan Suku Bunga, Stabilitas Rupiah Jadi Pertimbangan Utama

Bank Indonesia Diramal Tahan Suku Bunga, Stabilitas Rupiah Jadi Pertimbangan Utama

Bisnis | Selasa, 17 Maret 2026 | 07:31 WIB

Rupiah Tembus Rp 17 Ribu, Purbaya Sewot: Tanya BI, Kalau Saya Ngomong Nanti Bahaya

Rupiah Tembus Rp 17 Ribu, Purbaya Sewot: Tanya BI, Kalau Saya Ngomong Nanti Bahaya

Bisnis | Selasa, 17 Maret 2026 | 07:00 WIB

Rupiah Kian Kritis, Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS

Rupiah Kian Kritis, Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS

Bisnis | Senin, 16 Maret 2026 | 16:21 WIB

Terkini

Kemendag Bakal Wajibkan Marketplace Transparan soal Biaya Admin Seller

Kemendag Bakal Wajibkan Marketplace Transparan soal Biaya Admin Seller

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 15:19 WIB

Sejumlah SPBU Vivo di Jabodetabek Tutup, Netizen Heboh Keluhkan Isu Pembatasan Kuota

Sejumlah SPBU Vivo di Jabodetabek Tutup, Netizen Heboh Keluhkan Isu Pembatasan Kuota

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:33 WIB

Cara Membersihkan Nama di SLIK OJK, Ini Panduannya agar Pengajuan Pinjaman Disetujui

Cara Membersihkan Nama di SLIK OJK, Ini Panduannya agar Pengajuan Pinjaman Disetujui

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 14:01 WIB

BI Buka Suara Menkeu Purbaya Mau Turun Tangan Stabilkan Rupiah

BI Buka Suara Menkeu Purbaya Mau Turun Tangan Stabilkan Rupiah

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 13:52 WIB

Pertamina Goes to Campus 2026 Siap Jelajahi Kampus di Indonesia

Pertamina Goes to Campus 2026 Siap Jelajahi Kampus di Indonesia

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 13:43 WIB

Tembus Top 6 Dunia, Startup Binaan Pertamina Bawa Nama Indonesia di Ajang Inovasi Sosial Global

Tembus Top 6 Dunia, Startup Binaan Pertamina Bawa Nama Indonesia di Ajang Inovasi Sosial Global

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 13:37 WIB

6 Emiten Keluar dari MSCI, OJK Ungkap Valuasi Saham RI di Bawah Asia

6 Emiten Keluar dari MSCI, OJK Ungkap Valuasi Saham RI di Bawah Asia

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 13:25 WIB

Harga Cabai Naik, Kemendag Masukkan Cabai ke Daftar Komoditas Prioritas Pengendalian Inflasi

Harga Cabai Naik, Kemendag Masukkan Cabai ke Daftar Komoditas Prioritas Pengendalian Inflasi

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 13:14 WIB

Jangan Hanya Kejar Pertumbuhan, Industri Kripto Kini Dituntut Transparan

Jangan Hanya Kejar Pertumbuhan, Industri Kripto Kini Dituntut Transparan

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 13:13 WIB

Kredibiltas Jadi Bukti, Presiden RI Buat Rupiah Menguat ke Rp6.500 Per Dolar AS

Kredibiltas Jadi Bukti, Presiden RI Buat Rupiah Menguat ke Rp6.500 Per Dolar AS

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2026 | 13:12 WIB